Unspoken: Fifty Three ― 53

215 33 27
                                        

Kembali, Seokjin mengunjungi istrinya di malam hari. Namun, karena kali ini dia datang hampir larut malam, Sojung sudah menutup mata dan terlelap dalam tidurnya. Dia hanya datang, melihat bagaimana kondisi Sojung setiap harinya. Dia tidak punya niat untuk mengganggu waktu tidur istrinya, walau sebenarnya ada hal yang harus ia bicarakan.

Banyak orang setuju, bahkan menandatangani petisi untuk lengsernya dia, dari kursinya saat ini. Dia sudah berbicara pada Ayah mertuanya, juga Kakeknya siang tadi. Sayangnya, mereka berdua sepakat untuk melepaskan Kim Seokjin dari posisi Kepala Pimpinan di KBC. Publik sudah semakin panas, jadi daripada KBC yang dimasukkan ke dalam daftar hitam mereka, pun punya catatan buruk di masyarakat, Im Sohyeong dan Im Saegyeong turut menyarankan Seokjin untuk mengikuti kemauan publik.

"Aku pikir kau tidak akan datang hari ini."

Seokjin mengangkat kepalanya, melihat Sojung yang sekarang sudah membuka matanya. "Apa aku mengganggu tidurmu?" Seokjin bertanya dengan perhatian, khawatir kalau ternyata kedatangannya kali ini justru mengganggu Sojung.

"Eo," jawab Sojung. "Kau membuat tidurku tidak nyenyak, karena membuatku menunggu lama. Apa hari ini begitu sibuk? Kau bahkan tidak menghubungiku seharian."

"Benarkah?" Seokjin sendiri tidak ingat kalau dia melupakan bagian itu. Dia mengulang ingatannya hari ini, mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Sayangnya, apa yang Sojung bilang mungkin benar, karena Seokjin tidak menemukan ingatan apapun yang berkaitan dengan ponsel, sekaligus Im Sojung.

Sojung mendecih, mengeluhkan sikap Seokjin. Saat dia bangun dan hendak mengubah posisi menjadi duduk, Seokjin dengan hati-hati membantunya. Decihan dan keluhan yang sebelumnya dilontarkan, berubah menjadi senyuman tipis di wajahnya. "Gomawo."

"Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa hari ini kau begitu sibuk?" Sojung mengulang pertanyaannya, agar mendapat jawaban dari Seokjin.

"Kupikir begitu," jawab Seokjin. "Pikiranku begitu penuh hari ini. Salah satu alasannya karena skandal yang sampai saat ini masih menyeret namaku."

"Itu pasti membuatmu keberatan, 'kan? Aku berusaha untuk mengerti posisimu," kata Sojung. "Biarkan saja. Mereka akan lupa seiring berjalannya waktu."

"Tapi keadaannya sudah terlanjur rumit," kata Seokjin. "Sebenarnya, besok pagi, aku akan memberikan pernyataanku, sekaligus mengumumkan kalau aku akan berhenti menjadi Kepala Pimpinan di KBC."

"Mwo?" Sojung membuka matanya lebih lebar. Dirinya merasa terkejut mendengar keputusan Seokjin hari ini. "Kim Seokjin, kau serius? Maksudku ... kenapa harus mengambil keputusan seperti itu, Sayang? Apa karena petisi yang mereka buat? Kalau masalah itu, kau tahu kalau KBC adalah pengendali mereka. KBC tidak akan masuk ke dalam daftar hitam hanya karena ancaman mereka."

"Bukan begitu sepenuhnya," kata Seokjin. "Aku juga memikirkan kehormatanmu. Skandal ini mungkin akan menjadi lebih panas kalau aku mengabaikannya lebih lama lagi. Namamu dan namaku tidak akan berhenti mereka sebut. Pun kalau aku terus mengabaikannya, seolah aku membenarkan skandal itu, kehormatanmu sebagai istriku akan terluka. Aku sama sekali tidak pernah berpaling darimu karena kau cukup sempurna untukku, tapi kalau skandal itu terus dibiarkan, orang-orang akan berpikir kalau aku berpaling karena ada yang tidak bisa kudapatkan darimu. Kau akan menjadi pihak yang terluka kalau skandal ini dibiarkan terlalu lama."

"Tapi aku baru saja benar-benar menikmati waktu bekerjaku," kata Sojung. "Aku senang bisa menjadi rekanmu di KBC, tapi juga menjadi istrimu di luar itu. Aku tidak mau kau merelakan posisimu, Kim Seokjin. Mereka bahkan tidak ikut andil dalam prosesmu menjadi Kepala Pimpinan di KBC."

Seokjin berjalan mendekat, memeluk istrinya dengan erat. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, selain memberikan pasangan hidupnya itu pengertian dengan lebih hati-hati lagi. "Aku melakukan kesalahan. Aku tidak menghapus masa laluku dengan baik. Aku tidak mau merusak citra Kepala Pimpinan KBC, aku tidak mau memberikan kesan yang buruk untuk KBC. Jadi biarkan aku mengambil keputusanku yang seperti itu, kali ini."

"Kau benar-benar bodoh, Kim Seokjin!" Sojung mengumpati lelakinya dan memukul badan pria itu. "Lalu, kau akan melakukan apa setelah mengumumkan kau berhenti menjadi Kepala Pimpinan di KBC?"

"Mengusut tuntas kasus kecelakaan yang melibatkan istriku," jawab Seokjin. Dia menangkup pipi istrinya, pun menatap mata wanitanya begitu dalam seolah banyak pesan yang ingin dia sampaikan. "Tersangka dalam kecelakaan itu, Yoon Seungho, ditemukan meninggal di kediamannya hari ini. Dia ditemukan dalam posisi gantung diri, tapi tim forensik yang mengautopsi jasadnya bilang kalau Yoon Seungho sudah meninggal sebelum ikatan di lehernya dipasang."

"Apa itu? Kenapa begitu menyeramkan?" Sojung tiba-tiba merasa takut, dia agak menjauh karena Seokjin sendiri yang membuat suasana di sekitar mereka menjadi begitu mencekam. "Tapi kalau memang benar begitu, Yoon Seungho adalah korban pembunuhan, 'kan? Dia tidak mati dengan cara gantung diri."

Kim Seokjin tertawa, tatapannya mengatakan bahwa dia bangga pada istrinya. "Tidak pernah sia-sia aku menikahimu, Istriku. Kau cukup pandai memahami situasi." Seokjin mengangkat dagu istrinya, lalu memijatnya seperti dagu Sojung adalah dagu kucing yang menggemaskan. "Aku akan turun langsung mengusut kasusnya. Jadi bersabarlah, tunggu aku berhasil menangkap dalang dari gugurnya dua bayi kembar kita."

"Aku mendukungmu," kata Sojung. "Kemari,"--Sojung meraih kepala suaminya dengan kedua tangannya--"kau harus diberi semangat kalau begitu."

Sojung benar-benar memberikannya, dia mengecup bibir Seokjin, kemudian tersenyum malu-malu. Namun belum berhenti di situ, Seokjin masih mendapat kecupan di kedua pipinya, dahinya, serta hidungnya. Pria itu juga masih dibuat gemas dengan apa yang dilakukan Sojung, karena wanita itu sekarang membuat jarak antara wajah keduanya super minim. Sojung menyatukan hidung mereka. Tangannya juga mengalung di leher suaminya.

"Wah ... jadi, kapan kau akan pulih, Im Sojung?" tanya Seokjin masih dalam jarak yang begitu dekat.

"Tidak tahu, harusnya kau tanya pada Dokter. Tapi, kenapa memangnya?" Sojung bertanya sambil tertawa geli, karena wanita itu menangkap sinyal yang suaminya berikan.

"Aku sudah merindukanmu," jawab Seokjin begitu terus terang.

Tentu saja itu membuat Sojung mendecih. Tawa gelinya berubah menjadi decihan keluh karena apa yang Seokjin katakan. "Cih ... *nappeun nampyeon."

"Aku tidak bisa mendengar suaramu." Seokjin mengatakannya menggunakan nada lagu. Dia juga membuat itu semakin lucu karena menggerakkan hidungnya ke kanan dan ke kiri, menyerang hidung milik Im Sojung. Mereka jadi tertawa bersama, menikmati waktu temu mereka yang hanya bisa dilakukan malam hari karena Kim Seokjin masih punya kesibukannya sendiri, sebagai Kepala Pimpinan di KBC.

Unspoken

Notes:
*Nappeun nampyeon = Suami nakal―🙄😬

A/N:
Ketua Kim setelah keluar dari KBC:

Di dunia nyata, mana ada orang yang kayak Ketua Kim, berani mundur dr kursi tinggi, kalau nggak karena udah banyak uangnya😭😭😭

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di dunia nyata, mana ada orang yang kayak Ketua Kim, berani mundur dr kursi tinggi, kalau nggak karena udah banyak uangnya😭😭😭

Ini kalau ibunya Seowoo tau, bakal makin seneng dia🙏🏻 Tapi doain aja, semoga cepet ketauan. Biar ditebas balek sama suaminya wakil im😀

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang