Pagi hari ini Jiwoo sampai dikantor, kepalanya masih pusing karena semalam minum terlalu banyak. Seperti biasa ia dan beberapa karyawan lainnya sedang menunggu lift. Tepat saat itu Mujin muncul bersama sekretarisnya.
Semuanya membungkuk hormat saat Mujin berjalan memasuki lift, ia tersenyum sangat tipis yang tidak akan mungkin disadari orang jika tidak diperhatikan baik-baik, pria itu sedikit mencuri pandang ke Jiwoo yang sedang memijat kepalanya membuat rambutnya sedikit berantakan.
Jiwoo melempar tas selempangnya ke kursi dengan kasar. Kepalanya masih terasa berputar. Jiwoo melihat dimejanya ada sebotol minuman pereda pengar dan segelas kopi dari penggemar rahasia yang bahkan sekarang bukan rahasia lagi. Ia mendongak melihat ke segala arah namun tidak ada yang mencurigakan. Lagipula yang tau ia mabuk hanya ketiga sahabatnya dan mereka bertiga bahkan belum datang.
"Yoon Jiwoo!" panggil Minjung menepuk pundaknya.
"Kau membeli minuman pereda pengar kenapa hanya 1 botol? Egois sekali! Kepalaku juga sakit tau huh!" cibir Minjung.
"Mian" Jiwoo menjulurkan lidahnya mengejek Minjung.
Jiwoo masih bertanya-tanya siapa yang memberinya minuman ini tapi ia segera menepis rasa penasarannya, ia menghabis minuman itu lalu mulai bekerja.
Mujin mengintip dari celah jendela kaca yang menghadap ke arah karyawannya. Ia tersenyum tipis saat Jiwoo menengak habis minuman pemberiannya.
Mujin beberapa kali memorgoki Jiwoo tersenyum lebar saat mengobrol dengan rekan pria lainnya. Sepertinya sudah lama sekali ia tidak melihat senyum dari wajah cantik itu. Entah kenapa ia tiba-tiba merindukan senyuman tulus yang selalu diberikan Jiwoo padanya. Jiwoo yang sekarang sangatlah dingin padanya, tidak pernah lagi tersenyum dan selalu menghindarinya.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Jiwoo semakin yakin dirinya tidak menyukai Mujin lagi walau begitu tidak dapat dipungkiri hatinya selalu sakit saat melihat Mujin. Entah sampai kapan rasa sakit itu akan hilang. Ia tau itulah resiko nya menyukai orang yang tidak menyukaimu. Rasa sakit hati yang mendalam.
Tok tok
"Masuk"
Jiwoo masuk ke ruangan Mujin dan menyerahkan dokumen meminta tanda tangan untuk pemutusan kontrak.
"Apa maksudmu pemutusan kontrak? Harusnya kita memperpanjang kontrak" ucap Mujin dingin.
Baru saja Jiwoo membuka mulutnya ingin menjawab, Mujin sudah naik pitam. Ia melempar berkas itu dengan kasar dimejanya membuat Jiwoo terkejut dan takut.
"Yoon Jiwoo! Apa seperti ini cara kerjamu?!"
"Aku kau sudah bosan kerja disini?! Kau bisa pergi dari sini jika sudah tidak ingin kerja lagi!!" Mujin memarahi Jiwoo dengan berapi-api. Jiwoo hanya menunduk meremas jemarinya dan menelan ludahnya yang terasa seperti batu, nafas sedikit tersengal.
"Keluar!!" bentak Mujin.
Mujin dapat melihat setetes airmata jatuh dari mata Jiwoo saat ia berbalik berjalan keluar.
Ia memukul meja dan menghela nafas beratnya. Kenapa lagi-lagi ia memarahi Jiwoo. Seharusnya bukan seperti ini, seharusnya ia mengontrol emosinya. Mujin memang mempunyai masalah dengan emosi nya.Dan terkadang Jiwoo lah yang selalu menjadi sasaran pelampiasan emosi Mujin karena Jiwoo tidak pernah membantah dan selalu sabar pada sikap Mujin yang sudah mendarah daging itu.
Mujin mengusap kasar wajahnya lalu mengambil sebatang rokok dan menghisapnya.Tok tok
Direktur Lee Jung Jae masuk ke ruangan Mujin. Mujin menyunggingkan senyuman tipis walau suasana hatinya sedang buruk.
Mereka mengobrol sejenak dan menyesap teh bersama. Ia dan Jungjae sudah seperti teman dekat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Uncontrollably Love (End)
RomanceChoi Mujin seorang pengusaha sukses bergerak dibidang transportasi, tidak ada yang tau usaha itu hanya kedok untuk menutupi pekerjaannya yang sebenarnya. Sifat kasar dan dinginnya dicap sebagai bos yang tidak punya hati. Namun diam-diam Yoon Jiwoo y...