Unspoken: Fifty Two ― 52

189 31 27
                                        

Sojung bersandar pada bantal yang disandarkan pada kepala ranjang. Dia memeriksa tabletnya, memantau berita skandal tentang suaminya. Rupanya, kian hari kian memanas. Sekarang sudah banyak orang yang meminta Seokjin turun dari jabatannya sebagai Kepala Pimpinan di KBC. Wah ... memangnya Seokjin ketika akan jadi Kepala Pimpinan dulu, mereka ikut berperan? Kenapa sekarang mereka ramai-ramai ingin membuat suaminya melepas jabatan? Sejujurnya, mereka sudah keterlaluan kali ini.

"Masalahnya kalian tidak berperan apapun saat suamiku akan naik jabatan dulu. Kalian juga bukan siapa-siapa. Kenapa repot-repot marah, membenci, dan mengusirnya dari posisi Kepala Pimpinan di KBC?" Sojung merutuki tiap membaca komentar buruk, apalagi komentar yang setuju kalau Kim Seokjin lepas dari jabatannya saat ini. Dia merasa kesal. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya karena Seokjin diam dan belum mengeluarkan klarifikasi apapun, itu bukan berarti Seokjin mengakui skandalnya, 'kan? Huh. Bodoh dan menyebalkan sekali!

"Kalian menyumpah-serapahi suamiku untuk apa memangnya? Apa itu dilakukan untukku? Aku bahkan sudah baik-baik saja dengannya. Dia tidak seperti apa yang kalian kira, tahu!" Sojung mendengus. Rasanya dia ingin ikut menambahkan komentar dan mengaku sebagai dirinya, agar orang-orang berhenti menyalahkan suaminya. Dia begitu tidak nyaman dengan ini.

Namun di tengah itu, pintu ruangannya diketuk. Penjaganya masuk bersama wanita yang menggunakan alat bantu tongkat yang menopang tubuhnya. Sojung spontan mengangkat badannya sedikit, membuat posisinya menjadi duduk sempurna tanpa bersandar pada kepala ranjang.

"Permisi, Wakil Im. Bisakah ... saya berbicara dengan anda?"

Hati Sojung menjadi sedikit bergerak ketika mendengar kalimat itu di telinganya. Rasanya seperti ada ketakutan, juga ada keraguan yang tersampaikan lewat suaranya. Jadi Sojung memilih untuk menghargai orang itu, menghargai keberaniannya walau rasa takut dan ragunya mungkin memberatkannya.

"Kau bisa keluar sekarang," titah Sojung pada penjaganya.

Laki-laki berbadan kekar dan bertubuh tegap itu lantas menurut. Dia segera keluar, membiarkan Im Sojung hanya berdua dengan wanita yang diantarnya tadi.

Wanita yang dimaksud adalah Sekretaris Jang. Belum mulai berbicara lagi, wanita itu malah menangis di depan Sojung. Dia menundukkan wajahnya, tapi dia memperdengarkan suara tangisannya di telinga Sojung.

Sejujurnya, Im Sojung kurang menyukai itu. Kenapa harus menangis di depannya? Apa di sini, wanita itu yang terluka? Tidak juga. Im Sojung juga sama terlukanya. "Berhenti menangis begitu. Suamiku terlibat skandal karena dia memperhatikanmu yang sedang menangis. Kalau kau juga seperti itu padaku, aku khawatir akan muncul rumor baru yang menyudutkanku, karena aku dianggap membuatmu menangis."

"S-saya minta maaf, Wakil Im." Karena merasa tidak enak, Sekretaris Jang menghapus air matanya dan berhenti menangis. "Seperti apa yang telah anda tahu, kalau saya dituduh menjadi selingkuhan Ketua Kim. Saya berani bersumpah ... saya tidak melakukannya! Semuanya hanya jebakan dan rekayasa. Foto-foto kami diambil secara kebetulan."

"Arra," balas Sojung. "Karena itu, kau pasti merasa kesulitan saat ini, 'kan? Kau kebingungan. Aku adalah atasanmu dan orang yang dirumorkan berselingkuh denganmu adalah suamiku. Bagaimana caramu melewatinya?"

Di awal, Sekretaris Jang mengira kalau Im Sojung sudah marah padanya dan akan sulit baginya memberitahu atasannya itu mengenai bagaimana sisi dari sudut pandangnya. Namun, kalimatnya barusan membuat Sekretaris Jang berpikir ulang. Mungkin, Wakil Pimpinan Im tidak semarah itu padanya.

"Mari anggap kalau hidup kita adalah sebuah kapal di atas air," sambung Sojung untuk kalimatnya yang masih berlanjut. "Setelah kapal kita mungkin berhenti karena terhambat oleh batu di sungai, kemana kita akan pergi setelah berhasil melewati batu itu?"

"Saya tidak begitu mengerti," kata Sekretaris Jang.

"Kita akan pergi lagi, sesuai dengan arah arus air membawa kita," kata Sojung. "Batu di belakang sudah tidak akan bisa terlihat lagi oleh kita, karena kita berjalan ke depan. Kita mungkin hanya bisa mengingatnya, namun dengan perasaan yang berbeda nantinya."

Kali ini, Sojung malah memberikan senyuman untuk Sekretaris Jang, seiring kalimatnya berlangsung. "Maka dari itu, Sekretaris Jang, mari kita hidup seperti itu. Kita mungkin akan mengingat batu yang menyandung kita kali ini, tapi mari kita hidup seperti sebelum kita bertemu dengan batu itu."

"Jangan begitu merasa terbebani, atau merasa bersalah," kata Sojung. "Beruntungnya, aku dan suamiku saling mencintai. Cinta kami lebih besar, daripada batu yang menyandung kami kali ini. Kami sudah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, dan meninggalkan batunya di belakang."

Karena suasana yang dibuat Sojung, tanpa sadar senyuman di wajah Sekretaris Jang ikut merekah. Dia bersyukur tanpa henti di dalam hati. Im Sojung dan suaminya baik-baik saja, meski skandal kali ini cukup besar dan menyerang hubungan mereka. "Dahaengine."

Unspoken―

Berbeda dengan Seokjin juga Sojung yang sedang dirundung kesulitan, Im Sohee justru menikmati kesenangan yang ia buat sendiri. Melihat bagaimana para masyarakat ramai-ramai meminta Seokjin turun dari jabatannya hari ini, membuat hatinya merasa begitu puas.

"Bukankah kita mendapatkan lebih dari apa yang kita inginkan?" Sohee berbicara dengan temannya dalam kebahagiaan yang sedang dirasakan. "Orang dari masa lalu Seokjin datang tanpa kita undang. Dia bergerak sendiri dan dia membantu kita secara tidak langsung. Lebih dari itu, bukan hanya meminta Seokjin untuk turun dari posisinya, banyak orang bahkan beramai-ramai membuat tagar untuk memasukkan KBC ke dalam daftar hitam kalau KBC tidak punya keputusan yang tegas. Bukankah rumor yang kita buat kali ini cukup kuat?"

"Tentu saja, Nyonya Im. Kim Seokjin itu bahkan tidak menyangkal skandalnya sendiri," sahut laki-laki, yang berada di pihak Sohee. "Omong-omong, apa yang harus kita lakukan pada Yoon Seungho?"

Sohee mengangkat satu alisnya sejenak. Fokusnya beralih pada sosok nama yang disebut oleh lawan bicaranya. "Yoon Seungho? Supir yang menabrak mobil Im Sojung itu?"

Dengan segera, lawan bicaranya mengangguk. "Benar. Sambil menunggu putusan, dia belum masuk ke dalam sel. Aku dengar, dia hanya menjadi tahanan kota dan melaksanakan wajib lapor dua puluh empat jam."

"Benarkah begitu?" tanya Sohee. "Tapi apapun itu, Oh Biseo, untuk mengantisipasi pengkhianatan, singkirkan dia segera. Kita sudah tidak membutuhkannya dan kita juga akan berhenti berhubungan dengannya."

Dengan tatapan mata yang serius dan begitu tajam, Sohee memandang ke arah sekretarisnya. Tanpa tambahan ekspresi apapun lagi, Sekretaris Oh langsung mengerti kalau itu adalah hal yang mengerikan. Sohee baru saja mengambil keputusan untuk menyingkirkan supir si pembunuh dua janin Sojung dan suaminya, agar langkahnya dan latar belakangnya tidak tercium oleh KBC, apalagi Kim Seokjin.

"Aku tahu kalau kau adalah orang yang cepat tanggap. Jadi, kali ini kau juga mengerti apa maksudku, 'kan?" Sohee bertanya, bersama dengan bibirnya yang menyungging.

Dirinya tidak tahu seberapa jahatnya dia, karena rasa marah dan dendam sudah menggelapkan matanya dan membuat dirinya buta. Sohee hanya peduli pada dirinya dan anaknya. Pada dendam anaknya, juga dirinya sendiri.

Kim Seokjin.

Im Sojung.

Im Sohyeong.

Im Saegyeong.

KBC.

Pekerjaannya masih cukup banyak, rupanya. Dia masih harus bekerja untuk mendapatkan kebahagiaan dirinya sendiri, juga anaknya. Namun, Sohee percaya kalau waktu pasti akan membawanya dan membuat mereka semua membayar atas apa yang telah mereka lakukan pada hidup Sohee, juga keluarganya.

"Kalau keluargaku tidak utuh lagi, maka seharusnya keluarga kalian juga tidak baik-baik saja," kata Sohee dengan suara rendah dan hampir berbisik. Kalimatnya disusul tawa jahatnya―yang makin lama, makin terdengar tinggi di dalam ruangan.

Unspoken

A/N:
Huhuhuhu, konfliknya berat ya guys? Aku berusaha ngasih yang terbaik, tapi sorry banget konflik di sini emang lbh sulit. Karena ini bukan romcom😭😭😭

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang