Misunderstanding And The Past

1.5K 181 21
                                        

Ayo ramaikan chapter ini dengan apa yang ada di dalam benak kalian. Kalau ramai aku up lagi besok wkwk.

***

Krist mematung ditempatnya dengan raut wajah terkejutnya melihat seseorang yang sedang berkunjung ke apartement Singto. Sedangkan tamu yang datang itu juga sama terkejutnya mendapati Krist yang membuka pintu dan bukanlah Singto.

“Lho, Krist ngapain di sini”? tanya seorang tamu yang tidak pernah disangka oleh Krist sebelumnya.

“Em sa…saya.” Dia tergagap bingung harus menjawab bagaimana. Mana mungkin juga Krist menjawab kalau dirinya terdampar disini karena semalam habis bercinta dengan Singto. Itu akan membuat dirinya semakin dalam situasi yang sangat menyulitkan.

Tamu tersebut menunggu jawaban Krist dengan raut wajah yang sangat penasaran, tapi disisi lain hatinya dia juga merasa senang mendapati Krist di apartement anaknya. Ya, yang berkunjung saat ini adalah Boonrod yang merupakan papa dari Singto. Sungguh tidak pernah disangka bukan.

“Wajahmu kenapa Nak, apa kau berantem dengan Singto?” tanya Boonrod yang baru sadar akan wajah Krist yang memar.

Seketika Krist gelagapan sendiri mendengar itu. “Bukan kok, Paman. Ini karena orang lain dan Singto kebetulan menolong saya. Makanya saya ada di sini,” jawab Krist dengan senyuman canggungnya.

“Benar begitu? Kamu nggak usah ragu buat bilang sama Paman, Krist. Kalau memang ini penyebabnya adalah Singto. Paman akan memberikan pelajaran padanya.” Boonrod masih belum bisa percaya dengan jawaban dari Krist.

“Sungguh, Paman. Ini bukan perbuatan dari Singto. Saya justru berterimakasih padanya karena sudah menolong saya, entah akan jadi apa saya kalau tidak ada dia.” Krist berusaha meyakinkannya, meskipun dalam benaknya dia menyumpah serapahi Singto. Benar, Singto membantunya. Tapi, habis itu dia mengambil kesempatan dalam kesempitan yang membuat Krist kesusahan berjalan. Mengingat itu rasanya Krist ingin memotong burung Singto sekarang. Tapi, sayangnya dia harus menahan amarahnya karena orangnya tidak ada disini.

Boonrod yang mendengar itu menjadi lega. Setidaknya Singto bukan penyebab kekacaun ini. Dirinya tadi sempat berpikir kalau dua anak muda itu berantem karena tidak mau di jodohkan, namun untungnya apa yang ada di dalam benaknya tidak benar.

“Mari, masuk ke dalam Paman.” Krist mempersilahkan Boonrod untuk masuk dan memiringkan tubuhnya agar papa Singto bisa masuk ke dalam.

Boonrod tersenyum pada pria manis itu dan masuk ke dalam apartement anaknya dengan perasaan yang membuncah senang karena perjodohan yang dia dan Jack inginkan akan berhasil. Krist hanya bisa diam dan mengikuti masuk ke dalam. Dia langsung menuju dapur kecil yang ada di apartement ini, membuatkan teh untuk papa Singto yang baru datang.

“Silahkan diminum tehnya, Paman.” Krist menyajikannya dimeja depan Boonrod terduduk.

“Terimakasih, Krist. Saya merasa punya mantu sekarang.”

Mendengar itu sukses membuat Krist tersenyum canggung, dan wajahnya memerah karena malu. “Sial, kenapa aku bisa secara reflek melakukan ini,” umpat Krist dalam hatinya. Sekarang dia sedikit menyesal membuat teh itu karena dia merasa setuju dengan apa yang dirinya dengar barusan. Ah, entahlah pikiran Krist mendadak semakin kacau kalau sudah dalam kondisi yang tidak menguntungkan ini. Bagaimana mungkin dirinya tertangkap basah seperti ini.

“Lalu Singto ke mana? Kok kamu sendirian disini?”

“Dia tadi katanya ada rapat penting, Paman.”

“Oh begitu, Paman kira dia diapartement.”

Ting tong

Krist bingung harus menjawab apa, namun untungnya ada suara bel yang menyelamatkan dirinya sekarang. Seketika saja dia langsung merasa lega, “Maaf, Paman. Sepertinya itu teman saya karena saya tadi menghubunginya. Kalau begitu saya pamit dulu, maaf karena tidak bisa menunggu Singto pulang karena setelah ini saya ada janji temu dengan dosen pembimbing saya.”

“Oh begitu ya, ya sudah nggak apa-apa. Paman kira kamu akan disini sampai Singto pulang.”

“Maaf, Paman. Sayangnya saya tidak bisa. Saya pulang dulu ya, Paman.”

“Iya, Krist. Hati-hati dijalan dan jangan lupa obati lagi lukamu. Paman agak ngeri ngeliat memarnya.” Boonrod sampai merinding karena pipi Krist yang kiri memang sampai berwarna ungu.

“Hehe, iya Paman.” Setelahnya Krist langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari apartement Singto, dia berjalan cepat mengabaikan rasa yang masih sedikit nyeri dibawah sana, yang terpenting dirinya keluar dulu dari sini. Didepan dia sudah melihat wajah kesal Bass karena dia sudah memencet bel berulang kali, namun tak kunjung dibukakan karena Krist tadi sekalian berpamitan dengan papanya Singto.

“Sialan, lama sekali kau. Lagipula ini apartement siapa sih? Kok bisa lu ada disini. Krist jangan bilang lu peliharaan dari sugar daddy ya?” tanya Bass dengan matanya yang memicing ke arah Krist.

“Diamlah dulu, yang terpenting kita pergi dari sini dulu ah.” Krist mengucapkannya sambil menarik tangan Bass dan masuk ke dalam lift.

“Kau ini kenapa sih? kaya dikejar hantu aja,” ucap Bass heran melihat wajah Krist yang seperti itu.

Sedangkan Krist memilih mengambil udara sebanyak-banyaknya dan menyandarkan dirinya. Kini ada banyak hal yang ada didalam benaknya. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi dengan adanya pertemuan tak sangaja antara dirinya dan papa Singto.

“Krist!” teriak Bass yang kesal karena diabaikan.

“Apa sih, Bass.”

“Kenapa kau ada disini, kau dari tadi belum menjawab pertanyaanku. Bahkan didalam lift saja kau melamun, dan mengabaikan keberadaanku. Wah, rasanya aku menyesal menjemputmu ke sini.” Saat ini memang mereka sudah ada di basement menuju mobil Bass yang terparkir di sana.

“Bass, aku bingung sekarang harus bagaimana. Situasiku sangat membingungkan sekarang,” lirih Krist dengan pandangan kosongnya.

Bass yang melihat dan mendengarnya mengernyitkan dahinya heran. Pasalnya Krist bukan seperti sahabatnya yang biasa dirinya kenal sehari-hari. Biasanya Krist ini tipe orang yang sangat aktif, dan jarang sedih. Ini kali pertama dia melihat Krist yang seperti ini.

***

Sedangkan dilain tempat ada Singto yang masih bersama dengan wanita tak diundangnya yang berasal dari kanada. Situasinya terlalu sulit dijabarkan dengan kata-kata karena Singto hanya menatap datar lawan bicaranya.

“Buat apa bertemu denganku, aku tak pernah berharap kita bisa bertemu kembali Isabel.” Mungkin bagi orang yang sakit hati, perkataan Singto yang ini cukup tajam dan menyakitkan. Tapi, sayangnya itu tidak berlaku buat wanita yang bernama Isabel itu.

“Hahaha Phi kau sungguh lucu.” Isabel bukannya sakit hati malah tertawa.

“Ck, gila.” Gumam Singto sembari memutar bola matanya dengan malas.

“Phi, aku masih ingat betul. Aku berjanji pulang padamu setelah pendidikanku selesai.”

“Aku tak ingat, dan aku sudah menganggap kita tak ada hubungan karena memang kita tidak pernah mulai suatu hubungan, Isabel. Jadi, tolong jangan ganggu aku lagi mulai sekarang dan silahkan angkat kaki dari ruangan ini. Pekerjaanku sudah banyak, dan jangan menambah lagi.”

Isabel turun dari duduknya yang dimeja tadi, dan merapikan jas Singto yang masih rapi. “Oke, tapi aku akan kembali lagi nanti. Sampai jumpa Phi Sing.”

Setelahnya Singto bisa melihat kepergian Isabel dari ruangannya. Entahlah kedatangan Isabel dalam hidupnya yang secara tiba-tiba ini membuat dirinya agak merasa berbeda. Dia langsung menumpukkan kepalanya pada meja kerjanya. Kepalany mendadak terasa pening sekarang.

.
.
.

Kira-kira bagaimana nih dengan kelanjutan perjodohan mereka?

Jangan lupa buat selalu ninggalin jejak, baik itu vote ataupun komen.

See you next chapter.

Connection Of Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang