Jiwoo membuka matanya dengan susah payah karena terik cahaya matahari menusuk matanya namun tiba-tiba silau itu menghilang. Ia membuka matanya dan mendapati kekasihnya sedang menutup cahaya yang mengganggunya menggunakan tangan besarnya.
"Tidurlah lagi jika masih mengantuk" ucap Mujin dengan suara beratnya.
Jiwoo tersenyum dan bergeser untuk memeluk tubuh hangat kekasihnya yang tidak memakai atasan serta mencium aroma tubuh kesukaannya.
"Hmm.."
"Marry me, Jiwoo-ya" bisik Mujin.
Jiwoo tersenyum dan mengecup dada yang bertatto namanya disana.
Benar saja! Hari demi hari Mujin tanpa bosan dan lelah selalu mengucapkan kalimat mengajak kekasihnya menikah, walau Jiwoo selalu mengalihkan pembicaraan. Bukannya Mujin tidak tahu bahwa kekasihnya juga menginginkan pernikahan. Mungkin karena kejadian terakhir membuat Jiwoo masih merasa sedikit kecewa. Namun Mujin tidak menyerah, ia tau itu adalah kesalahannya. Mujin tetap akan mengajak Jiwoo menikah sampai wanita itu mau menerimanya.
"Kau tidak pergi bekerja?" tanya Jiwoo yang suara teredam di dada Mujin.
"Tidak, sampai kau menjawabku" Mujin terkekeh.
"Kalau begitu tidak usah pergi bekerja" Jiwoo semakin menempelkan wajahnya ke kulit dada Mujin.
"Baiklah. Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, bagaimana?" tanya Mujin.
"Kemana?"
"Kau akan tau saat kita sampai nanti"
Jiwoo mengangguk dan tersenyum.
Jiwoo mengerutkan keningnya saat Mujin memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumahnya. Mujin membawa Jiwoo ke rumahnya di busan.
"Untuk apa ke rumahku?"
Mujin hanya tersenyum tampan dan keluar mobil membukakan pintu untuk kekasihnya yang masih terbengong di dalam.
"Ayo masuklah.." ucap Mujin.
Jiwoo hanya mendengus saat pria itu berkata seperti rumahnya sendiri.
Ibu Jiwoo duduk berhadapan dengan Mujin dan Jiwoo. Ia menatap keduanya dengan bingung.
"Aku akan mengambil minuman" Jiwoo beranjak dari duduknya menuju dapur.
Mujin menelan ludahnya, tiba-tiba ia duduk bersimpuh di lantai dengan menaruh kedua tangan di pahanya dengan sopan.
"Eommonim.. aku- aku ingin meminta restu untuk menikahi Jiwoo" kata Mujin tergagap sambil menelan ludahnya, telapak tangannya mendadak berkeringat.
Jiwoo yang sedang minum pun menyemburkan airnya. Ia melotot dan berjalan ke arah Mujin.
"Choi Mujin, apa yang kau lakukan" Jiwoo menggigit bibirnya.
"Eommonim, aku ingin membahagiakan Jiwoo seumur hidupnya, hanya Jiwoo lah satu-satunya wanita yang bisa mendampingiku. Aku akan menjaga dan melindunginya dengan seluruh jiwa dan hidupku. Aku juga akan memberikan cucu-cucu yang banyak untukmu" ucap Mujin panjang lebar sambil menatap serius kedua bola mata ibu Jiwoo.
Ibu Jiwoo tertawa terbahak, "Kau terlihat seperti pria yang sangat dingin tapi ternyata bisa membuatku tertawa"
"Aku serius eommonim.."
"Kau tidak bisa diajak bercanda ternyata.." ibu Jiwoo berdeham.
Jiwoo hanya menggeleng dan menutup wajahnya yang memerah karena malu. Ia sudah kehabisan kata melihat Mujin yang terlihat sangat serius.

KAMU SEDANG MEMBACA
Uncontrollably Love (End)
RomanceChoi Mujin seorang pengusaha sukses bergerak dibidang transportasi, tidak ada yang tau usaha itu hanya kedok untuk menutupi pekerjaannya yang sebenarnya. Sifat kasar dan dinginnya dicap sebagai bos yang tidak punya hati. Namun diam-diam Yoon Jiwoo y...