Mengumpulkan niat serta tekad untuk membicarakan hal ini bukanlah hal yang mudah untuk Krist, dia sampai berpikir hingga berbulan-bulan hingga berani bertanya tentang hal tersebut pada Singto. Ada rasa kecewa mengingat Singto pernah meminta cerai darinya. Apalagi disaat dirinya mengandung sekarang ini.
Krist menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, “Jujur aku nggak pernah mengalami lupa ingatan, namun ketika aku terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku dan mengingat pesan yang terakhir kamu kirim. Rasanya begitu sakit dihatiku, hingga aku memutuskan untuk berpura-pura lupa ingatan. Aku ingin melupakan semua rasa sakit hatiku dan melihat reaksimu setelah mengetahui aku lupa ingatan. Namun, siapa sangka malah kamu bersikap seolah tidak ada apa-apa sebelumnya.”
Seketika Singto gelagapan sendiri, “Aku… bisa jelasin semuanya Sayang…”
Rasa makanan yang awalnya terasa sangat enak entah mengapa menjadi hambar sekarang, mungkin karena pembahasan mereka saat ini yang cukup sensitif.
“Mau jelasin apa lagi? Aku udah tahu semuanya loh, kamu cemburu kan karena melihat Phi Plustor di apartement kita waktu itu. Padahal itu tuh kejadiannya nggak sengaja tahu, tapi kamu sudah mengambil keputusan secara sepihak.” Pandangan Krist meredup merasakan betapa sesak dadanya sekarang mengungkit kejadian yang sangat ingin dia lupakan. Sejak saat itu pula Krist tak ingin bertemu dengan Plustor kembali. Meskipun berulang kali Plustor menghubungi dirinya baik lewat chat maupun media sosialnya. Krist akan langsung memblokirnya, meskipun begitu Plustor tak pernah ingin mundur.
Hingga entah bagaimana bisa tadi siang tiba-tiba ada Plustor di hadapannya, tentu saja Krist langsung histeris dibuatnya. Dirinya benar-benar tak ingin bertemu kembali dengannya.
“Oke, maaf karena aku mengambil tindakan ceroboh saat itu. Saat itu aku diliputi emosi hingga tidak bisa berpikir dengan jernih. Maaf sudah buat kamu kecewa, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku ya,” pinta Singto. Dia tak masalah dengan Krist yang berpura-pura karena Krist melakukan itu juga akibat tindakan ceroboh yang dia lakukan.
Krist tersenyum miris mendengar permintaan maaf dari Singto. “Kamu tahu nggak Phi, saat aku di nyatakan hamil. Dokter juga mendiagnosa yang lain juga, hingga menyuruh aku untuk menggugurkannya. Tapi, aku pikir bayi ini nggak berdosa. Makanya aku nggak mau menuruti saran dari dokter. Setiap hari aku harus minum obat untuk keamanannya dan juga aku, mungkin jika aku egois pada diriku sendiri aku akan memilih untuk menggugurkannya saat itu. Bahkan disaat aku mengalami kecelakaan hingga cukup parah, dia masih bertahan di perutku. Bukankah dia sangat kuat!” Air mata Krist sudah berjatuhan sedari tadi mengungkapkan segala hal yang selama ini dia pendam seorang diri.
Rasa bersalah semakin mengerogoti relung hati Singto. Ternyata seberat itu yang dijalani oleh Krist, ditambah masalah kesalahpahaman diantara mereka berdua. Dirinya merasa sangat gagal menjadi pasangan Krist karena masih banyak hal yang dia nggak ketahui hingga detik ini.
“Maaf… maafkan aku Sayang…,” seberapa banyak Singto mengucapkan kalimat maaf. Tidak akan bisa membuat Krist melupakan segala hal yang sudah terjadi.
“Bass menceritakan semuanya … yang ingin aku tanyakan dari awal. Kenapa nggak tanya langsung sama aku?” Bass memang selama ini mengetahui kalau Krist tidak lupa ingatan. Saat Krist memberitahu hal itu pada Bass, temannya juga berbicara jujur tentang Singto yang meminta bantuannya untuk bertemu dengan Plustor. Itulah mengapa temannya itu sering kali mendesak Krist untuk berterus terang dengan Singto agar semua masalah bisa cepat selesai. Namun, tentunya tidak semudah itu membujuk Krist untuk jujur. Meskipun dia sudah mempunyai rasa dengan Singto, tetapi rasa gengsinya juga masih tinggi.
Singto hanya bisa diam tak tahu harus bicara apa karena disini tindakannya dulu yang salah hingga membuat semuanya menjadi rumit hingga berbulan-bulan lamanya.
Hanya ada suara televisi yang masih menyala sedari tadi yang membuat suasana tak begitu sunyi. Namun, sebenarnya dalam benak mereka berdua sedang saling berdebat dengan diri mereka sendiri.
“Kenapa nggak dijawab Phi? Apa memang kamu nggak bisa jatuh cinta sama aku, hingga saat ada kesempatan kamu langsung mengajak cerai. Apa hanya karena orang tua kita yang menjodohkan dan aku sedang mengandung hingga buat kamu tak jadi menggugat cerai saat aku habis kecelakaan kala itu??” Krist benar-benar menumpahkan semua hal yang mengganjal di dalam hatinya. Meskipun beberapa bulan ini Singto sudah bersikap sangat baik dengannya. Namun, rasa curiga Krist tak bisa hilang begitu saja. Bahkan dia pikir selama ini Singto bertahan yak arena dirinya sedang mengandung darah dagingnya saja.
“Heh! Bukan seperti itu. Aku memang jatuh cinta sama kamu Krist! Makanya aku nggak ingin cerai, saat itu aku sedang emosi banget hingga kirim pesan tanpa pikir panjang. Bahkan saat kamu bilang ingatan aku langsung senang karena kamu nggak akan kembali ke Plustor, ini posisinya aku belum tahu semua ya. Dan saat tahu kalau itu hanya jebakan Plustor aku makin gak bisa lepasin kamu, yak arena emang udah sejatuh itu aku sama kamu, Sayang. Tolong jangan berpikiran yang enggak-enggak ya, nanti kamu setres loh. Kasian baby yang ada di dalam.” Dengan panjang lebar Singto menjelaskannya pada Krist, dia khawatir kalau pembicaraan berat mereka kali ini akan berakibat fatal pada Krist dan janinnya karena memang dokter menyarankan untuk Krist jangan sampai setres.
“Tuh, kamu aja khawatirnya sama baby aja. Nggak sama aku huwaaaa.” Tangisan Krist semakin menjadi-jadi. Padahal Singto sudah menjelaskannya sejelas-jelasnya menurut dia.
“Sayang… aku bukan hanya khawatirin baby tapi kamu juga. Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk kamu. Tapi, perlu kamu ketahui rasa sayang dan cintaku sama kamu udah dibatas aku nggak bakalan bisa hidup tanpa kamu. Aku tahu kita menikah karena perjodohan, namun aku juga menerimanya karena aku memang sayang sama kamu dari awal.” Singto tahu Krist sedang sangat sensitif kali ini, namun kalau penjelasannya masih tidak bisa dipahami oleh pasangannya. Entah harus bagaimana lagi dia menjelaskannya.
Krist bungkam mencerna semua ucapan Singto, ada sedikit rasa percaya. Meskipun rasa curiganya juga tak hilang sepenuhnya. Sedangkan Singto was-was sendiri, takut kalau Krist akan mengajaknya cerai.
PRAAAANGGG
Krist langsung menghambur ke dalam pelukan Singto karena bunyi tersebut. Terdengar bunyi pecahan kaca rumah mereka sangat keras, hingga membangunkan pelayan serta tukang kebun yang ada di rumah mereka.
“Ada apa lagi ini? Masa iya terror lagi?” tanya Singto yang tak habis pikir.
“Bukannya kamu udah penjarain mereka ya?” tanya Krist yang takut sendiri.
“Iya, udah kok. Berarti ada dalangnya kalau gitu, enggak cuma mereka berdua aja.” Asumsi Singto semakin membuat Krist ketakutan, sebenarnya siapa yang sangat membencinya hingga rela melakukan hal-hal tak penting seperti ini?
“Ini Tuan ada kertasnya,” ucap bodyguard yang berjaga karena memang bukan area depan yang dilepar, melainkan area samping rumah makanya mereka lolos dari penjagaan bodyguard.
Singto langsung membukanya dengan Krist yang penasaran ancaman apa lagi yang ditulis sekarang.
“BUKAN BERARTI ANAK BUAHKU SUDAH KAU TANGKAP, HIDUPMU AKAN TENANG KRIST. TUNGGU SAJA PEMBELASANKU SELANJUTNYA. DAN KALI INI AKU NGGAK MAIN-MAIN,”
Singto sangat murka membacanya, “Cek seluruh cctv yang ada di komplek pada jam ini, aku tak akan membiarkan mereka berbuat lebih jahat lagi.” Dia langsung menyuruh bodyguard untuk menyelidikinya sekarang juga karena menurutnya ini sudah sangat keterlaluan.
Singto mendekap dengan begitu erat badan gemetaran Krist sembari membisikkan, “Tenang ya, kamu bakal aman kok.”
.
.
.
.
Akhirnya setelah sekian purnama Krist jujur juga
Jangan lupa tinggalin jejak ya, baik vote ataupun komen. Dukungan kalian sangat berharga.
See you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fiksi Penggemar(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
