Chapter 40

410 135 55
                                    

Mujin membaringkan tubuh Jiwoo di ranjang di bawah kurungannya tanpa melepaskan tautan bibir yang saling melumat penuh cinta dan gairah. Jiwoo melingkarkan kedua lengannya di leher Mujin, ia mendesah saat kecupan basah pria itu mulai turun ke lehernya.

"Ah.. honey.. hm.." Jiwoo mendesah sambil meremas rambut Mujin yang masih setengah basah.

Mujin tersenyum nakal dan mengecup bibir Jiwoo.

"Haruskah kita melanjutkan ronde ke dua?"

"Haruskah kau bertanya?" Jiwoo memukul bahu Mujin.

Mujin terkekeh lalu mencium kening Jiwoo serta tatto kesayangannya.

"Menikahlah denganku, Jiwoo-ya.." ucap Mujin sambil mengusap pipi kekasihnya dengan tatapan lembut.

"Aku memberimu jawaban jika kau serius"

"Aku terlihat tidak serius?"

Jiwoo terkekeh dan mengangguk.

"Bagaimana caranya agar kau percaya, hm? Apapun itu akan kulakukan, aku hampir tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menjadikanmu sebagai istriku"

"Apa bedanya dengan menjadi kekasih? Kita juga tinggal bersama seperti pasangan menikah" balas Jiwoo.

"Aku tau, tapi tetap saja berbeda. Aku ingin menjadi suamimu, aku ingin ikatan yang lebih kuat"

"Kita sudah punya ikatan batin, jika kau sakit aku juga sakit, jika kau senang aku juga senang" ledek Jiwoo.

"Oh. come on, baby.." Mujin mengecup pipi Jiwoo.

Tangan Mujin memegang pinggang Jiwoo dan Jiwoo mengangkat pinggulnya untuk memudahkannya melepaskan celana dalamnya. Mujin segera turun dengan sensual dan desahan mulai terdengar ketika tangannya menggenggam paha, menariknya lebih dekat lalu meletakkan kedua kaki Jiwoo ke bahunya.

Ciuman lembut Mujin di bawah sana menyulut api yang ada di dalam kepala Jiwoo. Dan Mujin menggeram nikmat ketika mencecap rasa manis dari milik Jiwoo yang memerah. Satu tangannya masih memegangi pinggul Jiwoo sementara yang sebelah lagi menggenggam tangan Jiwoo di atas perutnya. Tubuh Jiwoo melengkung ke atas saat rasa puas menerjangnya, mencerai beraikan kesadaran menjadi jutaan keping yang berkilau. Jiwoo sampai meneteskan air matanya saat puncak itu sampai. Ia gemetar, tersenyum dan setengah terisak karena dilumpuhkan kenikmatan yang tiada tara.

Baru setelah itu Mujin bangkit dari ranjang untuk membuka celananya pendeknya.

"Please marry me, baby.." ucap Mujin ketika memasuki milik Jiwoo yang sudah basah.

Mujin menarik dirinya, lalu mendorong lagi. Lagi dan lagi. Lebih cepat dan semakin dalam. Setiap gerakan yang berdentum membuat ikatan antara mereka berpendar lebih jernih dan lebih kuat. Jiwoo menggerakkan pinggulnya seirama, memberikan kenikmatan dengan intensitas yang sama.

Mujin mendekatkan bibirnya ke telinga Jiwoo lalu berbisik, "I love you.."

Dengan kedua tangannya Jiwoo mencengkram lengan Mujin. Seluruh milik pria itu sudah tertanam habis di dalam. Tubuh Jiwoo terasa bagai di belah dua. Miliknya terasa bagai terkoyak. Rasa itu kembali datang di detik berikutnya, nikmat dan sedikit nyeri saat Jiwoo mulai bergerak pelan tapi bergairah.

Jiwoo memanjakan matanya memandangi otot perut Mujin yang terpahat indah. Mujin mengangkat tubuh Jiwoo untuk duduk di atas pangkuannya, memeluk punggung mulus wanita itu sembari melumat bibirnya. Jiwoo memejamkan mata, tangannya bergerak memegangi rahang kekasihnya.

"Ah.. aku akan keluar.." desah Jiwoo.

"Keluarkan semuanya, sayang.." bisik Mujin sambil menghisap puting Jiwoo.

Jiwoo mencakar punggung Mujin saat mencapai pelepasan, Mujin semakin cepat menggerakkan pinggul Jiwoo maju mundur.

"Shit.. baby.. I'm coming.." racau Mujin.

"Jangan keluarkan didalam" suara serak Jiwoo seolah tidak di dengarkan oleh Mujin.

Mujin memeluk erat punggung Jiwoo, tidak membiarkan tubuh mereka berjauhan. Mencium dan menghisap lembut kedua payudara Jiwoo dengan bergerak semakin cepat dan cepat, beberapa hentakkan terakhir akhirnya Jiwoo merasakan cairan hangat serta getaran yang tidak putus-putus menembus rahimnya.

Mujin melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuhnya ke belakang dengan posisi Jiwoo masih berada diatasnya dengan tautan keduanya yang masih menyatu.

Jiwoo ikut mengistirahatkan kepalanya diatas dada bidang Mujin merasakan detak jantung yang masih berdegup kencang.

"Aku sudah bilang jangan keluarkan di dalam, kau benar-benar sengaja" kesal Jiwoo.

"Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya, sayang.." Mujin terkekeh sambil mengusap sayang rambut Jiwoo.

"Menikahlah denganku, hmm?"

Jiwoo hanya diam tanpa menjawab.

"Aku akan mengatakannya setiap hari sampai kau bosan mendengarkannya dan akhirnya dengan pasrah menjawab ya aku bersedia" Mujin tertawa pelan.

Jiwoo yang malu-malu mencubit pinggang Mujin.

"Aku lapar, buatkan aku steak seperti hari itu" kata Jiwoo mendongak melihat Mujin yang tersenyum manis padanya.

"Ayo mandi dulu" Mujin menggendong tubuh polos Jiwoo ke kamar mandi.

Pancuran air shower membasahi keduanya, Mujin mencium bibir Jiwoo, kedua tangannya kembali nakal meramas dan mengusap puncak dada Jiwoo.

"Ah.. akhir-akhir ini kau gila bercinta? Hm? Sebulan yang lalu di hotel juga" tanya Jiwoo di sela-sela ciumannya.

"Setelah menikah mungkin aku tidak akan membiarkanmu turun dari ranjang" bisik Mujin sambil terkekeh.

Mujin mengendong Jiwoo menyandarkan punggungnya ke dinding belakang, Jiwoo membawa milik Mujin memasuki dirinya sendiri.

Jiwoo mendesah kencang saat Mujin mendorong dalam-dalam miliknya yang besar, panjang nan gagah itu.

"Ahh..honey.. faster"

"Anything you want, baby" Mujin semakin bersemangat menggerakkan pinggulnya dengan pelan lalu semakin cepat.

Mujin mencabut miliknya lalu memasuki Jiwoo lagi berulang kali. Jiwoo semakin mengeratkan pelukannya, Mujin membuatnya semakin kehilangan akal sehat, jujur saja ia sangat merindukan bercinta dengan Mujin.

Sekali hentakkan terakhir Mujin mengeluarkan cairan benihnya didalam Jiwoo dengan deras dan banyak. Mujin memeluk Jiwoo erat dengan nafas tersengal.

"Thank you baby, I love you" Mujin mengecup bahu Jiwoo.

Jiwoo yang sudah di gempur tiga kali sudah lemas bukan main. Dengan sisa-sisa tenaga keduanya akhirnya selesai mandi setelah 20 menit.

...

"Salju pertama" ucap Jiwoo sambil melompat dari ranjang menuju balkon.

Mujin mengikuti kekasihnya dan memeluk perut Jiwoo dari belakang, membenamkan wajahnya ke bahu Jiwoo dengan manja.

"Make a wish?"

Jiwoo mengangguk.

"Apa permintaanmu?"

"Aku meminta agar Choi Mujin tetap hidup sehat dalam keadaan apapun" bisik Jiwoo di telinga Mujin dengan tulus.

"Tentu saja aku akan tetap hidup untuk melindungimu dari apapun" Mujin mencium tengkuk Jiwoo.

"Mujin-aa.."

"Hmm..?"

"Berjanjilah kau akan selalu jujur padaku apapun itu dan tidak menyembunyikan apapun"

"Aku berjanji, sayang" balas Mujin lembut.

"Aku percaya padamu.." Jiwoo tersenyum dan mengusap lengan Mujin.

Mujin mengangguk dan tersenyum lebar.



Kalau chapter ini rame, aku bakalan up secepatnya mumpung lagi mood 🥰😘❤️

Next chapter bakalan lebih seru!
Author janji 😆✌🏻

Don't forget vote for happy ending 😆😆
or sad ending 😀😀

Uncontrollably Love (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang