Unspoken: Four ― 04

301 50 16
                                        

Menemani Presiden Korea makan siang, adalah hal yang pertama kali Sojung lakukan saat ia tiba di kediaman keluarganya. Ini bukan kediaman pribadi milik mereka, ini adalah fasilitas negara yang bisa mereka tempati hingga masa periode Im Saegyeong berakhir. Tempat ini adalah Istana Kepresidenan Korea―yang masih satu lingkungan dengan kantor pusat pemerintahan Korea.

"Akhirnya kau memilih tinggal di sini juga? Kenapa tiba-tiba berupah pikiran?" Saegyeong bertanya pada cucunya di sela waktu mereka menikmati santapan yang tersaji di atas meja.

Sojung sudah menduga hal ini akan terjadi. Dia tahu sejak awal bahwa kakeknya akan bertanya demikian, jadi dia sudah menyiapkan jawabannya. "Ini perintah Ayahku, *daetongryeong-nim."

Mendengar cucunya menyebut namanya dengan formal, Im Saegyeong mendecih. Dia memalingkan wajah sejenak, sebelum akhirnya kembali berhadapan dengan Sojung.

"Wae?" Sojung bertanya ketika mendapati Kakeknya memalingkan wajah dan tertawa untuknya. "Apa aku tidak diperkenankan untuk memanggilmu begitu? Apa aku bisa memanggilmu Kakek?"

"*Dwaesseo," kata Saegyeong. "Lakukan apapun yang kau mau: baik memanggilku seperti itu, atau hal lainnya di sini. Tapi kuperingati dirimu, jangan pernah membuat kekacauan. Kau tahu bukan, bahwa sejak lahir, kau sudah mendapat banyak perhatian publik? Kau bahkan juga memiliki sendok perak di mulutmu saat itu."

"Arra," jawab Sojung. "Maka dari itu ... bukankah aku sangat beruntung hingga menjadi cucumu? Banyak orang pasti menginginkan posisiku."

"Ani," bantah Saegyeong. "Banyak orang pasti lebih memilih terlahir sebagai Seowoo, terlahir sebagai cucu laki-laki Im Saegyeong. Apa hebatnya terlahir menjadi perempuan?"

Sojung tersenyum, dengan sedikit sudut kanan bibirnya terangkat. Dia menatap Saegyeong dengan tenang, lalu berkata, "Benar juga. Kenapa aku harus terlahir sebagai perempuan, ya? Bukankah lebih bagus kalau aku terlahir sebagai laki-laki? Apa yang kulakukan selama tiga puluh tahun ini, kurasa cukup mengalahkan banyak laki-laki di luar sana."

"Itu keberuntungan. Kau beruntung menjadi anak putraku, menjadi anak tunggal pewaris KBC, maka dari itu, jangan pernah lupa akan keberuntungan yang ia beri padamu," pesan Saegyeong kepada cucunya.

Ah, betapa menjengkelkannya situasi seperti ini. Berhadapan dengan tokoh patriarki kolot dan sudah sangat berumur seperti ini, membuat Sojung mulai kehilangan tenaganya. Berusaha meredam emosi rupanya cukup memakan banyak energinya. Namun, meski begitu, Sojung harus melakukan dan melewati ini dengan baik seperti biasanya. "Ye. Aku tidak akan pernah melupakan keberuntungan yang putramu berikan padaku."

Unspoken

Menjelang matahari terbenam, Sojung menghabiskan waktunya dengan menyirami tanaman barunya. Selain itu, dia juga beberapa kali memotong bunga yang hampir layu agar tidak melayukan bunga yang lainnya. Mulai hari ini, dia yang akan mengurus tanaman di sini. Dia akan merawatnya dan memberikan kasih sayang agar bunga-bunga ini tetap mekar dengan indah di sepanjang musim panas tahun ini.

"Kau merawat tanaman juga di sini?"

Sojung menjeda apa yang sedang ia lakukan sekarang, dia menoleh dan mendapati wajah asing berdiri di ujung lahan tanamannya. "Kau siapa? Aku tak mengenalmu."

Sementara laki-laki di sebrangnya itu malah menyelipkan kedua tangannya di saku celana. Lalu bertanya sekali lagi pada Sojung, "Bunga apa yang kau tanam? Kau menggunakan bibit lokal atau yang didatangkan dari luar?"

Sojung begitu enggan menanggapi omong kosong laki-laki itu. Dia lantas segera mengambil gembor yang tadi ia tinggalkan di bawah―saat sibuk menggunting bunga-bunga yang hampir layu―lalu melangkah pergi meninggalkan laki-laki itu tanpa menoleh sedikitpun padanya lagi.

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang