Unspoken: Fifty Nine ― 59

199 31 9
                                        

Orang-orang yang turut membantu Seokjin, bekerja lebih baik dan lebih cepat daripada apa yang pria itu kira. Sampai malam hari saat Seokjin sedang menikmati waktu santainya di apartemen, mereka masih mengirimkan hasil kerja cerdas mereka.

Di ruang tempat bertemu Saegyeong dan cucu laki-lakinya sebelum meninggal, ada kamera pengawas tersembunyi yang merekam pergerakan Saegyeong dan Seowoo saat berbicara, juga suara yang mereka keluarkan.

Usai menonton rekaman kamera pengawas itu, Seokjin merasa benar-benar marah. Dia meremas jemarinya dengan kuat, menekan rahangnya, dan merasa ingin berteriak.

Brengsek!

Bajingan!

Idiot!

Berapa kata lagi yang harus Seokjin berikan pada laki-laki dari Keluarga Im? Mereka menyakiti Ibunya dengan kelalaian Im Sohyeong, lalu lebih dari itu, Ibunya juga mendapatkan pelecehan seksual.

Sebelas tahun kebenarannya tidak pernah terungkap. Sebelas tahun juga pelaku yang telah menyakiti Ibunya hidup bebas sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

"Brengsek!" Seokjin sudah tidak tahan lagi. Dia menendang meja untuk meluapkan emosinya. Namun, belum puas sampai di situ, Kim Seokjin pergi menuju kaca besar di sudut kamarnya, lalu meninjunya berkali-kali hingga hancur. Seolah dikuasai oleh api kemarahan terhadap Keluarga Im, Kim Seokjin benar-benar kehilangan akal sehat. Dia tidak merasakan sakit pada tangannya yang berdarah akibat pecahan kaca, karena sakit pada hatinya lebih parah dari itu.

Hingga akhirnya, Sojung datang bagai sebuah kebetulan. Dia langsung menuju Seokjin dan menghampirinya. Ini kali pertamanya bertemu dengan Seokjin, setelah menghindari pria itu. "Kim Seokjin, apa yang terjadi?"

Saat mata pria itu menatap istrinya yang mendekat, air mata tak bisa ia tahan lagi. Dia mundur beberapa langkah, menjauh dari pecahan kaca yang berserakan. Dia juga menjadi tidak bertenaga setelah melihat Im Sojung datang mendekat padanya.

"Kenapa harus dirimu?" Seokjin mengatakannya dalam kondisi dirinya yang super emosional. Napasnya tidak teratur, karena air mata dan emosinya mengganggu itu. "Apa kau sudah tahu semuanya? Apa karena itu kau menghindariku dan tidak pernah mau bertemu denganku? Apa kau merasa bersalah padaku?"

Walau matanya mulai dibanjiri air mata, Im Sojung berusaha untuk tetap tegar dan tidak sekalipun menunduk. "Benar. Aku sudah tahu semuanya," jawab Sojung. "Namun aku tidak merasa bersalah, karena aku bukan pelakunya. Sekarang, biarkan aku mengobatimu lebih dulu. Darahmu tidak berhenti mengalir sedari tadi."

Kim Seokjin lagi-lagi berjalan mundur, tapi kali ini tujuannya untuk menghindari Im Sojung. "Ini bukan apa-apa, dibandingkan dengan rasa sakit karena ketidakadilan yang Ibuku dapatkan, juga keadaan hatiku yang setelah sebelas tahun ... baru tahu kebenarannya."

Im Sojung lantas mendangakkan kepala, menahan air matanya sambil mengatur napas serta emosinya. Setelahnya, dia kembali berkata, "Yeobo, kemarilah sejenak. Kau bisa semakin terluka kalau lukamu dibiarkan begitu saja. Beberapa waktu lalu kau yang membantuku pulih, kali ini biarkan aku yang membantumu; merawat luka di tanganmu hingga sembuh."

"Tapi ini benar baik-baik saja," kata Seokjin lagi.

Namun, Im Sojung tetap tidak mau peduli. Dia tetap berjalan, mendekat pada Seokjin, memeluk pinggangnya dan menuntun pria itu menuju tempat yang lebih memungkinkan.

"Seolhee bilang kalau kau, aku, bibi ji dan dia adalah satu tim. Untuk itu, aku memberanikan diri, datang menemuimu malam ini, agar aku bisa mengatakan padamu bahwa aku ... akan berada di pihakmu," kata Sojung. Wanita itu mendudukkan Seokjin dengan hati-hati di sofa, sebelum pergi ke belakang sebentar untuk mengambil kotak P3K juga wadah yang berisi air untuk membersihkan luka Seokjin. "Ini juga menyakitkan untukku. Aku juga perempuan, sama seperti Ibumu. Kalau kau sebagai putranya merasa marah, aku sebagai menantunya juga sebagai perempuan, merasakan marah lebih dari apa yang kau kira."

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang