Facts Revealed

1.2K 151 57
                                        

Nih double up... udah jangan pada ngamok ye karena aku ngilang kemaren wkwk.

.
.
.

“Bagaimana keadaannya?”

“Yang saya dengar dari pihak rumah sakit, dia hanya kakinya yang patah. Dan tidak meninggal, Nona.”

Orang yang dipanggil Nona itu berdecak kesal mendengar itu, padahal dalam hatinya dia berharap orang yang membuatnya kesal itu mati di tempat.

“Nggak becus kalian kerjanya, aku kan sudah bilang tabrak sampai meninggal. Kenapa masih hidup sih,” gerutu wanita itu pada anak buahnya.

“Maafkan kami, Nona. Apa perlu kami merencanakan ulang buat dia?”

“Tentu saja, aku tak akan membiarkan dia hidup dengan tenang. Siapa suruh berani bermain denganku, dia tak boleh bahagia sampai mati.” Wanita itu tersenyum miring dan tertawa membayangkan orang yang membuatnya kesal akan menderita.

“Baik, Nona. Saya permisi kalau begitu.”

Rasa sakit kesal dan sakit hatinya sudah menggunung, menurutnya siapa saja yang berani mencari masalah dengannya harus mendapatkan pelajaran setimpal. Dia tak peduli baik itu perempuan ataupun lelaki. Mereka harus menerima hukumannya.

“Tunggu pembalasanku selanjutnya, Krist!”

***

Aroma yang tak begitu familiar masuk dalam indra penciumannya, rasa pusing yang begitu hebat membuat seolah kepalanya dihantam oleh benda keras. Matanya mengerjap berulang kali, untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk dalam penglihatannya. Hingga terlihatlah ruangan yang di dominasi putih itu terlihat asing.

“Krist, kamu sudah sadar, Sayang?” tanya wanita paruh baya dengan suara yang melengking hingga memantul di ruangan kedap suara itu.

Sang suami yang mendengar suara istrinya juga langsung bangkit dari sofa dan menghampiri ranjang rawat di tengah-tengah ruangan. “Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga, Nak.”

Sedangkan pria yang sedang baru bangun itu hanya melihat dengan tatapan bingungnya. Apalagi terlihat infus menggantung di samping ranjangnya, dan dengan cepat otaknya mencerna kalau dirinya sekarang ini sedang berada di rumah sakit.

“Kenapa aku bisa di rumah sakit?”

“Kamu kecelakaan tadi siang, apa kamu nggak ingat Nak?”

Krist menggelengkan kepalanya dan berkata, “Kalian siapa?”

Seketika pasangan paruh baya itu terhenyak mendengar pertanyaan yang meluncur dari anak mereka. Hati mereka sakit mendengar itu, apakah anak mereka terkena amnesia. Tapi, dokter mengatakan yang bermasalah hanyalah kakinya saja. Lalu kenapa sekarang Krist mempertanyakan hal yang seperti itu?

“Sayang, ini Mae kamu loh, dan ini Pho. Masa kamu lupa dengan kami?” tanya Nan sambil menitihkan air matanya. Sungguh selama 23 tahun merawat anaknya dari bayi, tidak akan pernah menyangka kalau mereka akan dilupakan oleh anaknya sendiri.

Krist memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit, “Aku anak kalian?” tanyanya sambil tak percaya.

“Iya, Krist. Kamu anak bungsu kami, kamu yakin tak mengingat kami?” tanya Jack yang buka suara karena Nan sudah tak sanggup lagi untuk berbicara. Air matanya sudah turun sedari tadi, yang dia lakukan hanya bisa menatap putranya dengan pandangan kasian. Sudah mengalami kecelakaan, kakinya mengalami kelumpuhan sementara, dan sekarang melupakan orang tuanya. Apalagi sedang mengandung, astaga Nan tidak bisa melihat anaknya menanggung beban seberat ini.

Krist hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Dan memegangi kembali kepalanya yang kembali berdenyut hebat. “Ahhhkkkk.” Dia berteriak kesakitan.

Melihat itu Jack langsung menekan tombol yang ada di atas ranjang putranya, agar dokter segera datang dan memeriksa Krist yang tiba-tiba melupakan mereka.

Tak lama dokter datang dan langsung memeriksa Krist, Krist hanya diam selama pemeriksaan.

“Besok kami akan melakukan pemeriksaan ulang kembali pada Tuan Krist karena sepertinya Tuan Krist mengalami amnesia ringan. Padahal tadi kami lihat tadi tak ada luka yang serius di kepalanya, dan hanya sedikit goresan di keningnya. Mungkin ada area otak yang terguncang saat terjadi kecelakaan, dan untuk sementara tolong jangan berbicara yang mana bisa beresiko membuat pasien berpikir keras.”

“Baik, Dok.”

“Sama-sama, Tuan.” Setelahnya dokter yang memeriksa Krist undur diri dari sana dan menyisakan Krist dan orang tuanya saja karena dari sore memang papanya Singto sudah pulang untuk mencari putra kurang ajarnya yang menghilang tiba-tiba tidak bisa dihubungi itu.

Krist terdiam terlalu bingung harus bagaimana melihat dua paruh baya itu sedang menatapnya. Baru akan berucap, sudah di sela terlebih dahulu oleh wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibunya.

“Tak apa Sayang, jika kamu melupakan kami. Kami akan tetap disini menemani kamu sampai kamu sembuh,” ucap Nan dengan senyum tulusnya. Bagaimanapun juga dia harus menerima semua ini.

“Iya, Krist. Apalagi kamu sedang mengandung, kami akan menjagamu lebih baik lagi,” ujar Jack yang ikut menambahi apa yang dikatakan oleh istrinya.

Mata Krist terbelalak mendengar itu, dan langsung secara reflek menyentuh perutnya yang sedikit membuncit memang. “Haaa? Aku hamil, bagaimana bisa? Akukan laki-laki?” tanya Krist yang tak habis fikir dengan perkatan pasangan di depannya yang mengaku orang tuanya itu.

Nan dan Jack saling berpandangan satu sama lain, memikirkan cara bagaimana menjelaskannya pada putra mereka. Terlihat Krist yang menunggu jawaban mereka, hingga akhirnya Jack menghela nafas. Bagaimanapun juga Krist berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Krist bisa hamil seperti sekarang ini.

“Nak, mungkin terdengar aneh bagimu seorang laki-laki tapi bisa mengandung, namun memang itu benar adanya. Maafkan kami karena membuatmu seperti ini, Pho akan menjelaskannya. Dulu saat kamu lahir, ada dokter yang menyuntikkan hormon wanita dalam tubuhmu sebagai bahan uji cobanya. Sayangnya, saat itu terjadi kami sedang tak ada di sampingmu karena dulu bayi memang di pisah dan ditempatkan diruangan bayi. Untungnya, dokter tersebut sudah ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena melakukan tindakan illegal.” Krist mendengarkan penjelasan itu dengan seksama.

“Dan kami baru mengetahui kamu mempunyai rahim ketika kamu sakit demam tinggi setelah dua bulan  lahir, sayangnya kami tak bisa melakukan pengangkatan rahim dalam rahimmu di usia kamu yang segitu. Dokter juga tak menyarankan untuk pengangkatan rahim karena itu sangat beresiko untuk nyawa kamu, Nak. Makanya kami memutuskan untuk tidak melakukan tindakan itu karena yang terpenting kamu masih hidup dengan sehat bersama kami, itu tak masalah.” Jack selesai menjelaskan hal yang selama ini dia dan istrinya tutupi dari anaknya. Kalau menjelaskan dari dulu, takutnya akan membuat putra bungsu kesayangan mereka itu down mentalnya karena merasa begitu berbeda dari yang lain.

Akhirnya kini Krist mengetahui rahasia besar itu, sungguh dirinya tidak menyangka kalau dirinya mempunyai rahim berasal dari hal yang begitu complicated menurutnya. Bertahun-tahun dirinya hidup, namun orang tuanya tak memberitahu kebenaran yang harusnya dia tahu. Dan malah memberitahunya ketika sudah ada janin di dalam perutnya. Andai dia tahu dari dulu, pasti Krist akan berhati-hati.

“Kalau begitu kalian pasti tahu siapa ayah dari janin yang kukandung sekarang, dimana dia? Mengapa dia tak ada disini. Apa ini hasil dari pemerkosaan?” tanya Krist.

Nan menggelengkan kepalanya tak membenarkan pemikiran anaknya tak seperti itu.“Hei, jangan bilang begitu, kamu sudah menikah kok Sayang.”

“Ya, lalu dimana orangnya. Kenapa dia nggak ada disini saat aku sakit seperti ini?” tanya Krist yang heran sendiri.

Nan dan Jack bingung harus menjawab apa karena jujur mereka juga tak mengetahui dimana menantu mereka sekarang. Boonrod tadi sudah memberinya kabar kalau sampai sekarang Singto masih belum bisa dihubungi.

.
.
.

Kira-kira gimana respon Abang kalau tahu kit hamil sama amnesia ya?

See you next chapter.

Connection Of Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang