Unspoken: Twenty Four ― 24

250 42 12
                                        

Cho Seowoo berjalan dengan kepercayaan dirinya yang penuh. Ditemani Ibunya di sisi, mereka bertemu dengan Im Sohyeong dan Jeong Namra di perjalanan menuju ruang rapat umum para petinggi.

"Senang bertemu denganmu di sini, Paman Im," sapa Seowoo setelah dia menutup langkahnya untuk berbicara dengan Ketua Pimpinan KBC saat ini. "Meski lawanku adalah menantumu, aku jujur mengharapkan bahwa aku juga akan mendapat dukungan darimu."

Mendengar kalimat penuh kemunafikan dari Seowoo, tentu saja Sohyeong merasa muak. Tawanya ia sunggingkan, sementara matanya menunjukkan raut meremehkan Cho Seowoo. "Tentu saja. Aku tidak akan sungkan memberikan dukunganku pada siapapun, selagi orang itu kunilai mampu dan pantas untuk apa yang sedang ia perjuangkan." Sohyeong juga menambahkan kalimatnya lagi, untuk menusuk Seowoo, "Tapi kalau berharap kau mendapat dukunganku karena merasa tak mendapatkannya selama ini, bukankah harusnya kau mengintropeksi dirimu?"

Cho Seowoo tertawa untuk mengatasi rasa sakit hatinya, tapi Ibunya tidak begitu. Sohee menegur kakaknya karena memberikan kalimat yang tidak pantas untuk anaknya. "Oppa, bukankah kau sudah keterlaluan?"

"Bukan begitu, Im Sohee." Jika Sohee berbicara untuk membela anaknya, maka kali ini Namra berbicara untuk mendukung suaminya. "Suamiku hanya mengatakan bahwa dia akan memberikan dukungannya pada orang-orang yang pantas, tapi Seowoo tidak berpikir seperti itu sebelumnya. Jadi dimana letak sikap suamiku yang keterlaluan?"

Rahang Sohee mengeras, dia akan kembali menimpali Namra kalau saja Seowoo tidak menegurnya. Hal itu tentu saja membuat senyum Namra merekah, dia merasa menang.

Tak hanya senyum Namra yang merekah, tapi senyum Sohyeong juga, karena tak lama dari itu, perawakan yang mereka nanti-nanti akhirnya muncul dan mendekat ke arah mereka. Kim Seokjin berhasil kembali beberapa jam lalu, sebelum rapat pemegang saham dilaksanakan. Meski putri mereka tidak kembali bersama pria itu, keduanya setidaknya jadi bisa sedikit lebih tenang saat mendengar penjelasan menantunya beberapa waktu lalu―saat Seokjin baru saja menginjakkan kaki di Seoul.

"Senang bertemu denganmu, Cho Seowoo." Kim Seokjin menyapa lawannya, memberikan senyuman terbaiknya―berharap bahwa hal itu bisa memengaruhi Seowoo, karena dirinya kini bisa berdiri di gedung KBC, alih-alih terjebak di Jeju dan kesulitan untuk kembali ke Seoul sebelum rapat pemegang saham dilangsungkan.

Unspoken

Soojin menggigit bibirnya, menghentakkan kaki beberapa kali di tanah untuk mengatasi rasa gelisahnya. Soojin tahu kalau Seokjin bersama istrinya akan pergi mencari pemukiman dan meminta bantuan, tapi Soojin tidak tahu kalau ternyata adiknya bersama sang istri akan pergi selama ini. Soojin sedikit khawatir akan segala kemungkinan penyebab adiknya terlambat kembali ke tempat di mana tenda mereka dibangun.

"Mereka tidak mungkin lupa arah jalan pulang, 'kan?" Soojin bertanya pada Sekretaris Kang yang berdiri di depannya.

"Ketua Kim mengingat semua hal dengan baik, dia tidak mungkin lupa arah untuk kembali," kata Sekretaris Kang.

Soojin menjetikkan jarinya. Dia khawatir, tapi dia tidak lupa kalau adiknya cukup andal dalam mengingat. Sekretaris Kang bahkan mendukungnya. "Benar. Adikku pengingat yang andal. Mereka tidak mungkin tersesat." Soojin menggelengkan kepalanya, berusaha menepis anggapannya bahwa Seokjin dan istrinya tersesat. Meski ada kemungkinan―karena ini adalah tempat asing bagi mereka semua―Soojin menolak untuk berpegang teguh pada anggapannya yang satu itu.

Tak lama dari itu, mereka dihampiri beberapa mobil. Begitu salah satu orang turun dari mobil paling depan di antara mobil lainnya, ketiganya langsung memusatkan fokus di sana dan merasa lega karena menemukan titik cahaya harapan.

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang