Cukup lama Krist dan Plustor mengobrol satu sama lain, dan Plustor juga mengantarkan Krist pulang. Awalnya Krist menolak tawaran itu, namun sayangnya kakak tingkatnya it uterus memaksa Krist agar menerima tawarannya. Akhirnya Krist yang tak tega menerima itu.
Krist melambaikan tangannya pada Plustor ketika dirinya sudah sampai dan Plustor akan pulang. Setelah mobil Plustor sudah tak terlihat oleh pandangannya, dia berjalan masuk ke dalam untuk menuju apartement-nya.
“Halo Pak,” sapa Krist pada satpam yang berjaga.
“Baru pulang Tuan Krist?”
“Iya, Pak. Cuma makan siang aja sih diluar, saya duluan ke atas ya Pak.”
“Silahkan, Tuan.”
Krist mengumbar senyumnya dan masuk ke dalam, namun secara tiba-tiba kepalanya mendadak pusing hebat. Dia memegangi kepalanya dan mengerjapkan matanya berulang kali, berharap pandangannya akan jernih. Namun, dia melihat di depannya semua barang seolah berputar-putar. Hingga pada akhirnya Krist tak kuat menahannya dan jatuh pingsan di lobby apartement, dan itu membuat orang-orang yang melihat itu kaget.
“Tuan Krist…,” teriak satpam yang tadi disapa oleh Krist.
Resepsionis segera menelfon ambulance dan juga Singto sebagai wali dari Krist di sini. Tak lama ambulance datang membawa Krist ke rumah sakit yang untungnya hanya berjarak 10 menit dari apartement-nya. Suasana yang gaduh tadi, kini berangsur damai kembali setelah Krist di bawa pergi.
Sedangkan Singto yang menerima telefon itu tentu saja langsung panik, dia khawatir terjadi sesuatu dengan Krist. Pasalnya mereka dari kemarin saling diam satu sama lain.
“Fah, undurkan jadwal meetingku sore ini karena aku baru saja mendapat kabar kalau Krist masuk rumah sakit,” ucap Singto menghampiri meja Fah yang terletak di depan ruangannya.
“Eh, baik Tuan.”
Setelahnya Singto langsung menuju basement buat mengambil mobilnya. Pikirannya berkecamuk dan bingung sendiri kenapa Krist bisa masuk ke rumah sakit karena seingatnya Krist itu tahan banting. Kalau adu mulut dengannya saja, pasti kebanyakan dia yang menang.
Dengan langkah kaki tergesa-gesa dia masuk ke dalam dan langsung menuju ke UGD dan menanyakan pasien yang bernama Krist.
“Silahkan ada di sana, Tuan. Sedang diperiksa dokter tadi.”
“Terima kasih.” Setelahnya Singto menuju tirai diman Krist sedang diperiksa. Dan benar saja dokter habis meriksa Krist dan sedang mengobrol dengan Krist sekarang yang sudah bangun.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Singto menyela obrolan mereka tadi.
“Tuan Krist …,” belum sempat dokter tersebut menjawab sudah disela terlebih dahulu oleh Krist. “Hanya maghku saja yang kambuuh,” ucap Krist dan seketika dokter yang meriksa Krist melihat pasiennya dengan pandangan bertanya dan dahinya yang berkerut karena bukan itu seharusnya yang terjadi.
“Bukannya kamu rajin makan ya,” ucap Singto yang heran.
“Ya memang benar itu adanya, iyakan Dok?” tanya Krist meyakinkan Singto dengan meminta persetujuan dokter itu dan mengedipkan matanya sekali.
“Eh iya, Tuan. Dia memang sakit magh, dan magh bukan hanya karena telat makan. Namun, pola hidup seseorang juga berpengaruh.”
“Oh begitu ya, lalu apa Krist perlu dirawat, Dok?” tanya Singto.
“Tidak perlu, saya akan meresepkan obat dan nanti tolong tebus di farmasi ya.”
“Baik, Dok. Terima kasih sudah memeriksa pasangan saya.”
“Sama-sama, semoga pasangan Anda lekas sembuh dan tolong jangan biarkan dia beraktifitas berat untuk sekarang. Takutnya nanti dia bisa drop kembali,” ucap dokter tersebut dan setelahnya pergi dari sana.
Singto pergi dari sana untuk melunasi pembayaran dan sekalian menebus obat, meninggalkan Krist seorang diri yang hanya diam sembari mengelus perutnya. Tanpa sadar air matanya menetes, dia bingung harus bagaimana sekarang. Semua ini terjadi begitu saja dan secara tiba-tiba, bahkan Krist tidak tahu ini bisa terjadi.
Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin Krist tak ingin bertindak ceroboh seperti dulu. Hingga membuat dirinya berakhir seperti ini, membayangkan bagaimana hidupnya ke depan nanti membuat badan Krist bergetar. Bukan karena takut menghadapi semua ini, tapi dirinya merasa tidak pantas. Apakah ini karmanya karena dulu sering bermain dengan wanita? Kalau memang iya, Krist sangat-sangat menyesal sekarang.
Dia mengusap air matanya dengan kasar ketika mendengar ada langkah kaki yang mendekat dan membuka tirai tempatnya dirawat. Terlihat Singto datang membawa bingkisan obat yang habis ditebusnya tadi.
Singto sedikit terkejut mendapati mata merah Krist. “Kenapa menangis, apakah ada yang sakit lagi? apa perlu aku panggilkan dokter lagi?” tanya Singto duduk di kursi samping ranjang Krist.
Krist hanya bungkam dan menggelengkan kepalanya menjawab runtutan pertanyaan dari Singto. Tak mungkin juga Krist berbicara terus terang dengan Singto, dia belum siap untuk bercerita yang sebenarnya. Dan untuk sekarang mungkin hanya dirinya saja yang tahu akan hal ini.
“Baiklah, mau pulang sekarang atau masih ingin disini?”
“Pulang,” jawab Krist singkat dan mengubah posisinya menjadi duduk yang mana awalnya sedari tadi dia tiduran.
Singto menganggukkan kepalanya dan berniat menggandeng Krist, untuk berjaga-jaga kalau Krist jatuh. Namun, yang ada malah Krist menepis uluran bantuan Singto. “Aku bisa sendiri,” ucap Krist dan berjalan meninggalkan Singto yang mematung heran dengan sifat Krist yang berubah 180 derajat.
Karena biasanya kalau Krist menolak bantuannya itu akan disertai omelan yang memekakkan telinga, namun ini hanya dengan wajah datar dan kata yang sangat singkat. Tak ingin berpikir buruk, Singto segera menyusul Krist yang sudah keluar dari ruangan UGD ini.
Sampai di apartement, Krist langsung naik ke menuju kamar dan menguncinya tak memperbolehkan Singto buat masuk. Dan itu semakin membuat Singto merasa aneh karena kalau mereka berdebatpun Singto masih diperbolehkan masuk ke dalam kamar karena mereka memang tidur dikamar yang sama.
“Krist, are u ok?” tanya Singto mengetuk pintu kamar itu.
“Iya,” teriak Krist dari dalam kamar.
Sedikit merasa lega karena Krist masih merespon pertanyaan yang dirinya ajukan. Mungkin dia sedang ingin istirahat, dan tak ingin diganggu oleh orang lain. Kalau begitu Singto akan membiarkannya, dia mengambil baju dijemuran dan menggantinya dengan pakaian olahraga. Mumpung ada waktu senggang dia ingin ke gym untuk berolahraga, sudah lama dirinya tak melatih otot-ototnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini. Kalau kembali ke kantor-pun tidak mungkin karena tadi dirinya sudah terlanjur bilang pada Fah kalau menjadwal ulang meetingnya. Sembari menunggu dirinya dibukakan kamar juga oleh Krist.
Sedangkan Krist di dalam kamar kembali menangis dengan menyembunyikan wajahnya di bantal untuk meredam tangisnya, yang khawatirnya terdengar sampai luar. Dirinya tak ingin Singto mendengar tangisannya karena kalau sampai itu terjadi, Singto pasti akan mengejek dirinya.
.
.
.
Kira-kira Krist kenapa?
Jangan lupa buat selalu ninggalin jejak ya, baik vote ataupun komen. Setidaknya itu menjadi semangat tersendiri buat lanjutin cerita ini hehe.
See you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
