Unspoken: Twenty Three ― 23

276 43 11
                                        

Entah sudah sejauh apa Seokjin dan Sojung menyusuri jalan untuk mencari pemukiman dan meminta bantuan, sampai saat ini keduanya masih belum menemukan apa yang mereka cari. Seokjin yang merasa bahwa mungkin saja Sojung lelah, akhirnya mengajak wanita itu menepi dan duduk atas tumpukan batu.

Im Sojung menggerakkan jemarinya, seolah sedang memperhitungkan sesuatu. Dia tidak berbicara sampai akhirnya dirinya ditanya oleh suaminya. "Kau sedang apa?"

Sojung menutup semua jemarinya dan membuat kepalan tangan. "Menghitung waktu," jawab Sojung. "Kita mungkin sudah pergi lebih dari dua jam. Rapat pemegang saham akan dilangsungkan pukul satu, tapi setidaknya kau sudah harus berada di KBC pukul dua belas. Waktu kita tinggal tiga jam lagi, kalau sekarang benar pukul sembilan pagi."

"Lalu?" Seokjin sengaja bertanya, karena dia ingin tahu apa yang sebenarnya wanitanya itu khawatirkan.

"Ini mustahil, benar?" Sojung bertanya dengan tatapan sendu, sambil menatap mata Seokjin. "Maafkan aku, aku pasti kembali terdengar seperti aku terobsesi akan KBC. Tapi seperti yang kau tahu, Kim Seokjin, Seowoo tidak selayak itu untuk berdiri sebagai Kepala Pimpinan KBC. Kau lebih pantas dibanding dia."

"Aku punya dua puluh persen pengaruh atas terpilihnya Cho Seowoo sebagai Kepala Pimpinan," kata Seokjin. "Ayahmu juga tidak mungkin menggunakan hak suaranya untuk memilih Seowoo. Tenang saja, Im Sojung, aku pasti akan berhasil mendapat posisi itu."

"Geurae." Sojung kembali menarik pandangannya dari Seokjin, dia melempar pandangannya ke arah lain, berbagai hal yang ingin matanya lihat.

"Tapi Im Sojung, bagaimana kalau aku justru memintamu mundur sebagai wakil pimpinan kalau aku yang menjadi kepala pimpinan nanti?" Seokjin bertanya dengan hati-hati, berusaha untuk menjaga hubungan mereka.

Namun, hati Sojung terlanjur terluka. Tiga puluh tahun hidup di lingkungan keluarga patriarki, Im Sojung bertahan hidup dengan mendengar setiap kalimat yang mengatakan bahwa dia tidak seharusnya melangkah maju. Sebagai perempuan, harusnya dia berdiri di belakang laki-laki.

Sayangnya, Im Sojung adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang mengambil paham psikologi feminis. Im Sojung akan memperjuangkan apa yang menjadi haknya, melakukan apapun yang dia inginkan, dan berusaha meretas budaya patriarki yang selama ini mengurung dirinya.

Im Sojung kira, keluarga Seokjin adalah keluarga yang berbeda dengan keluarganya. Mereka hidup bahagia, memberi kebebasan untuk Soojin―perempuan satu-satunya yang tersisa di keluarga mereka, dan tidak pernah membahas hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan hak berdasarkan gender.

Namun, hari ini ... Kim Seokjin melakukannya.

"Wae?" Sojung kembali menatap mata Seokjin, berusaha menggali kejujuran dari mata pria itu.

"Aku pikir kau sudah cukup bekerja keras selama ini. Apa kau tidak ingin menikmati waktumu tanpa memikirkan KBC? Apa kau sudah cukup menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri selama ini?"

Kedipan kedua mata Im Sojung menjadi awal bagi wanita itu merenungi tiap pertanyaan Kim Seokjin. Ternyata Seokjin tidak menyinggung―sama sekali―tentang perbedaan hak berdasarkan gender. Ada alasan lain yang membuat Kim Seokjin bertanya demikian. Kim Seokjin memperhatikan dirinya, layaknya pria itu adalah suami sungguhannya, alih-alih suami politiknya.

Apa yang telah dikatakan Seokjin mampu membuat Sojung berbicara pada hati dan pikirannya. Sudah berapa lama dia bergabung dengan KBC? Walau baru menempati posisi wakil pimpinan beberapa tahun belakangan, dirinya sudah menjadi bagian dari KBC sejak ia lulus pendidikan strata pertama. Itu adalah rentang waktu yang cukup lama.

"Kau bilang padaku bahwa kau tak berencana berpisah denganku dalam waktu dekat. Kita mungkin bisa menunda, tapi kelalaian bisa datang kapan saja. Aku khawatir kalau kelalaianku bisa merusak rencana penundaan kita. Aku ingin kau menikmati waktumu sendiri, sebelum mungkin ... akan ada Malaikat Kim yang akan datang melengkapi keluarga kita." Seokjin mengatakannya dengan hati-hati, berusaha sebisa mungkin untuk menjaga perasaan istrinya.

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang