Wanita itu tersenyum miring ketika mendapat info dari anak buahnya tentang Krist. Akhirnya setelah beberapa hari memantau setelah teror malam-malam yang anak buahnya berikan, hari ini Krist keluar dari zona amannya.
Dia mendapat info kalau hari ini Krist akan pergi ke dokter tanpa dampingan dari Singto dan hanya pergi dengan satu bodyguard saja. Tentu saja ini kesempatan yang sangat bagus dan dirinya tak ingin menyia-nyiakannya.
Dengan begitu cepat dalam benak liciknya kini sudah tersusun berbagai rencana-rencana gila yang akan dia realisasikan.
Disisi lain kini Krist sedang duduk di ruang tunggu untuk menunggu namanya di panggil. Ada beberapa pasangan yang juga sedang mengantri saat ini. Dan hanya Krist yang sendirian disini, awalnya ingin mengajak mae-nya namun ketika tadi menghubunginya sang mae sedang ikut perjalanan bisnis pho-nya keluar kota. Jadi, akhirnya dia memilih sendiri saja. Sebenarnya dengan bodyguard, namun dia menyuruhnya untuk membelikan minum untuknya.
Alhasil Krist sendirian diantara pasangan lain. Wajah Krist memang terlihat datar dan seolah tak memikirkan hal yang ada disekitarnya, namun sebenarnya yang terjadi adalah dalam benaknya sangat berisik memikirkan berbagai hal. Dan entah mengapa dirinya merasa hari ini sangat cemas. Itu membuat kepalanya semakin pusing saat ini.
“Phi Krist! loh? Kamu sendirian aja Phi?” Krist sontak menoleh ke samping dan melihat Prim ada disampingnya.
“Iya, kamu kok di rumah sakit? Siapa yang sedang sakit?” tanya Krist yang heran sendiri tiba-tiba ada Prim.
“Papa masuk ke rumah sakit dua hari yang lalu karena kelelahan aja. Tadi aku nggak sengaja lihat Phi Krist sendirian di lorong ini, makanya aku nyamperin buat nyapa deh. Nggak sama suami kamu, Phi?” tanya Prim sambil celingukan mencari keberadaan Singto.
“Owalah, sampaikan salamku dengan papa kamu ya. Semoga beliau bisa segera sembuh seperti sedia kala. Aku kesini sama bodyguard dan kebetulan dia sedang beli minum.” Dengan senyuman tipis Krist menjawab pertanyaan yang diajukan oleh adek tingkatnya.
“Eh, ini aku ada minuman buat Phi Krist aja gapapa kok, wajah Phi udah pucat banget loh. Kebetulan ini belum aku minum, Phi.” Prim menyodorkan sebotol jus kemasan pada Krist.
Berhubung dia sangat haus, jadi Krist mau menerimanya. Baru saja mengulurkan tangannya ingin mengambil minuman itu dari tangan Prim. Namun, tiba-tiba bodyguardnya datang dan berkata, “Tuan, ini minuman pesanan Anda.”
“Oh, kamu udah balik,” ucap Krist beralih menerima minuman dari bodyguardnya. Dan tak jadi mengambil punya Prim. “Maaf ya, Prim. Itu kamu minum aja, makasih udah nawarin tadi.”
“Eh, iya gapapa kok Phi.”
“Krist Perawat Sangpotirat, silahkan masuk!” namanya telah dipanggil oleh perawat.
“Prim aku duluan ya, sekali lagi semoga papamu cepat sembuh.” Sebelum berdiri Krist mengucapkan hal itu pada Prim dan dijawab, “Eh, iya Phi. Nanti aku sampaikan pada papa.”
Krist tersenyum tipis dan bangkit dari duduknya serta dituntun oleh bodyguardnya karena memang hari ini dia tak ingin menggunakan kursi roda.
Dibelakang sana terdapat pandangan yang sangat sulit diartikan sambil menggerutu, “Sial! Gagal lagi!” setelahnya dia bangkit dan memilih pergi dari sana saja.
Krist masuk seorang diri dan melarang bodyguardnya masuk ke dalam karena dia tak ingin orang lain tahu. Sejauh ini yang tahu tentang penyakitnya hanya dirinya dan dokter yang menanganinya.
“Selamat pagi, Tuan Krist. Bagaimana kabar Anda terakhir Anda periksa kesini satu bulan yang lalu. Padahal seharusnya setiap dua minggu sekali harusnya Anda kesini untuk pemeriksaan secara menyeluruh karena takutnya ada hal yang tak diinginkan.”
Baru saja Krist duduk di depan dokter kandungannya, dan dia juga belum sempat berucap satu patah katapun. Namun, dia sudah mendapatkan ceramah panjang lebar dari dokternya karena memang dua minggu yang lalu Krist melupakan jadwal rutinnya melakukan pemeriksaan. Dia memang harus melakukan pemeriksaan secara rutin dan tak boleh sampai melewatkannya.
Krist langsung diajak untuk menjalani berbagai pengecekan bersama dokter dan perawat. Dia sedari tadi hanya bungkam dan mengikuti segala arahan dokternya. Hingga saat pengecekan terakhir Krist baru saja angkat suara.
“Kenapa sepertinya lebih kecil dari pengecekan yang terakhir kali, Dok?” tanya Krist penasaran dan merasa sedih melihatnya.
“Baby kekurangan nutrisi, dan Anda juga sepertinya banyak pikiran kan. Inilah efeknya karena yang terkena pertama kali adalah baby yang ada di dalam perut Anda. Dan asal Anda tahu, kalau baby di dalam kekurangan nutrisi karena tidak memadainya aliran darah rahim ke plasenta. Bisa mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan bayi dalam kandungan, kelahiran prematur dan yang paling parah takutnya baby tidak bisa bertahan sesuai apa yang Anda inginkan sejak awal.” Kali ini dokter kandungan Krist tak berbicara lemah lembut padanya. Dia sangat tegas pada Krist karena kejadian ini sangatlah fatal.
Air mata Krist tanpa bisa dicegah langsung meluncur begitu saja. “Dok, lalu bagaimana? Apa yang harus saya lakukan? Saya tak ingin kehilangan dia.” Hatinya hancur mendengar penjelasan dokter barusan. Apakah memang seburuk itu efeknya.
“Ukuran baby harusnya bulan ini sekitar 65-70 cm, namun baby Anda baru sekitar 47 cm, Tuan. Mohon dengan sangat perbaiki pola hidup Anda, Tuan. Jangan sampai setres dan banyak pikiran, tadi juga tensi Anda sangat tinggi waktu pemeriksaan. Dan Anda juga mengeluhkan susah bernafas kan akhir-akhir ini. Maka demi keselamatan Anda untuk hari ini saya sarankan untuk menginap setidaknya sampai sesak napas Anda membaik. Nanti kami akan memasangkan oksigen dan memantau keadaan Anda. Bagaimana?” tanya dokter setelah memberikan sarannya.
“Apa tak bisa dirawat jalan saja?” tanya Krist. Nanti Singto pasti khawatir kalau dia dirawat disini, sudah cukup dirinya membuat lelaki itu banyak pikiran tentangnya akibat berbagai teror yang entah dikirimkan oleh siapa kepada dirinya.
“Maaf dengan sangat, Tuan Krist. Tapi, kalau saya memperbolehkan Anda pulang sekarang. Takutnya semuanya akan memburuk hingga bisa membuat Anda kejang dan itu sangat-sangat berbahaya untuk keadaan Anda dan juga baby.” Dengan raut wajah sedih dokter tak mengabulkan keinginan Krist yang ingin rawat jalan.
Krist menghela nafas, akhirnya dengan pasrah dan demi kebaikan bersama dia menganggukkan kepalanya menuruti saran dari dokternya. “Tapi, tolong kalau waktu Anda memeriksa dan tak sengaja bertemu dengan suami saya kalau dia bertanya cukup jawab saja saya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup. Jangan jelaskan apa yang terjadi sebenarnya.” Dengan penuh harap Krist meminta itu pada dokternya berharap sang dokter mau menuruti keinginannya yang ini.
“Baiklah, tapi saya sarankan agar Anda memberitahunya sendiri. Bukankah suami Anda berhak tahu apa yang sebenarnya.” Krist hanya tersenyum tipis.
Akhirnya Krist dibawa ke ruangan rawat inap oleh suster bersama bodyguardnya yang sedari tadi menunggunya di luar yang juga ikut mendorong brankar Krist.
“Tolong jangan beritahu Phi Singto sekarang ya, soalnya dia sedang ada meeting penting. Nanti malam saja kalau dia tanya baru kamu kasih tahu,” ucap Krist pada bodyguardnya.
“Baik, Tuan.”
Tanpa mereka sadari ada beberapa orang yang sedang memantau Krist sekarang. “Kita mundurin rencananya karena ini tak sesuai dengan rencana awal kita. Terlalu berbahaya kalau melakukannya disini, banyak cctv yang sulit untuk di retas.”
.
.
.
.
.
Hayo siapa impostornya?
Kitkit cepet sembuh dong
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, baik itu vote ataupun komen.
See you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Hayran Kurgu(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
