Pada minggu pagi, awal datangnya musim semi, hal yang mengejutkan terjadi pada Sojung. Wanita itu sedang menikmati waktunya sendiri, berkeliling mengendarai mobilnya sendiri. Namun, di tengah perjalanannya, Sojung mendengar dengan telinganya sendiri kabar berita mengenai dirinya lewat tape audio mobilnya yang sedang ia dengarkan.
Dirinya begitu terkejut, saat tahu kalau namanya disebut beberapa kali. Isu yang menyandungnya kali ini ... berhubungan dengan Seolhee.
Sojung kini menepi, menghentikan mobilnya sejenak. Dia mengambil sedikit waktu untuk mengatur napasnya. Setelahnya, dia segera mencari ponsel kerjanya di dalam tas―yang sebelumnya ia nonaktifkan.
Seolah diserbu, ponsel Sojung bergetar dan menerima notifikasi secara beruntut. Sojung yang masih terkejut lantas melempar ponselnya ke kursi penumpang―di samping kursi kemudi―dengan raut khawatir. Tubuhnya bergetar, ia kehilangan arah untuk mencari jalan keluar selama beberapa saat. Dia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini.
Saat ponselnya yang lain―ponsel pribadinya―bergetar, Sojung langsung menciptakan fokusnya kembali. Namun, ternyata, yang dia dapatkan kali ini justru adalah hal yang ingin ia hindari. Suaminya menghubunginya. Apa yang harus dia katakan pada Seokjin? Dia belum menyiapkan apapun. Ini terlalu tiba-tiba untuknya.
Namun, Im Sojung bukanlah orang yang akan menyerah pada jalan yang buntu. Dia akan mencari jalan lain. Cara berpikirnya selama ini adalah satu-satunya hal yang dapat membantunya menemukan jalan keluar yang lain. Dengan cara pikir itu pula, Sojung menginjak pedal gas kembali, usai berhenti untuk mengendalikan napas, juga emosinya.
Dia akan pergi sebentar, untuk menenangkan dirinya, sekaligus mencari jalan keluar.
―Unspoken―
Dengan harap cemas, Kim Seokjin menanti kabar yang akan diberikan oleh istrinya. Pria itu, suami Im Sojung, memilih untuk tidak menelan mentah-mentah rumor besar terkait anak yang disembunyikan oleh istrinya. Meski tidak seratus persen, tapi enam dari sepuluh perbandingan persentase kepercayaan Seokjin, masih dimiliki oleh istrinya.
Dding-ddong!
Seokjin kira, yang datang di luar adalah Sojung. Namun, ternyata, yang berdiri di depan pintu apartemennya sekarang adalah Ibu mertuanya. Pria itu masih segera membukakan pintu meski yang datang bukanlah orang yang sedang ia nanti.
"Kau sudah mendengarnya? Im Sojung ...."
"Aku tahu," kata Seokjin. "Ayo masuk dulu, Bu. Jangan terus di luar."
Namra akhirnya melangkah masuk ke dalam tempat tinggal anaknya. Air matanya langsung ia keluarkan saat tahu di sini hanya ada Seokjin dan dirinya. Dia menutup wajahnya sendiri, demi melindungi harga dirinya di hadapan sang menantu.
"Orang bodoh macam apa yang membuat rumor seperti itu? Kenapa dia begitu tega pada putriku?" Namra berbicara setelah berhasil menguasai emosinya sendiri. "Menyembunyikan anak perempuan ... huh! Tidak sedikit orang bahkan tahu kalau Im Sojung memang rutin berdonasi untuk anak-anak di rumah asuh. Putriku begitu karena dia mencintai dan peduli pada anak-anak di sekitarnya! Kenapa masih ada orang yang melihat dari sudut pandang lain?"
"Im Sojung itu salah satu dari sekian banyak wanita yang terlahir sempurna. Ini salah satu konsekuensinya, karena dia lahir dengan sendok perak di mulutnya. Belum lagi kepopuleran Im Sojung beberapa waktu ke belakang, ditambah fakta bahwa dia adalah cucu tunggal perempuan Presiden Im ... banyak orang pasti penasaran pada kehidupan pribadinya. Tidak sedikit pula, orang-orang yang mencari celah kekurangan Sojung di tengah kesempurnaan yang selalu ditampilkan." Seokjin menjeda kalimat panjangnya sejenak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken
Fanfiction#1 ― bangchin #1 ― politik Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
