Spectacular Gift

1.3K 171 18
                                        

Satu persatu tamu undangan meninggalkan acara tersebut, hingga kini hanya menyisakan keluarga inti dan beberapa orang di sana. Singto dengan santai duduk ditempatnya sambil meminum wine yang disajikan untuknya, sedangkan Krist yang tadi pagi kurang enak badan tak diperbolehkan untuk minum minuman yang mengandung alkohol, alhasil dia hanya bisa minum jus atau air putih.

Bass dan pasangannya mendekat ke tempat Singto dan Krist berada buat berpamitan. "Krist dan Phi Singto sekali lagi selamat buat pernikahan kalian, semoga cepet punya anak ya," goda Bass yang berakhir cekikikan sendiri. Namun, mendapat tatapan yang sangat tajam dari Krist.

"Sialan lu Bass, gua laki-laki mana bisa hamil," amuk Krist sedangkan Singto hanya tersenyum tipis menanggapai ungkapan teman dari pasangannya.

"Lah, jaman sekarang teknologi udah maju bego. Tapi, kalau tanpa teknologi lu bisa hamil si bagus hahaha."

"Sssttt udah, jangan goda Krist gitu Ay," lerai pasangan yang mendampingi Krist. yang mana itu adalah Godt yang juga teman dari Singto.

"Hehe iya Phi Godt, habisnya Krist makin gemesin kalo kesel gitu."

"Ck, awas lu Bass."

"Maafkan Bass na Krist, kami ijin pulang dulu. Terima kasih udah ngundang kami ke sini, pesta dan jamuannya sangat memuaskan. Sekali lagi selamat buat pernikahan kalian, semoga menjadi keluarga yang selalu dilimpahi kebahagiaan. Ini kado dari kami," ucap Godt memberikan bingkisan ukuran sedang.

"Terima kasih Phi Godt, harusnya kamu tak perlu repot-repot membawa ini."

"Btw itu gua yang milih, Krist. kenapa makasihnya cuma sama Phi Godt doang," kesal Bass yang seolah kehadirannya tak dianggap oleh Krist yang sialnya itu adalah sahabatnya.

Krist memutar bola matanya, "Iya-iya, makasih Bass mungilku atas kadonya."

"Hiyaaaaa Krist," teriak Bass. Dia sungguh tak menyukai kalau dirinya dipanggil seperti itu oleh Krist.

Krist menjulurkan lidahnya menggoda Bass, dan tanpa sadar bersembunyi dibalik Singto untuk mencari perlindungan. Godt dan Singto yang melihat dua anak itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Apa mereka selalu seperti ini ya?" tanya Singto pada Godt melihat Krist dan Bass masih saling mengejar sekarang.

"Haha iya, mereka memang seperti ini kalau aku sedang bersama mereka..." Godt sedikit menjeda ucapannya dan kini menoleh pada Singto yang berdiri di sampingnya. "Aku nggak nyangka kau bakal nikah sama Krist, Sing."

Singto yang mendengar itu langsung menoleh dan tersenyum miring. "Entahlah, semua terjadi begitu tiba-tiba. Aku bahkan masih nggak menyangka kalau sekarang hidupku sudah terikat dengan seseorang."

Godt menepuk pundak Singto. " Calm bro, Krist anak yang baik kok setauku. Yah, meskipun malamnya sering main ke club. Nanti juga dia berubah kalau sama lu."

Singto mengendikan bahunya. "Lu pacaran sama temen Krist?" tanya Singto yang mengalihkan topik.

"Bisa dibilang begitu, baru jalan 1 bulan sih. Gua aja kaget pas diajak ke sini, dan ternyata ini nikahan lu sama Krist. Pantes dua minggu yang lalu lu kenal Krist waktu di club kita ternyata mau nikah to kalian," goda Godt menaik turunkan alisnya. Pasalnya Godt 2 minggu yang lalu belum kenal dengan Krist karena Bass belum memperkenalkan mereka berdua.

"Nggak sengaja waktu itu, dunia kita keknya sempit banget ya."

"Udahlah jalani aja yang ada, tapi berarti lu udah move on nih dari Isabel?" tanya Godt karena dia juga tahu kalau cinta pertama Singto itu Isabel yang tiba-tiba menghilang.

"Terlalu terjebak sama masa lalu juga nggak enak, Godt. Yang gua fikirin sekarang cuma mau buat bokap seneng. Makanya gua nikah sama Krist, dan sebisa mungkin gua bakal pertahanin ini."

Tanpa mereka sadari Krist dan Bass sudah berada di belakang mereka. "Siapa Isabel?" tanya Bass yang penasaran karena dia tahu kalau Krist tak akan ingin bertanya pada Singto. Makanya dia mewakilkan diri untuk bertanya.

"Tak ada, Ay. Hanya temen lama kita kok," jawab Godt mencoba mengalihkan perhatian.

Bass dan Krist hanya menganggukkan kepalanya. Dan setelahnya Bass dan Godt benar-benar pergi dari sana karena malam yang semakin larut, menyisakan Singto dan Krist yang kini mereka menghampiri orang tua mereka yang masih mengobrol diujung.

"Pho, Mae sama Papa nggak pengen istirahat ini udah larut banget loh," ucap Krist sambil duduk disamping Nan yang masih asik nyemil. Singto juga duduk di kursi yang masih kosong di sana.

"Mumpung kalian di sini, kami pengen kasih hadiah," timpal Boonrod ketika melihat anak dan menantunya menghampiri mereka.

"Hadiah apa memangnya Pa?" tanya Singto penasaran.

Jack yang membawa hadiah tersebut langsung mengeluarkannya dan meletakannya di meja. Krist yang memang penasaran langsung membuka kotak kecil itu, dan hanya ada satu benda di sana. Singto yang ada di sampingnya juga melihat.

"Ini kunci apa, Pa?" tanya Singto. Krist menganggukkan kepalanya penasaran juga dengan kunci ittu.

"Oh itu kunci rumah buat kalian berdua, ini hadiah buat pernikahan kalian. Kalau tinggal di apartement-nya Singto kayaknya akan lebih nyaman kalau di rumah saja. Dan kami juga sudah memesankan kalian tiket dan hotel buat honeymoon ke Korea," ucap Nan menjelaskan kebingungan yang terlihat jelas di wajah dua anak adam yang baru saja resmi menjadi pasangan tadi sore.

"Pa, harusnya kalian tak perlu repot-repot dengan ini. Rumah terlalu berlebihan deh, kami bisa kok tinggal di apartemen." Krist menjadi sungkan sendiri, meskipun dia tak suka dengan pernikahan ini. Namun, hadiah yang diberikan oleh orang tua mereka terlalu berlebihan karena menurutnya berarti orang tua mereka akan semakin berharap kalau rumah tangganya dengan Singto akan berjalan lancar. Padahal tak ada yang tahu akan masa depan, bisa saja mereka berpisah kalau tak cocok. Meskipun, tadi Singto sudah menawari untuk mencoba pernikahan ini. Tapi, Krist tetap tak yakin dengan hal itu.

"Iya, Pa, Pho dan Mae. Kami tak bisa menerima hadiah ini." Singto setuju dengan ucapan Krist. Harusnya mereka yang membahagiakan orang tua, bukan malah membebani seperti ini.

"Singto dan Krist, kami senang kalian mau menuruti keinginan kami buat menerima perjodohan ini. Dan hadiah ini tak akan sebanding dengan apa yang kalian lakukan. Terima saja hadiah ini karena Pho yakin suatu saat kalian akan membutuhkan rumah ini."

"Benar, kalau tak ingin menghuni rumah itu sekarang tak apa. Kalian bisa menempatinya nanti kalau memang kalian sudah ingin, Nak." Boonrod menambahi perkataan Jack untuk meyakinkan anak mereka agar menerima pemberian itu.

Krist menatap Singto meminta persetujuan, melihat itu Singto hanya bisa menganggukkan kepalanya. Menolak juga sangat susah karena orang tua mereka tipe orang yang keras kepala dan tak bisa dibantah. Terbukti dengan adanya mereka berdua yang tiba-tiba menikah seperti saat ini.

.

.

.

Ada yang mau ikut honeymoon?

Jangan lupa buat vote and komen ya.

See you next chapter. 

Connection Of Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang