Chapter 35

361 90 107
                                    

Pagi-pagi sekali Jiwoo sudah sampai dikantor, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan Mujin dan meninggalkan amplop putih di meja kerja Mujin serta cincin lamaran Mujin.
"Aku mencintaimu, Choi Mujin" Jiwoo menatap setiap sudut ruangan Mujin lalu tersenyum kecut.

Mujin meremas amplop putih itu dengan tangisan yang pecah. Seketika penyesalan terbesar dalam hidupnya merasuk dan menusuk di dadanya dan seolah membunuhnya secara perlahan. Bagaimana ia akan menjalani hidupnya sekarang? Rasanya lebih baik cabut saja nyawanya. Setiap tarikan dan hembusan nafas terasa begitu sakit dan menyesakkan hingga ia hampir tidak mampu melakukan apapun. Tidak ada lagi tujuan untuk hidup di dunia ini.

...

Ddrrrrttt!! Ddddrrrttt!! Ddddrrrrtttt!

Mujin mengerang dan terbangun dari tidurnya di sofa ruang tamu. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12 tengah malam. Ia mengambil ponselnya yang tidak berhenti bergetar. Dengan menelan ludahnya saat ia menerima panggilan itu.

Tanpa mendengar sapaan atau jawaban Mujin, Jiwoo langsung berkata dengan dingin, "Datanglah ke rumahku sekarang"

Tut tut tut

Mujin menghela nafas berat. Ia mengambil kunci mobilnya dan keluar menuju rumah Jiwoo.

Jiwoo menunggu dengan khawatir. Namun tekadnya sudah bulat. Ia sangat merindukan pria itu. Suara mobil yang familiar membuyarkan lamunannya. Dengan cepat ia membuka pintu rumah dan melihat Mujin yang baru saja keluar dari mobil.

Pria itu sangat kacau, tidak ada tanda-tanda kehidupan di matanya. Namun kenapa ia malah ingin mengakhiri semua ini.

Jiwoo hanya berdiri menatap Mujin yang juga menatapnya. Tanpa sepatah kata, tanpa interaksi. Hanya saling menatap dengan rasa sakit hati dan saling merindukan. Setelah hampir 15 menit.

"Pulanglah" ucap Jiwoo dingin nan datar menahan air mata, ia berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. Bisakah ia mengatakan betapa hancur hatinya? Betapa ia ingin memeluk pria lemah itu. Jiwoo menyandarkan tubuhnya di balik pintu dan menangis.

Mujin yang masih berdiri menelan ludahnya yang terasa tercekat. Ia juga sangat amat merindukan Jiwoo. Pelajaran yang tidak terlalu buruk dari Jiwoo.

Dddrrrtttt! Dddrrrtttt!

"Ke rumahku sekarang"

Tut tut tut

Mujin tidak mempermasalahkan jam berapa pun Jiwoo menyuruhnya datang, ia akan datang secepat mungkin, seperti sekarang jam 6 pagi.

Seperti beberapa hari yang lalu, Jiwoo dan Mujin hanya saling menatap tanpa percakapan apapun seolah-olah sorot mata mereka sudah mampu menyatakan betapa keduanya saling merindukan dan setelah beberapa lama Jiwoo menyudahinya dan kembali kerumahnya dengan sorot mata dingin.

Dddrrrtttt!!

"Aku di sebrang kantormu"

Tut tut tut

Mujin berlari keluar dari ruang meeting, menuju lift dan keluar dari kantornya dengan tergesa-gesa. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Jiwoo di sebrang sana menatapnya dengan tatapan sedih dan sakit.

Ddrrrttt!

Mujin mengangkat telepon Jiwoo namun pandangannya tidak lepas dari Jiwoo disebrang sana. Wajah wanita yang selalu ceria dan cantik, kini menjadi kurus dan pucat. Mujin ingin sekali memeluknya dengan erat.

"Cukup berdiri disana saja"

Tut tut tut

Jiwoo tidak ingin Mujin menjawabnya, ia tidak ingin mendengar suara yang sangat-sangat ia rindukan. Ia cukup menumpahkan kerinduan dengan melihat pria yang ia cintai dari kejauhan.

Hampir 15 menit melihat Mujin, Jiwoo akhirnya melangkah pergi dari sana dengan air mata jatuh dengan deras. Mujin mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia memeluk Jiwoo, berlari mengejarnya dan mengatakan ia tidak bisa lagi melewatinya dan ia tidak sanggup lagi menjalani semua ini.

Sudah dua minggu Jiwoo melakukan kegiatan rutin ini. Mujin seperti mulai terbiasa bahkan ia selalu menggenggam ponselnya kemana pun ia pergi. Ia selalu menunggu Jiwoo meneleponnya.

Mujin menatap keluar jendela kaca yang basah oleh hujan deras. Ia menghela nafas panjang. Otaknya terus berputar mengingat kenangan bersama Jiwoo. Tidak sedetikpun ia lupa akan wanita yang ia cintai.

Dddrrrtttt!

"Turunlah"

Tut tut tut

Mujin mengerti, Jiwoo sedang menunggunya disebrang kantornya seperti kemarin. Dengan berlari sekencangnya ia mengambil sebuah payung hitam di lobby. Berjalan keluar dari kantor dan tepat saat itu Jiwoo kembali meneleponnya.

"Choi Mujin.." sebelah tangan Jiwoo memegang gagang payung dan tangan lainnya menggenggam ponselnya dengan erat.

Mujin menelan ludahnya dengan menatap Jiwoo disebrang sana. Bibirnya terkatup menahan gejolak didalam dirinya yang ingin meledak.

"Maaf, aku sudah menyiksamu" Jiwoo tersenyum kecut menatap Mujin di sebrang jalan walau terhalang hujan.

Mujin mengeratkan pegangan pada gagang payungnya. Mendengarkan dengan setiap kata yang keluar dari mulut Jiwoo seperti meremas jantungnya.

"Ini adalah panggilan terakhirku. Aku tidak ingin mengganggumu lagi. Maafkan aku. Jalanilah hidupmu dengan baik Mujin-ah"

Mujin melonggarkan dasi dan mencengkram kerah kemejanya yang terasa mencekik agar ia bisa bernafas. Rahangnya mengeras, jantungnya terasa berhenti berdetak beberapa detik. Nafasnya tersengal.

"Tentang janji kita, lupakanlah.. biarkan aku yang menanggungnya sesuai janji, salah satu dari kita tidak akan bahagia tapi aku ingin kau bahagia. Keputusanmu sudah benar"

Mujin merasakan pandangannya buram oleh air mata yang menumpuk di matanya. Bukankah ia yang memutuskan hubungan ini seharusnya dia lah yang melanggar janji dan tidak boleh bahagia. Namun Jiwoo malah mengatakan sebaliknya.

"Thank you for everything.. and Goodbye, Choi Mujin" Jiwoo menangis dengan sekuat-kuatnya hingga menggenggam ponselnya dengan erat.

Mujin benar-benar tidak bisa menahan perasaannya lagi. Hatinya kalut, ia tidak bisa kehilangan Jiwoo. Tidak bisa. Ia bersalah. Ia sangat menyesal. Ia ingin Jiwoo kembali ke pelukannya, kembali ke hidupnya seperti dulu.

Jiwoo menatap Mujin dan tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum ia menaiki taxi yang melaju meninggalkan Mujin di tengah hujan deras.

"Jiwoo-ya..."

Mujin melepaskan genggaman payungnya hingga payung hitam itu jatuh. Ia berlutut di lantai aspal dan menangis, tubuhnya terasa tidak berdaya. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan, hujan deras sudah membasahi seluruh pakaiannya. Ia meninju aspal dengan kuat hingga tangannya terluka. Bahkan itu semua tidak sesakit hatinya yang sudah hancur berkeping-keping melihat Jiwoo pergi.




Semoga chapter ini sedikit 🤏🏻 nyesek 🥲🥲 untuk menemani malam minggu kalian 😌

Yang dukung sad end mana nih?? ☝🏻☝🏻

Kalo 50 vote bisa gk? 🤔🤔 kayaknya nanggung bgt, jangan sampai authornya hiatus 😖😖 *ngancem 😂🫶🏻

Uncontrollably Love (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang