#1 ― bangchin
#1 ― politik
Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
Sojung mulai mengurangi jadwalnya sebagai Wakil Pimpinan di KBC. Suaminya mengcover sebagian jadwalnya dengan sukarela. Dia merasa beruntung karena Seokjin melakukannya. Dia juga berterimakasih karena masih diizinkan beraktivitas bersama KBC, alih-alih diperintahkan untuk mengambil cuti lagi karena sedang mengandung.
Kim Seokjin begitu karena pria itu paham. Sojung terbiasa bekerja keras dari dulu, dia juga mencintai posisinya saat ini, jadi dia tidak mau berlaku egois dengan menyuruh istrinya berhenti beraktivitas bersama KBC sementara waktu, hingga sepasang anak kembarnya lahir nanti.
Begitu duduk di kursi penumpang, Sojung langsung sibuk dengan panggilannya, melupakan banyak hal lain. "Jadwalku sudah selesai hari ini. Kau sedang dimana?"
Saat ini, Sojung yang sedang dalam perjalanan melakukan panggilan suara bersama suaminya. Jadwalnya sudah selesai, sementara Seokjin masih harus melakukan jadwalnya yang lain. Mereka berbicara sebentar di panggilan karena Seokjin masih punya waktu hingga jadwal berikutnya nanti.
"Berapa jeda waktunya? Haruskah aku menemuimu sebelum aku pulang ke rumah? Terlalu lama jika aku harus menunggumu sampai nanti malam, aku sudah merindukanmu," ujar Sojung dengan begitu manja di sambungan.
"Aigoo. Aku juga merindukanmu. Aku masih punya waktu hingga satu jam ke depan. Posisimu dimana sekarang? Aku di Cafe Kyeong, bersama Sekretaris Kang."
"Eo? Aku juga berada di dekat situ," bohong Sojung. "Tunggu sebentar, aku akan menyusulmu." Sojung menutup microphone ponselnya, lalu berpesan pada supirnya untuk memutar arah, karena dia ingin kembali agar bisa bertemu dengan suaminya.
"Aku sudah bilang pada supir kalau aku akan mampir di Cafe Kyeong, jadi tung―"
Rasa tidak sabar bertemu dengan suaminya berganti menjadi khawatir saat Sekretaris Jang meneriaki namanya, dan saat dirinya terguncang karena mobil yang ia tumpangi berputar-putar di jalanan dan terguling. Saat itu, Im Sojung hanya mampu menutup matanya. Dia berhenti memikirkan suaminya dan secara naluri berpikir bagaimana caranya melindungi kandungannya.
Sayangnya, sabuk pengaman yang lupa ia gunakan karena terlalu sibuk dengan panggilan suara dari suaminya, membuat Sojung tidak bisa berharap pada apapun selain keajaiban. Hingga akhirnya, Im Sojung kehilangan kesadaran diri dengan kondisi berdarah pada dahi, tangan, juga di bawah perutnya.
―Unspoken―
Hal yang membuat Seokjin terguncang adalah ... dirinya yang menemukan langsung istrinya bersimbah penuh darah akibat kecelakaan lalu lintas. Seokjin menyaksikan bagaimana kondisi Sojung setelah berhasil dievakuasi dan masuk ke dalam mobil ambulans. Dia begitu takut, dia khawatir, dia benar-benar merasa cemas, tapi dia tidak tahu bagaimana seharusnya ia bersikap sekarang.
Rasanya tubuhnya begitu lemas, napasnya tak bisa teratur, dia kehilangan kendali diri. Satu-satunya hal yang dapat ia pahami adalah ... mobil yang ditumpangi istrinya tergeser sekian meter dari tempat kejadian perkara. Sebelum sampai di tempat mobil yang istrinya tumpangi, Seokjin sudah melihat ada mobil lain―mobil pengangkut barang besar―menabrak pembatas jalan yang posisinya tidak jauh dari tempat kejadian perkara.
Dengan segala usahanya mengembalikan kesadaran, berusaha meraih kembali kendali diri, Seokjin mencoba menghubungi Sekretatis Kang. Dia memberikan lokasinya saat ini, sesaat sebelum dia menekan tombol panggilan. "Kang Biseo, datang ke tempat yang kukirim padamu, sekarang. Mobil yang ditumpangi Wakil Im mengalami kecelakaan. Aku harus segera menyusul ke rumah sakit. Bantu aku mengurus segala sisanya."
Kim Seokjin langsung berlari ke dalam mobilnya dan menyusul ke rumah sakit sesegera mungkin. Sekretaris Kang yang akan mengurus kejadian kecelakaannya, sementara dirinya bisa fokus pada istri juga anak-anaknya yang masih ada di dalam kandungan.
Seokjin mengurus semua administrasi rumah sakit bagi supir, juga Sekretaris Jang yang ikut terluka dalam kecelakaan ini. Sayangnya, tak berselang lama, dia juga menerima kabar kurang baik dari Dokter yang menangani istrinya di UGD. Mau tak mau, Im Sojung harus melakukan operasi sesegera mungkin.
Dua anaknya gugur, karena trauma yang dialami Im Sojung. Trauma yang dimaksud di sini adalah benturan dan tabrakan yang terjadi pada tubuh Im Sojung. Dokter yang bertugas menyampaikan bahwa trauma yang dialami Sang Ibu, menyebabkan berbagai macam gangguan fisiologi pada dua janin mereka, hingga akhirnya kedua janin itu tidak bisa bertahan lagi.
Tentu saja berat untuk Seokjin menerimanya, tapi dia sudah terpukul sejak melihat Sojung terluka saat pertama kali, tadi. Jadi, yang terlintas di pikirannya saat ini hanyalah istrinya. Dia segera menandatangani persetujuan operasi darurat pengangkatan janin Im Sojung, tanpa menjeda waktu lebih lama lagi.
Selagi menunggu proses operasi berlangsung, dia mengambil ponsel dan segera menghubungi Ibu mertuanya. Dia menghapus air mata―yang entah sejak kapan turunnya―sejenak, sebelum berbicara di sambungan.
"Ibu, kau sedang sibuk?"
"Tidak terlalu. Ada apa, Kim Seokjin? Tidak biasanya kau menghubungi Ibu dan bertanya seperti itu." Namra menjawabnya seolah wanita paruh baya itu tersenyum, menyambut dengan senang panggilan dari menantunya. Padahal, yang akan Seokjin sampaikan ini adalah berita yang buruk.
"Ibu, maafkan aku, tapi aku harus menyampaikannya. Im Sojung mengalami kecelakaan. Benturan yang dialaminya membuat bayi kami tidak bisa diselamatkan. Sekarang Im Sojung ... sedang dalam penanganan, dia harus dioperasi, karena dua bayi kami gugur."
"Apa?" Seokjin mendengar sendiri bagaimana cara Ibu mertuanya berbicara setelah tahu kabar mengejutkan itu. Sama sepertinya, Namra kesulitan mengendalikan napasnya. Dia begitu terkejut mendapatkan kabar dari menantunya, kali ini. "Seokjin katakan padaku. Apa putriku terluka begitu parah?"
"Dari sudut pandangku, ini memang kecelakaan yang cukup parah. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana keadaannya, karena aku sendiri masih terguncang, Bu. Aku hampir tidak bisa melewati ini."
"Kirimkan alamat rumah sakitnya. Ibu akan menyusulmu ke sana."
Panggilannya terputus, Seokjin langsung mengirimkan alamat rumah sakit tempat istrinya diberikan tindakan. Dia spontan meringsut ke bawah, tenaganya seolah tidak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Sudah terlalu banyak energi yang Seokjin keluarkan untuk berusaha―sedikit lebih―baik-baik saja saat keadaan terburuk menimpanya.
Ini kali kedua baginya. Namun ini yang sangat-amat memukulnya, dan mengguncang batinnya. Kim Seokjin kali ini menghadapinya sendirian, tapi walau begitu dia harus bertahan. Dua calon bayinya mungkin sudah tidak akan bisa diselamatkan, tapi istrinya bisa.
Apa yang terpenting bagi Seokjin kali ini adalah Im Sojung. Mau seberapa besar nalurinya sebagai seorang Ayah, naluri Kim Seokjin sebagai suami adalah yang paling kuat. Setelah penyesuaian yang dilakukan Seokjin hampir satu tahun belakangan, rasanya akan sangat berat jika harus melakukan penyesuaian lagi di masa depan. Dia membutuhkan istrinya, karena Im Sojung saat ini adalah hal yang paling berharga untuk hidupnya selama tiga puluh tahun terakhir.
―Unspoken―
A/N: Yah, gimana ya? Kita mau kasih meme juga nggak enak. Masalahnya emang lg kaget dan berduka hari ini. Turut berduka banget, Ketua Kim😔 Semoga diberi ketabahan lebih buat lewatin konflik ini🙏🏻💗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RIP Calon Bayi Kembar kita💗 Appa yang ikhlas, yaa. Nanti dapet lagi kok, pabriknya 'kan masih open #BERCANDA_WEYYY🙏🏻🙏🏻🙏🏻✌🏻