Seokjin bangun karena efek kantuk dari obat yang diminumnya sudah hilang. Dia langsung menoleh ke arah bawah saat merasa tidak nyaman pada area tangannya. Ternyata, ada wanita yang tertidur dengan posisi duduk di lantai, menyandarkan tubuh pada sisi kasur, dan menggenggam erat jemarinya.
Seokjin tidak tahu kalau seorang Im Sojung bisa melakukan ini. Sebelumnya dia juga tidak tahu kalau Im Sojung mau duduk di lantai―mengingat latar belakang keluarganya yang sangat sempurna. Namun, melihatnya secara langsung, Seokjin jadi merasa sedikit tersentuh.
Hanya sedikit, karena sebagian emosinya yang lain masih menyimpan rasa kecewa. Seokjin masih marah pada Sojung, yang jelas-jelas tidak menghargai sikap baiknya selama ini. Jadi, sebelum dia lebih lama lagi tidak bisa bangun karena tangan Sojung belum melepas tangannya, Seokjin memilih untuk melepaskan genggaman tangan wanita itu sendiri. Sudah dengan usaha hati-hati, agar tidur Sojung tidak terganggu dan dia bisa pergi tanpa Sojung sadari.
Namun, Im Sojung tidak dalam kondisi tidur yang super nyenyak. Dia terbangun ketika tangan Seokjin menyentuh tangannya untuk melepaskan tautan tangan mereka.
"Kau sudah bangun? Maafkan aku, aku tidak sengaja menutup mataku dan tertidur." Sojung yang baru saja bangun dipaksa seratus persen sadar untuk melihat bagaimana Seokjin bangun dari tempat tidur dan mengabaikannya. Pria itu pergi tanpa melihat ke arahnya, menuju ke arah pintu kamarnya.
"Jangan duduk di lantai, gunakan kasur untuk melanjutkan tidurmu atau kau bisa kembali lagi ke apartemen kalau memang merasa tidak nyaman di sini." Hanya itu yang Seokjin katakan. Itu juga dia katakan tanpa menoleh dan menaruh atensi pada istrinya.
Wah ... Kim Seokjin juga bisa menyakiti hati Sojung rupanya.
"Kau akan terus menghindariku?" Sojung bertanya, menatap ke arah perginya Seokjin meski pria itu tidak melakukannya―menatap ke arah Sojung juga. "Tidak bisakah kita berdamai saja?"
Sebelum memutar knop pintu, Seokjin menoleh ke arah Sojung dan berbicara. "Tidak. Kalau kau tidak suka, maka tinggalkanlah aku. Untuk apa kau hidup bersama orang palsu sepertiku? Kau sudah banyak menderita selama ini. Aku mengasihanimu."
"Mwo?" Sojung mendecih setelah mengungkapkan ketidakpercayaannya. Hatinya benar-benar tertusuk saat menyimak dengan baik tiap kata yang suaminya utarakan.
"Kenapa tidak ajukan cerai saja?―ah, apa karena aku baru saja terpilih sebagai Kepala Pimpinan KBC yang baru? Kau takut kalau kau menceraikanku, aku justru akan menendangmu dan menjadikanmu seperti Ibu Cho Seowoo? ... atau justru kau takut kehilanganku karena hanya aku yang memberikanmu kekuatan untuk mempertahankan posisi dalam kepatriarkian keluargamu?"
"Kim Seokjin, bukankah bicaramu sudah terlalu jauh?" Sojung benar-benar merasa bahwa Seokjin semakin dalam menusuk hatinya dengan belati dari kalimatnya. Ini bukan seperti suaminya, atau bahkan sosok Kim Seokjin.
"Menurutmu begitu?" Seokjin bertanya dengan senyuman satu sudut di penghujung kalimatnya.
Sojung benar-benar hampir kehilangan akal. Hatinya mudah sekali terluka ... dan Sojung mengutuk kekurangannya yang satu itu. "Mari sudahi situasi ini, Kim Seokjin. Aku akui ini salahku. Aku tidak menjaga emosiku tempo lalu. Aku menarik segala kalimatku yang sudah menyakitimu di hari itu."
"Wah ... kau benar-benar takut kehilangan posisimu rupanya." Sekali lagi, Kim Seokjin mengutarakan kalimatnya yang membuat Sojung kembali terluka. Namun, bukan pria itu tidak tega pada istrinya sendiri. Dia hanya sedang menahan dirinya untuk tidak memberikan rasa iba untuk Sojung―istri yang begitu dingin dan seringkali membuatnya sakit hati.
"Kau ...,"--Sojung menjeda kalimatnya untuk mengatir napasnya--"... kau tahu aku sudah menahannya. Aku tidak bisa lebih lama lagi menahan air mataku." Sojung tiba-tiba menatap ke arah Seokjin dengan air mata yang berlinang. "Dari awal memang sepertinya aku sudah memilih langkah untuk mengatur pribadiku padamu. Tapi aku tidak sejahat itu, Kim Seokjin. Bagaimana caranya aku meyakinkanmu kalau aku bukan penjahatnya?" Sojung menghapus sendiri air matanya, karena biar bagaimanapun, Im Sojung tidak mau terlihat begitu lemah di hadapan suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken
Fanfiction#1 ― bangchin #1 ― politik Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
