Unspoken: Twenty Two ― 22

280 49 13
                                        

Cho Seowoo datang ke istana pukul tujuh pagi. Tujuan utamanya adalah untuk menemui Presiden Im, menjelang rapat pemegang saham untuk pergantian Ketua Pimpinan KBC, pukul satu siang nanti.

Seowoo mengetuk ruang kerja Im Saegyeong―Presiden Im―lalu masuk ketika mendapatkan sinyal yang mempersilakannya. Menunjukkan senyum palsunya, Seowoo menarik kedua sudut bibirnya begitu tinggi. Langkah kaki dan postur tubuhnya, sengaja ia buat lebih berwibawa daripada sebelumnya. Ini adalah langkah awalnya membiasakan diri untuk hidup dan berdiri sebagai Ketua Pimpinan KBC yang baru.

"Harabeoji," sapa Cho Seowoo begitu dia mendekat pada Kakeknya―Im Saegyeong.

Sorot mata yang mulai melemah, tak membuat tatapan Im Saegyeong ikut menumpul. Dia menarik satu sudut bibirnya ketika Seowoo mendekat, pun memberikan Cho Seowoo tatapan yang begitu tajam.

"Ada apa? Kenapa perlu kemari?" tanya Im Saegyeong, sambil dia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela―yang memberikannya pemandangan tenang dan nyaman, cahaya matahari pagi menuju musim dingin.

"Hanya ingin menyapa," jawab Seowoo. "Lagipula, aku juga perlu berterimakasih padamu. Aku bisa berdiri sebagai salah satu kandidat calon ketua pimpinan yang baru di KBC, adalah berkatmu. Terima kasih, Harabeoji, sudah memberikanku kesempatan."

Dengan satu sudut bibirnya, Im Saegyeong mengeluarkan tawanya―khas laki-laki baya yang mulai memasuki usianya senjanya. "Aku hanya memberimu kesempatan untuk menjadi calon ketua pimpinan, bukan menjadi ketua pimpinan yang sebenarnya. Kenapa harus berterimakasih? Kau harus ingat bahwa lawanmu adalah Kim Seokjin."

Menyahuti tawa Kakeknya, Cho Seowoo juga berusaha untuk tertawa. "Aku selalu berhati-hati. Biarpun Kim Seokjin adalah ketua yayasan dan Ayahnya adalah Perdana Menteri, aku tetaplah yang terhebat untuk diriku. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa berdiri sebagai ketua pimpinan yang baru di KBC."

"Apa rencanamu?" Im Saegyeong tiba-tiba menyinggung tentang rencana apa yang dilakukan Seowoo untuk menyerang lawannya. "Kim Seokjin adalah ketua yayasan, meski baru, sebelum dia memulai wajib militernya, dia sudah banyak berkontribusi untuk Universitas Eunsang. Kau tahu bahwa lawanmu bukan orang sembarangan ... tapi kenapa kau tampak begitu tenang? Sebenarnya apa rencanamu, Cho Seowoo?"

Lagi-lagi, Seowoo membuat dirinya sendiri tertawa. Berusaha mengalihkan suasana, pun meredam sedikit emosinya. "Harabeoji ... apa kau benar-benar ingin tahu rencanaku?"

Tak hanya Seowoo, kali ini Saegyeong juga tertawa, begitu lepas dan sedikit panjang dari sebelumnya. "Aku sudah menebaknya. Apapun itu, kau pasti menggunakan cara yang kotor."

"Tapi, Cho Seowoo. Kalau sampai cara kotormu diketahui Kim Seokjin dan dia memberitahukannya pada setiap orang, maka aku tidak akan segan untuk berpindah ke kubu Kim Seokjin. Aku akan mendukungnya dan memberikannya kebebasan untuk memberikanmu hukuman apapun yang dia inginkan."

Im Saegyeong mengatakannya dengan begitu serius. Tiap kata dalam sekian kalimat yang terucap, berhasil didengar dan disimak dengan baik oleh Cho Seowoo. Remasan jemari di kedua kepalan tangannya, menjadi bentuk respon otak Seowoo atas apa yang didengarnya.

Unspoken

Dengan irama yang sama, langkah kaki Kim Seokjin bersama istrinya berjalan berdampingan. Keduanya menyusuri jalanan asing, demi keluar dari area sepi untuk menemukan pemukiman. Dua orang penjaga yang sebelumnya dikirim istana, benar-benar sengaja meninggalkan mereka. Padahal pukul satu nanti, Kim Seokjin harus hadir pada rapat pemegang saham di KBC.

"Darimana kau mendapatkan ide untuk meminta Presiden Im memberikanmu saham sebesar itu beberapa saat sebelum rapat pemegang saham dilangsungkan? Apa kau sudah menduga bahwa kejadian ini mungkin saja terjadi?"

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang