Menampilkan senyum canggung, Krist langsung masuk ke dalam apartement Singto dan menutupnya lagi. Dia sangat malu karena karyawan tadi seolah sedang menggoda dirinya. Lagipula juga apa-apaan dengan Singto itu, bisa-bisanya menitipkan salep pereda nyeri pada orang lain. Kenapa nggak memberikan pada dirinya sendiri.
Dengan berjalan pelan-pelan Krist kembali menuju kamar mandi untuk memakai salep tersebut, karena memang dia sangat membutuhkan hal ini agar dapat mengurangi rasa nyeri dan luka di bagian belakangnya. Sepanjang dia mengoleskan salep tersebut, Krist menyumpah serapahi Singto karena menurutnya Singtolah yang bersalah dalam hal ini, tanpa dia sadari kalau awalnya Krist dahulu yang memancing Singto.
"Sialan emang si Singto. Awas aja aku bakal balas semua ini, dia kira enak apa ditusuk," gerutu Krist yang masih saja kesal dengan Singto.
Baru akan mengumpati Singto kembali, harus diurungkannya karena ponselnya sedang berdering dan menampilkan nama temannya di sana. Krist memang menemukan ponselnya berada di meja kecil di samping ranjang. Setidaknya dengan ponsel ini dia bisa meminta bantuan sekarang. Dan untungnya tanpa dirinya menelfon lebih dulu kini bantuan sudah ada.
"Halo, Krist. Kau ini di mana sekarang, kau tahu tadi dosen pembimbingmu menanyakan dirimu padaku karena katanya kau membuat janji temu hari ini. Tapi, malah kau tidak datang...." Belum sempat Krist buka suara, dirinya sudah mendapatkan ceramah siang hari yang begitu panjang sekarang.
"Oi Bass, kalau ceramah nanti saja. Aku sedang butuh bantuanmu sekarang," ucap Krist yang enggan menjawab apa yang dikatakn oleh temannya.
"Butuh bantuan apa sih, kau di mana sekarang?" tanya Bass dengan nada tinggi hingga membuat Krist yang mendengarnya langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya itu.
"Jangan banyak tanya dulu, nanti aku akan menceritakannya. Sekarang jemput dulu, aku akan mengirim lokasiku padamu."
"Em em baiklah, kirimkan sekarang juga. Aku akan menjemputmu," jawab Bass di sebrang telefon.
"Baik, Bass mungilku." Setelahnya Krist langsung memutuskan sambungan telefon diantara mereka berdua karena dia tahu Bass pasti akan mengamuk, jika dirinya mengejek dia.
Setelah mengirimkan lokasinya pada Bass, Krist melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan menuju meja makan untuk memakan sarapan yang sudah menjelang siang ini. Mubadzir juga kalau tidak di makan. Hitung-hitung untuk mengisi tenaganya saja setelah semalam dia bermain panas dengan Singto.
Krist memakan dengan santai makanan di depannya karena sembari menunggu temannya yang sedang menjemputnya saat ini. Setelah selesai dengan makanannya dia membawanya menuju dapur mini dan meletakkan piring kotor di wastafel itu tanpa ada niatan untuk mencucinya.
Ting tong
Senyuman di wajah Krist mengembang karena akhirnya yang sedari tadi dirinya tunggu akhirnya tiba juga. "Agak cepat ya si Bass, masa dia pakai kecepatan turbo," gumam Krist sambil kakinya menuju pintu untuk membukakan temannya.
"Cepet banget, Bass ...." Krist menggantung ucapannya karena pada kenyataannya yang sedang berdiri didepannya saat ini bukanlah Bass yang sedari tadi dirinya tunggu. Dia menelan ludahnya ngeri karena sepertinya akan terjadi salah paham lagi yang bisa menentukan nasibnya di masa depan. Membayangkannya saja sudah membuat Krist takut sendiri.
***
Disisi lain ada seseorang yang tersenyum tipis melihat tingkah Krist yang terlihat menggemaskan dalam benaknya. Namun, sedetik kemudian senyum itu sirna karena ada seseorang yang masuk dalam ruangannya.
"Ada apa?" tanya Singto yang langsung to the point pada orang yang masuk.
"Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Anda, Tuan."
Singto mengernyitkan keningnya karena seingatnya dia sudah tidak ada janji dengan seseorang setelah meeting yang baru selesai setengah jam yang lalu. "Siapa namanya, Fah?"
"Beliau tidak ingin menyebutkan namanya, Tuan. Namun, memaksa ingin bertemu dengan Anda. Katanya dia datang jauh-jauh dari Kanada."
Ucapan Fah barusan yang merupakan sekretaris Singto sukses membuat dirinya mematung ditempat. Dia sekarang tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Fah. Namun, belum sempat dirinya memperbolehkan wanita yang merupakan tamunya masuk itu. Tamu tak diundangnya sudah masuk tanpa ijin.
"Hola Singto," sapa wanita tersebut dengan senyuman lebar di bibir yang dipoles dengan lipstick warna merah merona bagaikan sehabis makan ayah mentah.
"Fah, kamu keluar dan jangan biarkan orang masuk ke ruangan saya. Dan reschedule meeting setelah ini menjadi habis makan siang."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."
Singto hanya menganggukkan kepalanya menanggapi sekretarisnya yang undur diri. Kini dirinya hanya berdua saja dengan wanita yang datang tak diundang. Entah siapa wanita tersebut, hingga membuat seorang Singto meminta sekretarisnya untuk mereschedule jadwalnya.
Singto memperhatikan penampilan wanita yang kini sudah duduk di meja kerjanya, dia menelisik dari atas sampai bawah. "Untuk apa kau ke sini?"
"Tentu saja bertemu dengamu dong," jawab wanita tersebut dengan tangan lentiknya yang mengelus wajah tampan nan rupawan milik Singto.
.
.
Sudah lama kita tak bersua
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, baik itu vote atau komen.
See you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fiksi Penggemar(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
