"Terlibat dalam kecelakaan Wakil Pimpinan KBC, Putri bungsu Presiden Im, Im Sohee, diamankan petugas. Kim Seokjin, mantan Kepala Pimpinan KBC, berperan penting dalam penemuan nama Im Sohee dalam kejadian kecelakaan yang melibatkan istrinya sendiri. Sampai saat ini―"
Sohyeong segera mematikan televisinya dan kembali fokus pada Ayahnya. Saat ini, dirinya sedang menghadap Ayahnya di ruangan pribadi pria baya itu. Dia berdiri, sementara Ayahnya duduk di kursi kebesaran pria itu.
"Im Sohee berbuat kekacauan lagi. Media masih menyebutnya sebagai anggota Keluarga Im, walau kita sudah mengasingkannya." Tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Ayah atau Presidennya, Sohyeong mengungkapkan kalimatnya lagi. "Kita sama-sama tahu kalau aku sedang mempersiapkan diri untuk ikut menjadi calon presiden pada periode pemilu berikutnya, tapi karena skandal keluarga kita, permasalahan besar dalam keluarga kita yang disadari media, aku tidak yakin aku akan siap untuk maju. Rakyat pasti sudah tidak percaya lagi denganku."
"Kalau begitu maksudmu, kau ingin menyerah?" tanya Saegyeong pada putranya. Pria baya itu masih duduk, sedikit mendongak dengan tatapannya yang angkuh dan begitu dingin.
"Tentu saja tidak," sangkal Sohyeong. "Hanya saja, saat ini aku belum menemukan jalan keluar. Kita harus mengalihkan fokus masyarakat pada berita panas lainnya, namun karena kasus ini adalah kasus keluarga kepresidenan, aku tidak yakin cara itu mungkin akan berhasil. Kasus ini sudah menjadi konsumsi banyak orang. Aku pikir, kasus ini juga sudah terdengar hingga negara tetangga."
"Kurasa aku sudah mengajarkanmu banyak hal, Im Sohyeong: hal-hal yang bisa dan mampu membuatmu bertahan hidup di dunia politik ini," kata Saegyeong. "Jangan pernah membuatku kecewa. Ambil langkah sesuai dengan apa yang sudah kuberitahukan dulu."
"Baiklah, aku akan melakukannya." Sohyeong membungkukkan badannya sejenak, guna memberi salam karena dirinya hendak pamit undur diri. "Aku pamit undur diri dulu, kalau begitu. Aku akan menuntaskan semuanya, juga membersihkan semua debunya."
Begitu Sohyeong pergi meninggalkannya, pria baya yang lahir dengan nama Im Saegyeong itu, memutar kursinya, juga menyandarkan badannya pada kepala kursi. Jari telunjuknya mengetuk tangan kursi dengan tempo lambat, sementara matanya terpejam. Pikirannya terus pergi, lalu mulutnya terbuka untuk melafalkan satu nama. "Kim. Seok. Jin."
"Ayah yakin akan mengasingkanku? Kenapa Ayah menjadi antagonis yang melakukan banyak kejahatan di sepanjang hidupku?"
Saegyeong menghela napasnya sejenak.
"Ini sudah cukup lama, aku pikir Ayah harusnya lebih berhati-hati. Putra Ahn Serim―pembawa berita yang kasus kematiannya Ayah tutup-tutupi karena Sohyeong Oppa terlibat di dalamnya, telah menjadi bagian dari keluarga kita. Kim Seokjin. Orang yang sempat Ayah bangga-banggakan lebih dari cucu Ayah sendiri."
Bagai audio yang sengaja disiarkan, Im Saegyeong mendengar semua kalimat yang pernah dilontarkan putrinya sebelum wanita itu benar-benar dianggap asing oleh Keluarga Im. Saegyeong mau tidak percaya dengan kalimat putrinya itu, namun setelah dia memeriksa latar belakang Kim Seokjin sekali lagi, Ahn Serim yang menjadi Ibu untuk Seokjin, adalah Ahn Serim yang kematiannya melibatkan putra sulungnya.
Dia merasa terkejut, sekaligus frustrasi. Walaupun sudah sebelas tahun, bukan berarti kemungkinan kebusukan yang sudah ia tumpuk dan sembunyikan sedalam mungkin, tidak akan tercium oleh Kim Seokjin, juga PM Kim Yeonsang.
Namun, bagai sebuah kebetulan. PM Kim, melakukan kunjungan mendadak hari ini. "Perdana Menteri Kim datang," seru penjaga di depan ruangan Saegyeong memberikan informasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken
Fanfiction#1 ― bangchin #1 ― politik Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
