Chapter 49

471 273 36
                                    

Mujin mengajak Jiwoo dan putrinya kembali ke rumahnya namun rumah kali ini berbeda dengan saat ia masih berpacaran dengan Jiwoo. Rumahnya kali ini lebih luas atau lebih tepatnya disebut mansion ala eropa dengan halaman luas dan berhias air mancur.

"Woah! beautiful.." Jiwon berlari kesana-kemari.

"Rumahmu yang dulu?" tanya Jiwoo saat Mujin merangkul mesra pinggangnya.

"Aku sudah menjualnya, ada beberapa kenangan buruk kita disana, aku ingin menjalani kehidupan baru kita disini, sayang.." Mujin mengecup puncak kepala Jiwoo.

"Kau suka?" tanya Mujin.

"Sangat suka" Jiwoo memeluk pinggang Mujin menyandarkan kepalanya di dadanya.

...

Sinar matahari pagi menyilau mata Jiwoo, ia membuka matanya saat merasakan sesuatu pada tubuhnya. Mujin tengah mengecup sensual leher dan bahu Jiwoo.

"Hm.. honey, apa yang kau lakukan?" Jiwoo mengusap rambut Mujin.

Mujin bergerak menindih tubuh Jiwoo lalu mengecup seluruh wajahnya hingga Jiwoo tertawa geli. Jiwoo mengalungkan lengannya di leher Mujin. Keduanya bertatapan lembut.

"I love you, baby.." bisik Mujin dengan mata berbinar, bahkan kata-kata tidak dapat mengungkapkan seberapa ia mencintai wanitanya.

"I love you too, honey" Jiwoo mengecup sekilas bibir Mujin.

Mujin tersenyum bahagia, ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Jiwoo penuh cinta, melumat bibir kesukaannya. Ciuman yang awalnya hanya saling mengecup mulai panas dan bergairah.

Mujin menurunkan kecupannya ke leher Jiwoo, menghisapnya kencang hingga memerah.

"Ahh.." Jiwoo mendesah sambil meremas rambut Mujin.

Mujin melepaskan baju tidur Jiwoo hingga terpampanglah kedua buah dada besar milik kekasihnya. Akhir-akhir ini Jiwoo tidur tanpa bra atas permintaan Mujin.

Mata Mujin semakin diselimuti oleh gairah yang sudah lama tidak ia salurkan pada Jiwoo. Tiga tahun lamanya tidak bercinta.

"Ohh.. ahh..." desah Jiwoo.

Mujin menjilat, menghisap kedua payudara Jiwoo bergantian, membuat tanda kepemilikan banyak di sekitar dadanya. Kecupan demi kecupan turun ke perut Jiwoo. Tidak tahan dengan godaan Mujin, Jiwoo menangkup wajah Mujin dan mengajaknya berciuman. Tangan besar Mujin turun ke bawah mengelus perut dan meremas pelan pinggul Jiwoo lalu bergerak melepaskan celana dalam Jiwoo dan memainkan jarinya di titik sensitif Jiwoo.

Desahan kencang Jiwoo saat jari Mujin menusuk ke dalam miliknya semakin membangkitkan semangat Mujin. Dengan tidak sabaran Mujin bangkit dan melepaskan kaos dan celananya.

Mujin kembali mencium bibir merah nan bengkak Jiwoo, melumatnya lembut. Tangannya bergerak meremas payudara kenyal kekasihnya yang akan segera menjadi istrinya. Jiwoo menggelinjang atas rangsangan Mujin, sudah lama tidak bercinta membuat keduanya berkali lipat lebih bergairah.

"Honey.. I want you inside.." desah Jiwoo disela-sela ciumannya. Jiwoo semakin bergairah melihat tubuh atletis Mujin.

"Are you ready, baby?" Mujin membuka lebar paha Jiwoo dan menuntun miliknya yang sudah menegang sempurna ke lubang milik Jiwoo.

Mujin menopang tubuhnya dengan kedua tangannya di sisi Jiwoo. Jiwoo meremas lengan kekar Mujin saat pria itu mendorong pinggulnya dalam-dalam.

"Ahhh.." Jiwoo menggigit bahu Mujin.

Milik Jiwoo yang rapat semakin membuat Mujin kehilangan akal sehat, ia bergerak pelan maju mundur.

"Ahh.. Jiwoo-ya.. jepit aku.." racau Mujin terus menggerakkan pinggulnya.

Uncontrollably Love (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang