Singto memasuki apartement dengan agak terkejut karena seluruh lampunya padam. Dalam benaknya bertanya-tanya, kemana Krist berada sampai keadaan apartement gelap gulita seperti ini. Dia segera melangkahkan kakinya menuju lantai dua untuk mencari keberadaan Krist.
Ketika membuka pintu kamar Singto merasa lega karena melihat Krist yang sedang tertidur di ranjang mereka. Dia berjalan mendekat dan menempalkan tangannya di dahi Krist, khawatir kalau Krist sakit. Namun, untungnya badannya tidak demam.
Sebelum menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Singto melabuhkan kecupan di kening Krist. Dan itu membuat Krist langsung terbangun dari tidurnya. Dia melihat Singto yang berjalan menjauh untuk menuju kamar mandi. Sejenak Krist menghela nafas melihatnya, dia bangkit dari tidurnya dan langsung memesan makan malam buat dirinya dan Singto. Dia baru sadar kalau dirinya tertidur dari siang sampai malam, bahkan dirinya juga melewatkan makan siangnya tadi. Krist terlalu kalut hingga melupakan itu, padahal seharusnya dia menjaga tubuhnya.
“Loh kamu udah bangun?” tanya Singto yang sudah selesai membersihkan dirinya dan melihat Krist yang terduduk di ranjang sambil menyandarkan badannya.
“Udah, tadi aku denger kamu mandi.”
Singto duduk di pinggiran ranjang dan merapikan poni Krist. “Are u oke? Wajahmu kok agak pucat gini,” ucap Singto yang baru sadar.
“Aku nggak apa-apa kok, masih belum kekumpul aja nyawanya kan habis bangun tidur.” Krist tersenyum tipis.
“Ya udah, aku masakin sesuatu buat makan malam kita. Kamu ingin makan apa?” tanya Singto menawari Krist.
“Nggak usah, aku udah pesen makanan tadi. Mungkin sebentar lagi juga udah sampai kok,” jawab Krist.
“Oh begitu, yaudah aku tungguin dibawah. Kamu ganti baju aja kalau males mandi.” Krist hanya menganggukkan kepalanya dan bangkit dari sana meninggalkan Singto yang mengerutkan dahinya.
Dia merasa Krist berbeda dari biasanya. Padahal kalau dirinya memberikan perintah, biasanya Krist akan mengomel dulu. Tapi, sekarang malah langsung menurutinya tanpa bantahan sedikitpun. Sebenarnya bagus Krist yang seperti ini, tapi Singto heran saja dan merasa kalau Krist sedang ada masalah. Sayangnya pasangannya itu enggan menceritakan hal itu pada dirinya.
Bahkan ketika makan malam Krist lebih banyak diam, dan tak menghiraukan apapun yang dikatakan oleh Singto. Dirinya seolah berbicara dengan patung, tak mendapatkan respon apapun.
“Sayang, ini kamu kenapa sih?” tanya Singto yang sudah tidak sabar menghadapi Krist.
Krist menoleh ke samping dan mendapati Singto yang sedang menatapnya. “Aku nggak apa-apa kok, beneran deh.”
“Yakin?”
“Iya nggak apa-apa kok, kalau ada anak kecil dalam apartement ini pasti ramai ya.” Krist coba memancing Singto. Dia ingin mengetahui bagaimana pendapatnya tentang hal itu, dan sedang memikirkan cara juga untuk memberitahu suaminya.
“Kamu kesepian disini? Mau adopsi anak gitu?” tanya Singto yang heran dengan pertanyaan tiba-tiba dari Krist.
“Nggak juga sih, kamu suka anak kecil nggak?”
“Anak kecil berisik, tapi kalau kamu memang mau aku nggak apa-apa. Apapun yang membuatmu senang aku akan mencoba beradaptasi.”
Krist terdiam mendengar jawaban Singto, lantas bagaimana nanti nasib anaknya jika dia pergi dan membiarkan Singto mengasuhnya. Pasti nanti anaknya akan kekurangan kasih sayang, dan cenderung diabaikan oleh Singto.
“Jangan semuanya karena aku, kasian dong dia nggak dapet kasih sayang dari kamu,” celetuk Krist.
“Haa? Ini beneran kamu mau adopsi? Dia bakal tetep dapetin kok, tapi nomor satunya tetap kamu.”
“Ck, hehe chessyyy ya,” Krist merolingkan matanya mendengar gombalan Singto.
Krist bangkit dari sofa ruang tamu dan mengambil sebuah kotak kecil dan memberikannya pada Singto. “Aku tadi siang nerima paket dari resepsionis di bawah dan katanya buat kamu nih,” ucap Krist.
“Perasaan aku nggak mesan apapun deh.”
“Dari temen kamu katanya tadi, nama pengirimnya kalau nggak salah Isabel,” celetuk Krist setelah mengingat nama pengirim barang untuk Singto.
Seketika Singto mematung ditempatnya, untuk apa juga wanita gila itu mengirimi barang buatnya. Apalagi yang menerima itu adalah Krist. Dia tak habis pikir dengan itu, baru beberapa hari dirinya memperingatkan Isabel dan jangan mencari ulah pada dirinya. Serta menyuruhnya untuk berbicara terus terang pada ayah tirinya tentang salah paham. Namun, sekarang malah dengan begitu beraninya mengirim barang ke tempat tinggalnya. Singto memang sudah memblokir nomor wanita itu karena beberapa hari terakhir Isabel selalu mengganggunya dengan mengirimkan pesan-pesan yang membuat dirinya muak.
“Kamu kenal sama yang namanya Isabel nggak? Temen waktu kuliah atau gimana?” tanya Krist kembali buka suara karena Singto tak menanggapi ucapannya tadi.
“Oh, bukan temen kuliah. Hanya teman waktu masih di senior high school dulu.”
“Mantan kamu nih?” celetuk Krist yang hanya menebak saja sebenarnya.
“Eh, bukan cuma temen. Ngarang kamu ah.” Singto langsung menjawabnya dengan cepat.
“Ya santai aja dong, nggak usah kek gugup gitu. Aku keatas dulu mau tidur lagi,” ucap Krist yang langsung berdiri dan meninggalkan Singto seorang diri di sana.
Singto merutuki mulutnya sendiri karena sepertinya Krist curiga, lagian mana mungkin juga dirinya berterus terang dengan Krist kalau Isabel adalah wanita yang pernah dirinya cintai di masa lalu. Yang ada malah Krist akan semakin sulit membuka hati pada dirinya, ini saja hubungan mereka baru mulai setelah kesepakatan kemarin.
Singto langsung melemparkan bingkisan itu ke laci dibawah televisi, dirinya malas membuka bingkisan dari Isabel karena dia tahu pasti itu nggak penting juga. Dirinya bangkit dan menyusul Krist yang sudah menuju kamar terlebih dahulu. Sampai di kamar dia melihat Krist yang sedang memainkan ponselnya sambil tiduran, entah sedang bertukar pesan dengan siapa hingga senyum-senyum seperti itu. Bahkan tidak sadar kalau Singto masuk ke kamar.
“Balas pesan siapa sih kok kayaknya seru banget,” ucap Singto sambil merebahkan dirinya di ranjang yang kosong dan melabuhkan kecupan di kening Krist.
“Nggak kok, cuma dari Bass.” Krist meletakkan ponselnya di meja kecil yang ada di samping ranjang.
“Revisian kamu udah selesai? Butuh bantuan aku atau nggak?”
“Gampang, kebetulan aku dapat perpanjangan waktu buat ngerjainnya. Jadi santai aja,” Singto menganggukkan kepalanya dan entah mengapa dia sedari tadi terfokus di bibir merah Krist yang menggoda dirinya.
Krist yang sebenarnya paham dengan arah pandang Singto tersenyum tipis.
Cup
Dan entah Krist kesambet atau bagaimana, dia berani memulai duluan. Padahal biasanya Singto yang harus meminta persetujuan terlebih dahulu. Tentu saja sekarang dia kaget. Fiks, yang didepannya ini bukan Krist yang dirinya nikahi dua bulan lalu.
.
.
.
See you next chapter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Connection Of Love
Fanfiction(Completed) Bertemu dalam makan malam antara orang tua mereka, membuat Krist hanya tersenyum canggung. Sedangkan Singto yang hanya diam dan mendengarkan cerita orang tua mereka yang sedang mengobrol Namun sebuah kata yang muncul dari mulut orang tu...
