#1 ― bangchin
#1 ― politik
Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
Publik mendadak heboh atas berita kecelakaan yang menimpa keluarga kepresidenan. Meski bukan dalam perjalanan kenegaraan, banyak yang menaruh perhatian mereka karena kecelakaan tersebut melibatkan Cucu Presiden Im yang sedang mengandung. Apalagi setelah ada desas-desus bahwa Im Sojung adalah satu-satunya orang yang tidak menggunakan sabuk pengaman dalam kecelakaan itu. Mereka jadi semakin bertanya-tanya akan kondisi kandungan Cucu Presiden mereka itu.
Untuk mengendalikan keadaan, Kim Seokjin menggunakan kekuasaannya untuk mengendalikan berita-berita yang mungkin memicu ketertarikan dan rasa penasaran masyarakat. Kim Seokjin berusaha menghapus dan melenyapkan artikel-artikel yang membuat rumor tentang kecelakaan yang dialami istrinya. Kim Seokjin juga memasang penjagaan ketat di beberapa titik rumah sakit, juga daerah sekitar ruang perawatan istrinya.
Segera setelah Sojung dioperasi, Seokjin menjenguk istrinya yang belum sadarkan diri. Hatinya terasa seperti ditusuk belati, suasana hatinya juga benar-benar buruk, Kim Seokjin hampir kewalahan melalui apa yang terjadi saat ini.
Dia tidak bisa melupakan dua calon bayinya begitu saja, tapi dia juga tidak bisa melihat Sojung terluka seperti ini. Selain fisiknya, Im Sojung juga pasti akan terluka secara naluri kalau tahu bahwa janinnya sudah diangkat sebelum ia sadarkan diri. Seokjin tidak mampu membayangkannya. Jika dia merasakan sakitnya sehebat ini, Im Sojung―yang merupakan Ibu yang mengandung dua janin itu―pasti akan lebih terluka.
Drrrttt ....
Di tengah kegundahannya, Seokjin harus beralih pada notifikasi handphonenya. Sekretaris Kang memberi kabar bahwa Sekretaris Jang sudah sadar dan merasa baik-baik saja setelah kecelakaan.
Seokjin perlu menemui Sekretaris istrinya itu. Selain sedikit memperhatikannya karena dia adalah salah satu orang terdekat Im Sojung, Seokjin berencana untuk memastikan sendiri tentang desas-desus yang ramai dibicarakan masyarakat: kabar bahwa Im Sojung tidak mengenakan sabuk pengaman sebelum dan saat kecelakaan terjadi.
Dia berbicara empat mata dengan Sekretaris Jang, setelah Sekretaris Kang pergi untuk mengurus hal lain. Seokjin duduk di bangku, di sisi brankar Sekretaris Jang. Dia begitu merasa bersalah ketika memahami ekspresi yang sedang Sekretaris Jang tunjukkan. Kecelakaan ini pasti membuatnya mengalami guncangan juga, ditambah fakta bahwa atasannya yang harusnya ia jaga justru mengalami luka paling parah.
"Jangan begitu, Sekretaris Jang. Istriku baik-baik saja, dia wanita yang kuat. Kurasa kau paling paham mengenai itu." Kim Seokjin masih berusaha menghibur Sekretaris Jang, padahal dia sendiri masih dalam posisi rapuh.
"Saya dengar kalau janin kembar Wakil Im harus diangkat, karena telah gugur. Saya benar-benar merasa bersalah akan itu, harusnya saya bisa lebih teliti dan lebih sigap lagi melindungi Wakil Im," lirih Sekretaris Jang.
"Kau bukan penjaganya, jadi jangan merasa bertanggungjawab untuk setiap saat melindunginya," kata Seokjin. "Aku tidak akan berbohong kalau kami tidak terpukul setelah kehilangan calon bayi kami, tapi aku ingin kau tahu kalau ini bukan salahmu. Ini mungkin salah satu cara Tuhan menguji keluarga kami."
Sekretaris Jang tiba-tiba menangis. Dia menutup wajahnya dengan dua telapak tangan dan menangis sejenak di balik sana. "Saya tidak tahu kalau ini akan terjadi pada Wakil Im. Sekali lagi, maafkan saya, Ketua Kim."
Tidak ada yang bisa Seokjin lakukan hingga Sekretaris Jang berhasil mengendalikan dan menenangkan dirinya sendiri. Melihat Sekretaris Jang yang sebegitu terguncang, Seokjin jadi yakin kalau kecelakaan yang melibatkan istrinya bukan kecelakaan biasa.
Namun, saat ini Kim Seokjin masih menunggu analisa dari tim kepolisian. Dia juga menantikan sebab kecelakaan yang sebenarnya terjadi, pun kalau ada orang yang menjadi tersangka dalam kecelakaan itu, Seokjin merasa penasaran dan ingin tahu tujuannya.
―Unspoken―
Menggunakan topi, serta masker penutup wajah, Sohee datang ke rumah sakit, bersatu dengan para wartawan untuk melihat Kakak laki-lakinya berbicara dengan media dalam menyampaikan keadaan terkini Im Sojung yang sempat mengalami kecelakaan. Sohee melihat ke arah Sohyeong penuh dengan senyum miring yang menjadi hiasan di wajahnya, di balik masker sana.
Sebenarnya, dia lebih penasaran dengan Kim Seokjin, namun karena yang muncul untuk memberikan pernyataan adalah Im Sohyeong, Sohee menerimanya karena ini juga lumayan menyenangkan. Dari dulu, Sohyeong tidak pernah kesusahan, apalagi merasakan penderitaan. Sama seperti Sojung, semuanya berjalan sempurna untuk Sohyeong. Bahkan ketika pria itu menemukan jalan berlubang di hadapannya, Ayah mereka―Presiden Im―akan memperbaiki jalan itu untuknya. Im Sohyeong benar-benar hidup dengan jalan lurus di hadapannya.
Menjengkelkan.
Namun, setidaknya kali ini, Sohee berhasil menemukan raut hampir putus asa Im Sohyeong. Kakaknya itu tentu saja mencintai putri tunggalnya, seperti dia mencintai Cho Seowoo. Kecelakaan yang dialami Sojung, ternyata bukan hanya melukai Seokjin, tapi juga Sohyeong, dan Namra.
Sekali dayung, dua sampai tiga pulau terlampaui. Bukankah itu cukup memuaskan?
Hingga akhirnya, lagi-lagi, Sohee tertawa dengan satu sudut bibirnya yang terangkat.
Drrrttt ....
Sohee melupakan kesenangannya sejenak. Dia beralih fokus pada ponselnya yang bergetar dan mengangkat panggilan yang diterimanya.
"Nyonya Im, apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
Im Sohee tertawa sejenak. "Apa lagi? Tentu saja bersenang-senang. Aku sedang menyaksikan sesuatu yang kunantikan sejak dulu."
"Benarkah begitu? Kalau memang seperti itu, perlukah kita mengeluarkan draft kita sekarang? Kesenanganmu pasti akan terasa lebih setelah kita mengeluarkan itu."
"Wae? Apa kau juga tidak sabar melihat hasil dari draft yang sudah kita kumpulkan dan rangkai?"
Sohee sempat mendengar tawa di sebrang karena lawan bicaranya tertawa. "Nyonya Im, itu sudah pasti. Aku tidak sabar melihatmu merasa lebih puas. Aku menjadi tidak sabar karena begitu menantikan reaksi banyak orang tentang draft yang nantinya akan kita publikasikan."
Untuk menyambutnya, Sohee ikut memberikan tawa miringnya. "Kita tidak boleh buru-buru, tapi kita juga tidak punya begitu banyak waktu. Jadi, publikasikan saja malam ini. Kebanyakan dari mereka aktif pada malam hari, setelah menyelesaikan pekerjaan dan beristirahat sejenak. Apa kau juga setuju?"
"Tentu saja. Aku akan melakukannya sesuai perintahmu."
Sohee mengakhiri panggilannya, pun menatap ke arah depan sekali lagi, melihat kesenangannya yang sudah lama dinanti. Namun tak lama setelah itu, Sohee pergi dari kerumunan. Dia masih mencoba mencari musuhnya yang lain, yang belum sempat terlihat, padahal orang itu adalah sasaran utamanya.
Kim Seokjin ... tidak akan hidup dengan damai setelah ini.
Im Sohee adalah orang yang berani menjamin kebenaran kalimat itu. Karena dia sudah mulai menyerang diam-diam, pun dengan cara yang begitu halus. Wanita itu tak akan kalah, kali ini.
―Unspoken―
A/N: Takut bangeettt looh sama Ibu Sohee😣😱😱😱
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekarang yang diincer ternyata Ketua Kim, guys, bukan Wakil Im lagi😱 Terus masalah draft ... draft apa yes kira-kira? Rumor baru lagi kah?🤔 Tentang apa yah??☺️