😏

48.5K 2.8K 61
                                        

Sampainya dikamar, Arva meletakkan tubuh Reyhan Diranjang dengan hati hati, Lalu dia ikut duduk disebelah istrinya.

"Ssstt, Sudah sayang jangan menangis, Dia tidak akan mengganggumu lagi" Ucap Arva memeluk tubuh sang Istri.

"Rey takut om" Lirih Reyhan.

"Ada saya, Jangan takut oke, Sekarang istirahatlah" Ucap Arva mengecupi kening Reyhan.

Saat hendak melepaskan pelukanya pada tubuh Reyhan, Lengan Arva tidak sengaja menyenggol  bahu Reyhan yang tadi terkena Vas bunga membuat Reyhan mengerang.

"sayang! Ada apa?! Apakah Clara melakukan sesuatu padamu?" Tanya Arva tetapi Reyhan tetap Diam.

Arva yang khawatir dengan keadaan istrinya pun segera mengecek bahu Reyhan.

"Sayang? Katakan apa yang telah dia lakukan"

Rahang Arva mulai mengeras, Pastilah dia marah, Bagaimana bisa istri kecilnya ini terluka, Dia saja selalu berusaha selalu melindungi istrinya, dan sekarang istrinya terluka ditangan orang lain.

"Rey ngga papa kok om, Ini cuma memar" Ujar Reyhan dengan senyum manisnya.

Inilah alasan mengapa Arva tidak bisa meninggalkan Istrinya, Reyhan itu terlalu baik, Sekalipun orang lain sudah menyakitinya dia tetap mengucapkan kata "gapapa", Dan yang membuat dia lebih khawatir adalah, Istrinya terlalu rapuh, Reyhan tidak akan bisa bertahan untuk dirinya sendiri jika berada dalam keadaan bahaya.

Arva juga tau bahwa Reyhan memiliki trauma, Dan itu juga alasan utama mengapa dia sangat menjaga hati istri kesayanganya.

"Om jangan marah, Rey beneran gapapa" Ujar Reyhan saat tau suaminya akan berbuat sesuatu.

"Tap—"Ucapan Arva terpotong.

"Rey ngantuk omm" Rengek Reyhan mengalihkan pembicaraan.

"Tidak ingin ke dokter?" Tanya Arva tetap khawatir

"Engga usah om, Ini cuma luka kecil" Ucap Reyhan

Arva menghela nafas sejenak.

"Ya sudah, setelah ini kita tidur, Tapi sebelum itu, Saya akan obati dulu lukanya" Ucap Arva Final.

Arva segera melepas pelukanya, Sebelum beranjak, Dia mengecup kening Reyhan terlebih dahulu.

"Tunggu ya, Saya akan mengambil kompresan" Ujar Arva mengelus surai Reyhan .

Reyhan menatap punggung kekar suaminya yang sudah menghilang dibalik pintu kamar, Sudah menjadi kebiasaan suaminya jika sedang menahan amarahnya, Arva selalu mengumah panggilan dirinya jika biasanya "aku" Arva akan menggunakan kata "saya" jika sedang menahan amarahnya, Entah itu amarah terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.

"Kenapa melamun?" Pertanyaan Arva membuat lamuan Reyhan terbuyar.

"E- engga om" Ujar Reyhan tersenyum gugup.

"Berbaringlah menyamping, Saya akan mengobati luka dibahumu" Ucap Arva

Reyhan segera berbaring menghadap Arva, saat diobati sesekali Reyhan mengaduh menahan perih.

"Sudah selesai, Sekarang istirahatlah" Ucap Arva mengelus pipi istrinya.

"Om temani Rey sampai tidur ya" Mohon Reyhan.

"Baiklah"
Arva merebahkan tubuhnya disebelah Reyhan, satu tanganya ia gunakan untuk merapikan anak rambut yang berada diatas dahi Reyhan.

"Jangan pergi dulu sebelum Rey tidur ya om" Ucap Reyhan mendongak menatap wajah suaminya.

" Iya sayang, Saya akan tetap disini sampai kamu tidur" Ujar Arva merasa gemas dengan istrinya.

"Terimakasih, Om jangan berbuat yang aneh aneh nanti" Ucap Reyhan sebelum memejamkan mata.

Cupp

"Tidur nyenyak baby" Guman Arva mengecup lembut kening Reyhan.

Dia akan memastikan jika istrinya akan tertidur dengan nyenyak,  Arva tetaplah Arva, Dia tidak akan pernah mengubah prinsipnya apapun yang terjadi..

Sekarang satu satunya hal yang terpenting dalam hidupnya adalah istrinya saja, Dia akan membalas siapapun yang sudah menyakiti istrinya, Sekalipun itu orang terdekatnya.

"Maaf sayang, Saya tidak bisa berjanji jika itu menyangkut tentang dirimu" Guman Arva menatap wajah menggemaskan Reyhan yang tengah tertidur.

Arva pelan pelan beranjak dari ranjang, Sebelum beranjak dia menyelimuti tubuh istrinya terlebih dahulu.

••••

"Halo"

'........'

"Turunkan harga saham perusahaan ayahnya, Jangan sampai ada perusahaan yang membantunya, Dan satu lagi jangan sampai Clara mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, Biarkan dia hidup seperti rakyat biasa"

'.........'

"Bagus, Pantau terus jangan sampai lengah"

Arva menutup telfonya sepihak, Senyum miring terlihat diwajahnya.

"Berani mengusik istriku, Berarti dia juga berani berhadapan denganku, Tidak peduli siapapun itu"Batin Arva dengan wategasnya menatap lurus kedepan.



Hello hellooowww, Jadi gimana? Konflik ringan Atau yang berat nihh?

Posessif husband (BxB)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang