Merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi, Namra langsung menghubungi Sekretaris Na dan bertanya apakah Sojung dan yang lain sudah kembali ke Seoul atau belum. Sayangnya, ketika mendapat jawaban dari Sekretaris Na, jawaban yang ia dengar bukanlah jawaban yang dirinya harapkan, melainkan yang ia duga.
Im Sojung, suaminya, bahkan tiga orang lainnya, belum kembali dan Sekretaris Na kesulitan menghubungi mereka. Sekretaris Na bilang, terakhir dia mendengar kabar dari Sekretaris Jang―orang yang menemani Sojung pergi berlibur―adalah kemarin sore, saat Im Sojung dan yang lain berencana untuk pergi ke area kemah.
"Apa setelah itu Sekretaris Jang tidak lagi bertukar kabar denganmu?" Dengan rasa khawatir, Namra bertanya demikian.
"Maafkan saya, tapi sayangnya benar seperti itu. Kami berhenti bertukar kabar setelah itu."
"Apa kau sudah mencoba untuk melacak lokasi terakhir ponsel Sekretaris Jang? Dia tidak mungkin jauh dengan Wakil Im. Tolong beritahu aku ketika kau mendapatkan lokasinya."
"Baik, Bu. Saya akan menghubungi anda ketika saya mendapatkan titik lokasi terakhir mereka."
"Baik, terima kasih, Sekretaris Na."
Sambungan antara Namra dan Sekretaris Na resmi terputus, saat Namra menekan ikon untuk menutup panggilan. Meski begitu, rasa khawatir Namra belum juga memudar. Desiran darahnya masih tidak stabil, pikirannya pun belum sepenuhnya terkendali. Namra masih merasa khawatir atas putrinya yang menghilang tanpa kabar saat berlibur.
Maka berakhirlah Jeong Namra di sini. Wanita itu nekat menemui kepala penjaga istana tanpa melihat waktu lebih dulu―yang masih menunjukkan pukul empat pagi. Beruntung, kepala penjaga berada dalam posisi siap, sehingga Namra tidak begitu mengganggu waktu istirahatnya.
"Wakil Im menghilang tanpa kabar sejak kemarin sore. Orang-orang yang pergi bersamanya pun juga mengalami hal yang sama, termasuk Ketua Kim." Namra mulai menjelaskan situasinya pada Kepala Penjaga Istana, lalu mengemukakan maksudnya setelah mengatakan itu.
"Aku benar-benar merasa khawatir. Apa kau bisa menghubungi penjaga yang ikut pergi menjaga mereka?" tanya Namra.
"Maafkan saya, Ketua Jeong, tapi penjaga yang bertugas mengawal liburan mereka, bukan salah satu bagian dari anak buah saya. Penjaga yang mengawal mereka, adalah utusan langsung Presiden Im, dan beliau bilang, saya tidak perlu mengurusnya," tutur Kepala Penjaga Istana dengan jelas dan sesopan mungkin.
"Utusan langsung Presiden Im?" Namra bertanya karena dia membutuhkan jawaban atas kebingungannya. "Untuk apa Presiden Im melakukan itu? Kenapa dia tak percayakan saja semuanya padamu? Wah, aku makin merasa bahwa sesuatu mungkin saja terjadi pada putriku."
"Ketua Jeong, tolong jangan terlalu khawatir. Saya bisa membantu anda melacak posisi terakhir Wakil Im, sebelum ponselnya tidak bisa dihubungi," kata Kepala Penjaga Istana.
"Baiklah, lakukan." Namra hampir kehilangan akalnya. Dia tidak menemukan cara untuk berpikir secara jernih, tapi untungnya, Kepala Penjaga Istana memberikannya solusi. Setidaknya karena ini, Namra bisa bernapas sedikit lebih tenang. "Tolong berikan aku kabar baik. Temukan dan bawa pulang Wakil Im sesegera mungkin."
Kepala Penjaga Istana mengangguk-anggukan kepalanya. Dia mengundurkan diri, kemudian langsung menghubungi seluruh anak buahnya untuk bergerak mencari posisi terakhir Im Sojung.
Kepala Penjaga Istana memecah anak buahnya menjadi beberapa bagian, lalu memberikannya tugas masing-masing. Ada yang bertugas melacak lokasi terakhir ponsel Im Sojung, sementara yang lain diberikan tugas untuk langsung terbang ke Jeju dan memeriksa lokasi keberadaan Im Sojung terakhir kali, secara langsung dari CCTV Kota.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken
Fanfiction#1 ― bangchin #1 ― politik Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
