Ini adalah kedua kalinya mereka makan bersama, pertama kalinya di busan itu juga kaki Jiwoo sedang terluka sehingga acara makan malamnya hanya berjalan biasa.
Berbeda dengan malam ini yang terasa romantis?.
Ya, benar Mujin membawa Jiwoo ke restoran mewah, duduk dikursi yang besar, meja dengan dekorasi lilin, sebotol wine dengan hidangan steak dan salad.
Inilah yang Jiwoo inginkan selama 5 tahun ini, mengajak Mujin makan malam seperti ini lah yang selalu ia impikan."Gomawo, Daepyeonim" Jiwoo tersenyum lebar dengan matanya berkaca-kaca, walaupun ia senang tetapi hatinya terasa sakit.
"Seharusnya kita melakukan ini sejak dulu, maaf, aku baru bisa mengajakmu makan malam hari ini" ucap Mujin tersenyum lebar lebih tepatnya senyuman tulus namun dadanya terasa sesak saat mengucapkannya.
Hari ini Mujin melakukan hal-hal yang bagi Jiwoo adalah pertama kalinya hingga ia tidak bisa lagi menahan airmata yang akhirnya membasahi pipinya dengan deras dan membuat Mujin panik.
"Ada Apa? Apakah aku menyakitimu? Ada yang sakit?" tanya Mujin khawatir.
Jiwoo hanya bisa menggeleng dan tersenyum ke Mujin mengisyaratkan ia baik-baik saja. Ia berusaha mengatur nafasnya, mengontrol seluruh tubuhnya.
"Maaf, aku ke toilet sebentar" Jiwoo berdiri dari kursinya dan berjalan ke toilet.
Jiwoo membasuh dan membersihkan wajahnya. Ia tersenyum ke cermin dan menghembus nafas panjang dari mulutnya.
Jiwoo kembali duduk ke kursinya, wajah Mujin yang masih terlihat cemas padanya.
"Maaf daepyeonim" Jiwoo tersenyum tipis.
Setelah menyelesaikan makan malam, Mujin mengantar Jiwoo pulang. Mereka berdua berdiri didepan mobil. Wajah dan tangan Jiwoo terlihat memerah, namun ia menahannya.
"Aku benar-benar ingin berterima kasih dan minta maaf, daepyeonim" ucap Jiwoo membungkuk, menyembunyikan tangannya kebelakang, ia mulai kesusahan bernafas.
"Bisakah kau berhenti mengatakan terima kasih dan maaf?" kata Mujin, lagi-lagi ia menatap Jiwoo dengan lembut.
"Maafkan aku" Jiwoo tersenyum.
"Hati-hati dijalan" Jiwoo membungkuk pada Mujin dan berjalan ke arah rumahnya.
"Yoon Jiwoo.."
"Nde?"
Mujin menelan ludahnya yang terasa tercekat, suaranya mendadak hilang, ia hanya menatap Jiwoo dengan sendu.
"Selamat malam, tidur yang nyenyak" Mujin mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya ingin ia katakan.
"Selamat malam, daepyeonim" Jiwoo memberikan senyuman lebar pada Mujin.
Brukk!!
Tiba-tiba Jiwoo jatuh ke lantai, ia tidak sadarkan diri. Mujin terkejut dan berlari ke arah Jiwoo dan mencoba menepuk pelan wajahnya untuk sadar.
Dengan sangat panik ia menggendong Jiwoo ke mobilnya. Mujin menyetir dengan kecepatan maksimal dan menerobos lampu lalu lintas, Mujin berhasil sampai di rumah sakit dengan cepat, ia menggendong Jiwoo ke IGD dan merebahkan Jiwoo di salah satu ranjang kosong. Ia menghampiri seorang Dokter yang bertugas dan langsung mencengkram kerah baju pria berjas dokter.
"Ya!! Cepat sekarang periksa keadaan kekasihku!!" Mujin berteriak marah bercampur panik.
Dokter itu cukup terkejut, ia melihat wanita yang dimaksud Mujin dan segera memeriksa keadaan Jiwoo yang nafasnya terasa semakin berat dan pendek. Dokter dan beberapa perawat memberikan pertolongan pertama pada Jiwoo dan memasangkan alat bantu pernafasan padanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Uncontrollably Love (End)
RomanceChoi Mujin seorang pengusaha sukses bergerak dibidang transportasi, tidak ada yang tau usaha itu hanya kedok untuk menutupi pekerjaannya yang sebenarnya. Sifat kasar dan dinginnya dicap sebagai bos yang tidak punya hati. Namun diam-diam Yoon Jiwoo y...