Singto duduk di ruang makan dan memperhatikan Krist yang sedang sibuk memasak di dapur. Sepertinya baru beberapa hari lalu dia merasa melihat Krist agak membuncit, dan kini sudah lebih buncit lagi. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Krist, melingkarkan tangannya di pinggangnya dan menyentuh perut Krist.
Krist tentu saja berjingkat kaget ketika merasakan itu. “Kamu ngagetin aku Phi Sing,” sentak Krist sambil menyingkirkan tangan Singto dari perutnya. Dia tak ingin Singto tahu kalau dirinya sedang mengandung saat ini.
Singto melingkarkan tangannya kembali, meskipun sebelumnya sempat disingkirkan Krist. “Aku kangen sama kamu, perut kamu empuk banget kaya squisy. Aku suka,” ucap Singto yang menguyel-uyel perut Krist.
“Ih, aku tahu aku gendut. Tapi, jangan dimainin kayak gini, sakit tahu Phi,” cerocos Krist yang memasang wajah sebal dan kembali menyingkirkan tangan itu.
“Siapa yang bilang kamu gendut, justru kamu makin gemesin tahu. Aku makan kamu aja deh malam ini,” Singto mengatakan itu sambil mengendus leher Krist.
Seketika Krist langsung mendorong Singto dan menatapnya dengan tajam. “Jangan mesum deh, Phi. Aku belum siap,” ucap Krist.
Seketika senyum Singto luntur. “Iya nggak apa-apa kok, aku tahu itu. Mana makan malamnya aku udah lapar.” Singto membalikkan badannya dan kembali duduk di meja makan menunggu Krist.
Krist yang melihat Singto seperti itu tentu saja merasa bersalah. Tapi, sungguh dirinya memang belum siap melayani Singto sebagai mana mestinya. Ada ketakutan dalam dirinya yang sulit diungkapkan, menerima Singto sebagai suaminya saja membutuhkan waktu.
Krist bungkam takut untuk bicara karena dirinya memang jarang memulai percakapan duluan. Biasanya Singto yang selalu memulai, dan kini Singto hanya diam saja dan fokus pada makan malamnya. Taka da sepatah katapun yang keluar dari mulut manis Singto yang biasanya memancing dirinya sampai membuatnya emosi.
Krist yang tak tahan dengan kondisi hening seperti ini akhirnya memberanikan diri dengan menusuk-nusuk pipi Singto dengan satu jarinya dan berkata, “Phi, kamu marah sama aku ya?”
“Nggak kok, kamu udah selesai makannya. Sini biar aku aja yang cuci, kamu ke kamar aja untuk istirahat. Seharian ini pasti capek ngurusin apartement, apalagi tadi habis belanja kan.” Setelahnya Singto langsung bangkit dan mengambil piring Krist dan mencucinya di wastafel.
“Kok kamu tahu aku belanja, kayaknya nggak bilang deh tadi.”
Gerakan mencuci piringnya Singto harus terhenti ketika mendengar balasan dari Krist. Namun sepersekian detik dia langsung menjawab. “Itu di meja makan ada selai baru, padahal kemarin kan habis.”
Krist menghampiri Singto dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di pundak pasangannya yang terasa begitu nyaman, Singto hanya diam saja dan membiarkan Krist melakukan apapun yang dia inginkan.
“Phi Singto.” Tak ada jawaban dari sang empu yang dipanggil. “Phi Sing,” ucap Krist sekali lagi memanggil Singto. “Hiyaaa, Singto Prachaya Ruangroj… kamu ini budek apa bagaimana sih. Dari tadi dipanggil nggak ada jawaban sama sekali,” gerutu Krist yang meninggikan suaranya karena sebal suaminya mendiaminya. Bertindak halus nggak ada jawaban, diomelin malah sekarang tersenyum membuat Krist semakin naik pitam rasanya.
“Apa Sayang?” tanya Singto membalikkan badannya dengan senyum tipis. Dia senang mendengar gerutuan Krist karena setelah seminggu kini dia akhirnya mendengar suara menggelegar dari Krist seperti biasanya. Amarah dan kesal tadi yang dia rasakan kini seolah menguar seluruhnya, digantikan senyum tampan yang terpatri diwajahnya.
“Nggak tahu ah, sebel aku sama kamu,” ucaap Krist memalingkan wajahnya dengan tangannya yang bersedekap di dada.
“Lho ini kenapa malah kamu yang marah. Jangan marah dong, aku tadikan sedang fokus membersihkan piring kotor, agar tidak ada noda yang tersisa. Biar kinclong karena kita menggunakan mama lemon.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
