Satu minggu setelah Seokjin dan Sojung memberitahu publik tentang kehamilan lewat unggahan akun sosial media mereka masing-masing, keduanya selesai mengkondisikan jadwal mereka. Kim Seokjin dan istrinya, akan menggunakan jatah cuti mereka–lagi―untuk berlibur bersama selama lima hari.
Selain masing-masing dari mereka, keduanya juga bersama-sama mengatur perizinan Seolhee untuk tidak masuk sekolah, selama berlibur nanti. Liburan kali ini, selain hanya ada Seokjin dan Sojung, juga ada Seolhee yang menemani perjalanan liburan mereka.
Pengalaman bulan madu yang kurang memuaskan dahulu, membuat Seokjin dan istrinya merasa harus mengulang kenangan itu. Mereka pergi ke Pulau Jeju lagi, pulau paling romantis dan begitu tepat untuk dijadikan tempat berlibur. Kali ini, mereka pergi diam-diam. Mereka melakukan perjalanan pribadi, sehingga tak ada pengawal yang akan menjaga mereka selama liburan.
Im Sojung tidak khawatir sama sekali, karena dia percaya dengan suaminya. Seokjin pasti akan menjaganya dan kandungannya, serta Seolhee, lebih dari apa yang penjaganya bisa lakukan. Sepertinya Sojung pernah bilang, 'kan? Kalau suaminya ... adalah yang terbaik dalam segala hal.
Dalam perjalanan lima hari mereka, tempat pertama yang dikunjungi adalah ladang canola. Mereka melihat hamparan bunga canola yang begitu cantik. Sojung tersenyum bahagia saat melihatnya. Dia suka bertanam, dia juga sangat menyukai bunga, karena itu ... dia benar-benar bahagia saat bisa berdiri di sini, hari ini.
"Appa, Eomma, bolehkah aku pergi sedikit lebih jauh? Aku ingin melihat lebih ke dalam."
Sojung langsung menatap putrinya yang meminta izin. "Kau akan pergi? Sendiri?"
"Iya. Bolehkah?" Seolhee bertanya lagi.
"Tentu saja. Tapi, perhatikan langkahmu, dan jangan pergi terlalu jauh," kata Sojung yang akhirnya membuat Seolhee berseru dan langsung berlari menjelajahi ladang lebih dalam. "Hati-hati, Kim Seolhee!"
"Ne!"
Setelah mendengar sahutan Seolhee, Sojung mendapat kejutan dari suaminya yang tiba-tiba saja datang dan langsung merengkuh pinggangnya. Dia terkejut, tapi dia juga tersenyum bahagia. Dia juga memeluk suaminya dan menyandarkan diri di sana. Wah ... bahu suaminya seperti menjadi tempat ternyaman untuknya.
"Kau menyukainya? Melihat canola seperti ini?"
Sojung dengan segera menjawab pertanyaan suaminya. "Sangat menyukainya. Tapi begitu melihatnya, aku jadi ingat pertemuan pertama kita di kebun istana dulu. Meski yang sedang kutanam saat itu bukan canola, melihat ladang bunga seperti ini ... aku mengingat hari itu."
"Itu pertemuan pertama kita bagimu, 'kan? Sejujurnya, aku sudah bertemu denganmu sebelum itu,"--Seokjin menghentikan kalimatnya tiba-tiba karena teringat sesuatu--"aku sudah pernah mengatakannya belum, ya?"
"Di mana kau melihatku?"
"Kau tidak ingat? Peresmian gedung baru di Universitas Eunsang. Kau yang menjadi wakil KBC untuk berpidato di acara peresmian waktu itu," kata Seokjin.
"Ah ... benar juga."
"Saat itu, aku sudah tahu tentang rencana pernikahan kita. Jadi, aku mencaritahu segalanya tentangmu. Aku memperhatikan caramu berbicara saat itu. Kupikir, saat itu aku sedang jatuh cinta dengan caramu berkomunikasi," cerita Seokjin panjang lebar.
Sojung yang sudah selesai mendengarkan cerita Seokjin, berkeinginan menggoda suaminya. Dia menatap suaminya dan mengelus dagu suaminya seperti kucing sambil menunjukkan wajah yang menggemaskan. "Aigoo, Kim Seokjin jatuh cinta pada pandangan pertama, rupanya. Pertahananmu yang berpura-pura tidak mencintaiku di awal hubungan kita, cukup baik, Kim Seokjin. Jarhaesseo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken
Fanfiction#1 ― bangchin #1 ― politik Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
