Embarrassed

1K 140 18
                                        

Mereka  telah sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Namun, bangunannya terlihat modern dan itu terlihat sangat bagus. Krist bahkam sampai kagum sendiri dengan bangunan di depannya. Dia mengalihkan pandangannya ke belakang untuk melihat Singto yang mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah.

“Em …, Phi Singto ini rumah siapa?” tanya Krist penasaran.

Singto tersenyum lantas berkata, “Ini rumah pemberian orang tua kita waktu nikah. Sebelum kamu  kecelakaan kita tinggal di apartement, namun karena kondisimu yang tidak memungkinkan. Jadi, aku putusin buat kita tinggal disini saja.”

Memang benar selama sebulan terakhir Singto sudah mulai menyuruh orang untuk mendisain perabotan di rumah ini kareana sebelumnya hanya rumah kosongan saja. Dan juga sudah ada 4 pembantu 2 minggu terakhir yang mulai membersihkan rumah ini.

“Loh iyakah?” tanya Krist sedikit tak percaya.

“Iya, nanti deh tanya sama Mae dan Pho, kebetulan mereka akan datang ke sini nanti malam. Aku tadi bilang sama mereka kalau kamu minta pulang.” Singto menekankan kata minta, dan itu membuat Krist yang mendengarnya memutar bola matanya.

Singto langsung membawa Krist ke kamar mereka yang ada di lantai satu saja karena tidak memungkinkan kalau mereka menempati kamar di lantai dua. Itu akan menyulitkan Krist kalau ingin keliling rumah sendiri, jika dirinya tak ada di rumah.

Bass tak ikut mengantarkan Krist karena dia ada janji dengan Godt. Berhubung bodyguard itu sudah bekerja dengan Singto selama di rumah sakit, jadi dia memutuskan untuk memperkerjakan mereka di rumahnya yang baru sekalian. Tidak mengembalikannya ke club, lagian rumah sebesar ini juga butuh penjaga. Singto khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Krist kalau taka da penjagaan.

Sebenarnya ada alasan lain mengapa Singto membawa Krist ke rumah ini, yaitu untuk menghindarkan Krist dari Isabel. Dirinya khawatir kalau Isabel akan mendatangi apartemenya seperti dulu. Apalagi dirinya juga mendapat laporan dari bodyguardnya kalau Isabel sudah sempat menemui Krist di rumah sakit.

Singto tidak mengungkit hal tersebut pada Krist karena dia langsung mengecek cctv yang ada di ruang rawat Krist. Saat itu dia tersenyum bangga karena Krist-nya membalas segala ucapan Isabel dengan penuh percaya diri, dan tidak langsung marah-marah ketika di datangi Isabel. Dia nggak menyangka kalau ternyata Krist bahkan lebih dewasa daripada dirinya.

Singto akui kalau dia sempat terbawa emosi, bahkan langsung mengirimkan pesan cerai pada Krist kala itu. Tanpa mencari tahu terlebih dahulu bukti-bukti yang ada, untuk memastikan Krist selingkuh atau tidak dengan Plustor. Kini dia sadar betapa bodohnya dirinya, untungnya Singto mendapat info dari Bass yang mana teman dari pasangannya itu meyakinkan dirinya kalau Krist tak akan selingkuh dengan Plustor.

Bahkan untuk meyakinkan Singto bahwa Krist nggak akan selingkuh dengan Plustor. Bass rela bertemu dengan Plustor untuk menanyakan tentang hubungannya dengan Krist. Detik itu Plustor jujur dengan Bass kalau dia memang menyukai Krist dan berniat untuk merebut Krist dari Singto. Bahkan Plustor juga bicara dengan Bass kalau sudah sempat baku hantam dengan Singto. Itu akibat Singto emosi karena melihat Plustor mencium Krist dengan sengaja karena tahu Singto datang ke apartement kala itu. Bahkan setelah Plustor mencium Krist dengan sengaja di hadapan Singto, Krist langsung mendorongnya dengan kasar dan berujung mengusir Plustor. Itulah kejadian sebenarnya yang terjadi waktu Singto memergoki Plustor dengan Krist yang berujung salah paham.

Singto memang mendengarkan semua pengkuan Plustor karena dia duduk nggak jauh dari Bass dan Plustor dan Bass juga menelfonnya untuk mendengarkan dengan jelas semua ucapan Plustor. Dan tentu saja detik itu juga Singto emosi langsung bangkit dari duduknya dan memberikan bogem mentah di wajah Plustor, Singto menonjok Plustor dengan membabi buta. “Bajingan, kau nggak akan pernah mendapatkan Krist!”

Plustor yang sudah babak belur tak kuasa menjawab ucapan Singto. Untungnya kala itu pihak café langsung melerai mereka berdua. Seperti itulah akhir dari salah paham yang dialami oleh Singto.

Singto merebahkan badannya di samping Krist yang sedang tidur siang, dia memandangi wajah manis pasangannya yang terlelap begitu damai. Tangannya mengelus rambut lembut Krist dan sesekali melabuhkan kecupan di kening Krist. Itu tidak membuat Krist bangun dan seolah tidak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Singto.

“Maafkan aku karena sempat bertindak bodoh,” ucap Singto penuh penyesalan.

Namun, dia juga senang karena dulu mengambil tindakan yang tepat karena mempertahankan Krist sebelum tahu yang sebenarnya. Berhubung dulu Krist hilang ingatan, dan rasa sayangnya yang sudah terlanjur besar pada pria-nya. Makanya dia dulu mempertahankan Krist, walaupun dulu dia beranggapan Krist selingkuh dengan Plustor. Namun, kini dia merasa lega setelah mengetahui semua kebenarannya.

Krist merasa terganggu karena ada yang mengelus pipinya sedari tadi, dia menggeliat dan memeluk Singto dengan mata yang masih terpejam. “Jangan ceraikan aku, Phi Singto,” gumam Krist setelah memeluk Singto.

Singto yang memang mendengar apa yang dikatakan oleh Krist tentu saja terkejut. Dalam benaknya bertanya-tanya, “Apakah Krist sudah ingat apa yang pernah aku lakukan?”

“Nggak akan, aku nggak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,” ucap Singto membalas pelukan Krist lebih erat.

Tanpa Singto ketahui, Krist yang menyembunyikan wajahnya di dada Singto dia tersenyum mendengar itu.

Sore harinya tampilan Krist sudah rapi untuk menyambut orang tua mereka  yang akan datang untuk makan malam bersama. Singto juga mengundang Godt dan Bass, disamping merayakan keluarnya Krist dari rumah sakit. Sekalian makan-makan karena menempati rumah baru.

“Phi Singto ayo kita keluar, Mae sama Pho katanya udah mau sampai ini,” teriak Krist karena Singto berada di walk in closet sedang ganti baju.

“Emang iya? Mereka ngehubungin kamu?” tanya Singto berjalan menghampiri Krist sambil mengancingkan kemeja lengan pendeknya yang belum selesai.

Bukannya menjawab apa yang ditanyakan Singto, Krist justru terdiam dengan wajah merahnya karena memperhatikan pahatan kotak-kotak perut pasangannya. Apalagi dada bidangnya yang terasa enak sekali ketika tidur di atasnya. Dan Krist sudah merasakan itu tadi karena waktu bangun dari tidur siang, entah bagaimana dirinya tertidur dengan wajahnya berada di dada pasangannya itu.

“Sayang? hellow, aku tanya loh sama kamu,” ucap Singto mengayunkan tangannya di depan wajah Krist.

Sontak itu membuyarkan Krist dari pikiran ambigunya itu. Dia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri karena bisa-bisanya terpesona disaat seperti ini. Sungguh Krist merasa sangat malu sekarang.

“I … iyaa, ini Mae kirim pe..pesan sama aku,” ucap Krist dengan sedikit terbata-bata dan mengalihkan pandangannya kearah lain.

Singto terkekeh gemas melihat Krist, dia mengusak rambut Krist dan melabuhkan kecupan di bibir pasannya. “Kamu lucu kalau salah tingkah,” ucap Singto setelah mencuri start.

Mata Krist membola dengan kejadian mendadak yang baru saja terjadi. Bibirnya melipat ke dalam dan berkata, “Apaan sih? Nggak ada tuh aku salah tingkah, ngaco banget kalau ngomong,” gerutu Krist sambil tangannya mengipas ke wajahnya. Karena entah mengapa suasananya mendadak panas sekarang.

“Haha, iya deh iya.”  Singto mencondongkan badannya dan ….

Cup 

Singto mengecup pipi gembul Krist, bahkan sedikit menggigit kecil pipi bulat itu karena terlalu gemas. “Singto Pracaya brutal Ruangroj! Nggak usah cium-cium apalagi gigit pipi aku, sakit tau!” teriak Krist sambil memukuli tangan Singto.

.
.
.
.

Gimana-gimana ini, sudah terlihat kebucinan diantara keduanya loh ah. Jadi, gemes sendiri aku.

Cerita dikit ya nulis chapter ini tuh butuh perjuangan banget karena udah lama nggak nulis, dan agak lupa sebenarnya sama alur cerita ini wkwk.

Jangan lupa tinggalin jejak ya.

See you next chapter.

Connection Of Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang