Chapter 30

373 67 46
                                    

Jiwoo berdiri di balkon kamar, menatap lurus ke depan sambil mengingat percakapannya dengan Taeju tadi pagi. Ia menghela nafas panjang.

Flashback On

"Jiwoo-ssi, aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Taeju menatap kedua bola mata coklat Jiwoo.

"Apa itu?"

"Aku menyukaimu Jiwoo-ssi" ucap Taeju dengan mantap.

"Nde?" Jiwoo tertawa canggung, berusaha mencerna kembali perkataan Taeju yang membuatnya terkejut.

"Sejak pertama kita bertemu, aku menaruh hati padamu, maaf.. aku tiba-tiba mengungkapkan perasaanku seperti ini"

"Ini mungkin terdengar tidak sopan, tapi aku akan menunggumu jika seandainya kau putus dengan Mujin hyung" kata Taeju dengan sorot mata meyakinkan dan tegas.

Jiwoo berusaha tersenyum dan menelan ludahnya, ia tidak menyangka Taeju berani mengatakan hal seperti itu padanya. Apa maksudnya dengan jika putus? Ia bahkan tidak pernah sekalipun berpikir untuk putus dengan Mujin, tetapi pria ini malah mengatakannya dengan gampang.

"Taeju-ssi, terima kasih dan maaf atas perasaanmu padaku, aku menghargainya. Tapi aku dan Mujin tidak akan pernah putus, kami saling mencintai. Aku hanya menganggapmu sebagai teman yang baik. Aku yakin kau bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik. Kalau begitu aku duluan" Jiwoo berdiri dari kursi dan hendak berjalan, Taeju memegang pergelangan tangannya.

"Aku tetap menunggumu dan berharap kau memberiku kesempatan" Taeju berdiri dan menatap Jiwoo dengan penuh harapan serta tangannya yang masih memegang Jiwoo.

"Maaf Taeju-ssi, aku tidak bisa, sekalipun aku tidak bersama Mujin. Aku juga tidak akan menerimamu. jeongmal mianhae" Jiwoo menarik tangannya dan berjalan meninggalkan Taeju.

Flashback Off

Dddrrrrrtttt!!! Ddddrrttttt!!!

Ponsel Jiwoo bergetar membuyarkan lamunannya, ia meraih ponselnya dan tersenyum lebar saat melihat nama pria yang sudah ia cintai bertahun-tahun.

"Baby........." panggil Mujin dengan manja sambil menatap layar ponselnya. Ia melakukan panggilan video call.

"Kau sudah makan?" tanya Jiwoo sambil berbaring menyamping di kasur dan meletakkan ponselnya memiring seolah-olah Mujin disampingnya.

"Sudah tadi, kau sudah makan?" Mujin menaruh ponselnya di kasur sambil membuka jas dan dasinya.

"Aku sudah makan, kau dimana honey?"

"Aku sudah sampai hotel, bagaimana ini aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu" rengek Mujin.

"Hahaha.. aku akan menemanimu sampai tidur, apa urusanmu sudah selesai?"

"Baby, sepertinya aku lusa pulang, masih ada beberapa hal yang perlu ku urus"

"Gwaenchana, yang penting jangan lupa makan dan jaga dirimu disana"

"Araseo. I miss you so bad" Mujin berbaring di kasur dan mengusap ponselnya seolah-olah ia bisa menyentuh wajah Jiwoo.

"Tadi pagi kau bertemu Taeju, apa yang kalian bicarakan, hm?" tanya Mujin penasaran.

"Aniya. Hanya mengobrol tentang pekerjaan saja" bohong Jiwoo, bukannya ia tidak ingin jujur kepada Mujin namun baginya tidak penting untuk diceritakan ke Mujin dan tidak ingin menghancurkan hubungan dekat mereka. Apalagi Mujin pernah mengatakan ia sudah menganggap Taeju seperti adiknya.

"Benarkah? I'm so jealous, you know?" jujur Mujin.

"Kau tau, hatiku hanya untukmu. I love you honey" ucap Jiwoo tersenyum lebar.

Uncontrollably Love (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang