Unspoken: Thirty Seven ― 37

219 39 15
                                        

Sudah lima belas menit Sojung menunggu putrinya keluar, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda Seolhee akan segera keluar. Beberapa teman satu kelas Seolhee yang sempat Sojung tahu bahkan sudah keluar sejak sepuluh menit lalu. Sojung jadi penasaran, kenapa Seolhee belum keluar sampai sekarang.

Akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi, Im Sojung turun dari mobil setelah memakai kaca mata hitamnya. Dia berjalan agak cepat dan berusaha menghindari perhatian orang yang masih ada di luar gedung sekolah. Untungnya, setelah masuk ke dalam gedung dan dalam perjalanan menuju kelas Seolhee, Sojung bisa berjalan lebih santai karena lorong dalam perjalanannya sudah tidak ada orang lagi.

"Itu benar, 'kan?"

Im Sojung menghentikan langkahnya, juga membuka kaca matanya. Dia berhenti dan berdiri di sisi pintu kelas Seolhee. Melihat dan memperhatikan pembicaraan antara Seolhee dan dua teman laki-laki satu kelasnya.

"Kau itu anak cucu perempuan Presiden Im? Kenapa kau disembunyikan?" Bukan dengan sikap baik, Sojung merasa bahwa anak sebaya yang sedang berbicara dengan Seolhee seperti sedang merundung putrinya.

"Eii, itu pasti karena Seolhee bukan anak yang diinginkan," sahut anak sebaya lainnya diiringi dengan tawa ejekan. "Kenapa tidak tinggal bersama Ayahmu saja? Ibumu seharusnya memiliki masa depan yang terang dan sempurna, kalau hari ini tidak ada dirimu."

"Yedeura." Seolhee merasa lelah kalau harus diam lebih lama lagi. "Aku harus pulang sekarang, ini sudah lewat lima belas menit."

Sojung kira, putrinya akan menanggapi dua anak yang merundungnya dengan berani. Sojung kira Seolhee bisa menangani mereka berdua sendiri. Namun, rupanya Seolhee menyela pembicaraan hanya untuk pergi dan berusaha menghindar. Seolhee tidak memilih menghadapi mereka berdua, dia justru memilih untuk menghindari mereka.

"Anja!"

Rahang Sojung mengeras saat salah satu anak dengan berani menyentuh putrinya, bahkan dia menarik bahu Seolhee untuk membuat putrinya itu duduk kembali di kursinya. Wah ... apakah saat ini perundungan juga dilakukan oleh anak usia sepuluh tahun?

"Kau belum menjawab setiap pertanyaan kami. Kenapa harus buru-buru?" tanya salah satu anak yang sedang bersama Seolhee. "Kalau kau tidak mau menjawab juga, aku akan menganggapnya benar. Ibuku mengatakan bahwa wajah anak yang dilindungi dengan diberikan efek buram itu adalah dirimu. Setelah kulihat ... kupikir itu benar. Apa kau sendiri juga setuju, Seolhee?"

"Yak!" Anak yang tadi sempat menarik bahu Seolhee, sekarang menggertak di atas meja Seolhee dan memukul meja itu melupakan etika dan sopan santun.

Akhirnya Sojung memutuskan untuk masuk. Setelah melihat bagaimana Seolhee pada mereka berdua, Sojung tidak mendapatkan kejelasan jaminan bahwa Seolhee akan melawan dan menghadapi mereka berdua dengan berani. Jadi, Im Sojung masuk ke dalam kelas untuk menyudahi aksi perundungan yang diterima oleh putrinya.

Sojung menarik simpul di bibirnya, ketika tiga pasang mata itu menatapnya. Sesaat setelah dia berhenti dan menekuk tubuh untuk berhadapan dengan salah satu anak yang melakukan perundungan, dia mendapat pertanyaan dan merasa bertanggungjawab untuk menjawabnya.

"N-nuguseyo?"

"Kau tidak mengenaliku? Aku sedang tidak melakukan penyamaran hari ini." Sojung menjawabnya dengan senyuman palsunya. "Aku Im Sojung―cucu Presiden Im ... ah! Apa seharusnya aku memperkenalkan diri sebagai Ibu Seolhee?"

Dua pasang mata anak-anak yang merundung Seolhee terbuka lebar. Mereka berdua juga mulai meneguk saliva mereka sendiri, merasa khawatir sekaligus terkejut atas kehadiran Sojung.

Saat menyadari bahwa anak yang ada di hadapannya perlahan membuka langkah ke belakang, Sojung meraih tangan anak itu dan menariknya kembali. "Ah, kenapa menjauh dari Bibi? Apa merasa tidak nyaman bertemu dengan Ibu temanmu?"

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang