Chapter 13

706 59 49
                                    

Jiwoo dan Mujin duduk di pinggir pasir pantai yang berjarak dekat rumahnya. Mujin tau kekasihnya masih kesal padanya karena kejadian siang tadi.

"Sayang.." Mujin merangkul Jiwoo.

"Bukankah kau sudah punya kekasih?"

"Kapan?"

"Itu yang kemarin kau membentakku"

"Ah, aku belum cerita, itu keponakanku, dia bertengkar dengan kekasihnya dan meminta bantuanku untuk berpura-pura bermesraan dengannya, thats all" jelas Mujin sedangkan Jiwoo hanya mengangguk.

"Ah! Kau belum bercerita bagaimana semalam kau makan malam dengan Taeju? Apa kalian diam-diam bertemu dibelakangku? Sejauh apa hubungan kalian?" tanya Mujin menyelidik.

"Saat itu kebetulan Taeju-ssi datang ke restoran ibuku dan kami bertemu lalu berteman, dia juga sering datang makan, kami mengobrol, terkadang minum bersama" jelas Jiwoo.

Mujin mengeraskan rahangnya, hatinya terbakar api cemburu, ia tau maksud dari pria itu mendekati Jiwoo dan mengingat dia juga ingin menyatakan perasaannya pada Jiwoo.

Tapi Mujin berusaha tetap tenang. Ia tidak ingin bertengkar dengan Jiwoo. Ia harus memikirkan hubungan mereka bahkan belum sehari.

"Lalu bagaimana dengan kopi gratis? Apa dia juga pria?"

"Haha.. penggemar rahasia? aku hanya berpura-pura tidak tau kopi itu dari dia"

"Siapa dia?"

"Kang Min Hyuk, dia yang duduk disebrangku. Aku tidak tau tapi Sejeong mengatakan dia pernah memorgoki dia menaruh kopi dimejaku"
Jiwoo terkekeh.

"Kau senang aku banyak saingan?" Mujin sedikit kesal melihat Jiwoo tertawa.

"Apa? Siapa yang tidak senang kalau mempunyai fans, aku seperti artis yang punya penggemar" Jiwoo tersenyum.

"Aku tidak suka ada pria lain disekitarmu! Sepertinya aku harus mengganti semua pria yang bekerja dengan wanita saja"

"Lalu kalau semuanya wanita, kau juga bisa melihat semua wanita, sangat tidak adil" Jiwoo berdecak kesal.

"Sayang, kau ingin ruangan kerja sendiri? Aku akan menyiapkannya, bagaimana?"

"Tidak usah, aku lebih nyaman bekerja seperti biasa, jangan mengubah apapun"

"Kenapa kau tidak pernah menurut padaku?"

"Aku akan menurut jika menurutku benar"

"Apa aku selalu salah?"

"Bukan begitu sayang. Ah! Aku lupa! Satu hal lagi"

"Apalagi sih hm?"

"Aku tidak ingin orang-orang dikantor tau kita berpacaran"

"Apa?"

"Aku tidak mau digosipkan, telingaku bisa tuli"

"Apa kau malu berpacaran denganku?"

"Bukan. Sudah ku bilang aku tidak mau dibicarakan satu kantor"

Mujin memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia harus mengerahkan kesabarannya.

"Kita bisa bermesraan jika kita berduaan, tapi diluar itu kita harus berpura-pura seperti bawahan dan atasan yang selalu dingin dan galak" Jiwoo mengecup pipi Mujin.

"Please sayang.." Jiwoo merayu Mujin yang terlihat kesal.

"Okay, tidak ada yang lain lagi, sudah cukup" Mujin menangkup wajah Jiwoo dan menyambar bibir merah Jiwoo, menciumnya penuh gairah.

Uncontrollably Love (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang