Mendengarkan cerita wanita yang menghubunginya lewat panggilan video, adalah hal yang sedang dilakukan oleh Ji Sungkyung. Tak bisa memeluk dan menenangkan wanita itu secara langsung, sejujurnya Sungkyung merasa sedih.
"Tidak apa-apa. Pertengkaran terjadi karena emosi kalian yang sama-sama sedang tidak stabil. Dia mengambil langkah yang benar, meninggalkanmu sebentar dan akan kembali sesegera mungkin."
"Kau tahu bahwa aku selalu memperhitungkan tiap langkah tindakan yang aku ambil, tapi kali ini aku tidak melakukannya, Bibi Ji. Aku terus berpikir kalau aku telah mengambil langkah yang salah. Aku harusnya menjaga emosiku."
"Tidak apa-apa, Im Sojung. Kau tidak akan selalu bisa mengendalikan emosimu, memperhitungkan tiap langkah yang kau pilih. Dunia itu penuh kejutan. Kau akan bahagia kalau kau menikmati hidupmu, atas kejutan-kejutan yang dunia berikan padamu."
"Arasseo." Wanita yang muncul di layar ponsel Bibi Ji itu menghapus sebagian air matanya. "Kalau begitu bagaimana caraku memperbaikinya? Apa aku harus minta maaf padanya?"
"Benar. Kau sendiri yang bilang kalau kau menuduhnya palsu, 'kan? Kau sudah berprasangka buruk terhadapnya."
"Eo, maja."
Mendadak, atensi Bibi Ji beralih pada gadis kecil yang sudah repot-repot berlari menghampirinya. "Bibi Ji, kau harus tahu dan dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan!"
"Seolhee, jangan berlari, kau bisa terjatuh nanti!" tegur Bibi Ji.
Seolhee yang tadinya sangat bersemangat, mendadak bertingkah malu-malu karena teguran yang diberikan Bibi Ji untuknya. Gadis kecil itu menunjukkan kekehannya untuk membuat Bibi Ji melupakan kesalahan yang dia lakukan―berlari dengan cepat dan tidak berhati-hati.
Mata Seolhee yang tidak sengaja mengarah pada ponsel pintar Bibi Ji, menemukan wajah Ibunya di sana. "Oh, eomma! Annyeong!" Dengan mata berbinar, Seolhee menyapa Ibunya. Namun, karena dia memperhatikan Ibunya dengan baik, Seolhee jadi menyadari bahwa Ibunya mungkin sedang tidak baik-baik saja. "Eomma, *wae uro? Apa ada yang membuatmu sedih?"
"Ani. Eomma gwaenchana, Seolhee-ya."
"Jinjja?"
"Eung!" Sojung tak mau berlama-lama diberi pertanyaan oleh Seolhee, dia tidak mau berbohong lebih banyak lagi pada anaknya kali ini. "Uri Seolhee, apa kau menemukan permen kapas yang kau inginkan? Bibi Ji bilang kau sangat menginginkan permen kapas malam ini, jadi dia mengantarkanmu ke toserba."
Seolhee menunjukkan kantung belanja di tangannya. Dengan semangat dia berseru, "Aku mendapatkannya!"
Mendengar suara anaknya yang ceria dan begitu bersemangat, serta melihat senyuman lebar yang cerah bak mentari―padahal saat ini adalah waktu malam, Sojung ikut merasa bahagia, dia tersenyum di layar ponsel Bibi Ji. "Kau senang mendapatkannya?"
"*Eomcheong!" Seolhee menunjukkan kedua ibu jari tangannya. Usianya yang semakin bertambah, membuat dirinya bertambah pintar pula memainkan ekspresi. Ekspresi wajah yang menggemaskan yang diberikan Seolhee, membuat Sojung makin tersenyum di sebrang sana.
"Aigoo, uri ddal. Neomu gwiyeowo!" Sojung tersenyum dan menunjukkan raut gemasnya untuk Seolhee di layar. "Karena suasana hatimu sedang senang, kenapa tidak berbagi kebahagiaanmu dengan memberikan ciumanmu pada eomma?"
Seolhee mengerti bahwa Ibunya meminta ciuman jarak jauhnya, jadi dia melakukannya. Setelah itu, Seolhee meminta Sojung melakukan hal yang sama. "Eomma, Seolhee do."
Sojung tersenyum dan memberikan ciuman jarak jauhnya untuk Seolhee. Dia dibuat makin tersenyum saat putrinya memuji ciuman jarak jauhnya dengan penggalan lirik lagu pororo―kartun yang selalu menjadi favorit Seolhee sejak umur lima tahun. "*Eomma popo sesangeseo jeil joha!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken
Фанфикшн#1 ― bangchin #1 ― politik Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
