Unspoken: Thirty Six ― 36

221 41 11
                                        

Niat Sojung untuk melindungi Seolhee agar gadis itu tidak tahu tentang kabar panas hari ini, harus pupus karena sambutan yang anak itu berikan ketika dia datang. Putrinya itu memberikan tatapan pedihnya, pun langsung melirih memanggil namanya sejak mobil Im Sojung terparkir di halaman. "Eomma ...."

Tangan Sojung langsung meraih tubuh putrinya, menekuk kakinya sejenak dan segera memeluk Seolhee dengan erat. "Gwaenchana, Seolhee-ya. *Keokjeongma ... eung?"

"Eomma, neomu saranghae!" Seolhee mempererat pelukannya di pada leher belakang Sojung. "Eomma, kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, 'kan? Sebesar apapun reaksi yang publik berikan ... aku harap itu tidak akan memberikan dampak untuk kita."

"Nado saranghae, ddal!" Sojung sedikit memberikan belaian pada surai panjang nan halus milik putrinya. "Sebesar apapun reaksi yang diberikan publik, aku akan tetap mencintaimu seluas alam semesta. Kau adalah putriku, hari ini, dan selamanya. Maka dari itu, lewati saja bagian duka hari ini. Lupakan saja hal yang sempat mengganggumu. Jangan khawatirkan apapun."

"Geurae."

Usai Seolhee menanggapi nasihat Sojung, Bibi Ji datang, dan segera meminta Seolhee untuk masuk ke dalam. Bibi Ji meminta waktu pada anak itu, untuk sejenak berbicara hanya berdua dengan Im Sojung.

"Seolhee-ya. Aku sudah membuatkanmu makan malam. Ayo masuk dan makan masakanku. Aku akan berbicara dengan Ibumu sebentar."

Begitu Seolhee pergi ke dalam, Bibi Ji bergerak selangkah demi selangkah untuk bisa mendekat pada Sojung dan memberikan wanita itu pelukan hangatnya. Dia membelai halus surai Sojung, dari ujung kepala sampai di penghujung rambutnya. Mungkin, itu adalah hal yang membuat Sojung menjadi lebih emosional. Dirinya langsung menangis setelah tak lama merasakan hangatnya pelukan Bibi Ji dan belaian halus di kepalanya.

"Bibi Ji ...."

"Wae, Sojung-a?" Alih-alih berpura-pura memahami situasi Sojung, Bibi Ji justru memilih untuk bertanya. Wanita paruh baya itu memilih menunggu Sojung untuk menjelaskannya sendiri kepadanya, seperti apa situasi yang sedang dialami.

"*Himdeureo." Sojung meremas sedikit pakaian yang Bibi Ji kenakan. "Aku harus bagaimana lagi? Kenapa semuanya berjalan begitu rumit untukku? Aku sudah berusaha untuk menjaga Seolhee ... tapi seseorang menyadari kami, dan menyebarkan foto kami saat berdua di media sosial."

Selesai memberi belaian, Bibi Ji mengganti gerakkannya menjadi tepukan pada punggung. Iramaya begitu perlahan, pun begitu menenangkan. "Pasti menyebalkan, 'kan? Kau bukan aktris atau penyanyi yang mungkin memiliki penguntit, tapi kenapa mereka selalu penasaran dengan kehidupan pribadimu?"

"Benar, 'kan? Aku juga merasa seperti itu, sejujurnya," ungkap Sojung. "Tapi, sendok perak sudah ada di mulutku ketika aku lahir. Aku tidak lahir di lingkungan keluarga yang punya situasi pada umumnya. Suasana keluargaku ... sedikit berbeda. KBC sudah lama menjadi salah satu perusahaan penyiaran terbaik yang ada di Korea. Ditambah, Kakekku baru-baru ini adalah orang nomor satu di negara ini. Aku cukup mengerti, kenapa mereka berusaha ingin tahu tentang kehidupan pribadiku."

"Aku hanya ... merasa sedikit lelah." Sojung melanjutkan sisa kalimatnya, setelah mengambil jeda beberapa saat.

"Aigoo ...." Bibi Ji masih memberi tepukan pada bahu Sojung. "Sangat wajar kalau kau merasa lelah. Itu memang alasan kenapa seharusnya kau berbagi cerita. Jangan memikul bebanmu sendiri. Kau sudah punya suami, berbagilah sedikit cerita dengannya. Suamimu pasti akan sangat menghargainya."

"Aku bahkan tidak sempat membayangkan reaksi Seokjin saat tahu rumor yang beredar tentangku," ungkap Sojung. "Apa dia terluka? Apa dia kecewa padaku? ... atau justru, saat ini dia putus asa dan membenci diriku?" Pertanyaan yang Sojung lontarkan, tidak bisa dijawab oleh Bibi Ji, bahkan Sojung sendiri. Itu hanya akan terjawab, saat dirinya kembali bertemu dengan Kim Seokjin.

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang