Unspoken: Five ― 05

316 50 7
                                        

Sojung menyajikan teh untuk menyambut kunjungan Seokjin. Dia memberikan Seokjin teh hijau yang bahannya didatangkan dari Jepang, teh hijau yang Sojung buat ini adalah teh hijau Jepang yang biasa Sojung buat untuk dirinya.

Sojung menyajikan teh tanpa mengucapkan kata apapun. Dia langsung duduk begitu teh Seokjin dan teh miliknya diletakkan di meja dengan baik.

"Hanya menyajikan ini? Kau tak menyajikan makanan pendamping seperti roti?" Seokjin bertanya demikian. Sebenarnya, Seokjin bertanya hanya untuk mencairkan suasana. Mau bagaimana lagi, kalau tidak seperti ini? Im Sojung sama sekali tak mau membuka mulutnya untuk bersuara, jika Seokjin tak melakukannya lebih dulu.

"Aku tak makan roti. Kau mau roti?"

Seokjin membuka matanya lebih lebar dan membulatkan mulutnya. Sepertinya, Seokjin menemukan satu persamaan di antara mereka berdua. "Wae?" Seokjin bertanya untuk kalimat pertama Im Sojung. "Sejujurnya, aku juga tak makan roti. Aku alergi kulit roti. Aku bisa saja memotong kulitnya dan memakan bagian dalamnya, atau membeli roti tanpa kulit, tapi aku tak melakukannya. Aku memilih tak makan roti dan hanya memakannya saat keadaan mendesak. Kalau kau, bagaimana? Kenapa kau tak makan roti?"

"*Geunyang shireo," jawab Sojung. Tatapan matanya menatap datar ke arah Seokjin, tak menyiratkan ekspresi apapun. Sojung hanya menunjukkan sisinya yang berbeda dengan sisinya yang murah hati dan mudah tersenyum.

Seokjin sedikit terluka karena ekspresi yang Sojung tunjukkan, juga karena jawabannya yang terlalu singkat padahal dirinya telah menceritakan panjang lebar alasannya tak memakan roti pada Sojung. Sepertinya laki-laki itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa meruntuhkan tembok keras yang Sojung bangun sendiri di dalam dirinya.

Seokjin membayangkan bagaimana kehidupannya setelah menikah nanti dengan Sojung. Dia penasaran, apakah Sojung akan membuka dirinya setelah itu, atau malah memperkuat tembok perbatasan di antara mereka berdua.

Namun, rasa penasaran Seokjin mendadak terkesampingkan, saat dirinya menyadari pintu dapur terbuka. Dirinya dan Sojung spontan berdiri saat mengetahui siapa yang masuk dari sana.

"Wah ... lihat siapa yang ada di sini." Wanita yang baru saja melewati pintu itu langsung mendekat dan berjalan ke arah keduanya. "Kau mendapat kunjungan lebih awal dari waktu yang dijanjikan, Im Sojung." Wanita itu meraih tubuh Sojung, merangkulnya lalu mengusap bahu gadis itu dengan tangannya. "Sudah berbicara banyak dengan Seokjin?"

"Belum sebanyak itu, Bu. Kami masih baru mengenal nama masing-masing," jawab Sojung dengan ulas senyum penuh di wajahnya.

Seokjin menaikkan alis begitu melihat Sojung tersenyum sangat lebar. Padahal beberapa waktu lalu yang dirinya lihat hanyalah wajah datar Im Sojung, atau tatapan tajam gadis itu.

"Bagaimana denganmu, Seokjin? Kau sudah mengenal putriku sejauh apa?"

Seokjin yang mendapat pertanyaan dari Ibu Sojung, langsung kembali menetralkan ekspresinya. Laki-laki itu bahkan hampir meniru Sojung, dia hendak menunjukkan ulas senyum yang lebar di hadapan calon mertuanya. "Im Sojung belakangan menjadi perbincangan publik karena sikapnya. Dia cantik, anggun dan murah hati bak putri kerajaan. Aku pikir, setelah aku bertemu langsung dan berbicara dengannya, aku akan setuju dengan pendapat mereka."

Namra tertawa sekaligus tersenyum bahagia sambil menatap putrinya. "Benar, 'kan? Im Sojung memang putri kerajaan." Namra memegang pipi Sojung sejenak untuk menunjukkan kasih sayangnya. "Kurasa kau akan menerima anakku dengan senang hati dan menyambutnya dengan cinta. Kau harus siap untuk selalu jatuh hati saat sudah tinggal bersamanya nanti."

"Ibu!" tegur Sojung karena kalimat Ibunya yang satu itu agak membuatnya kurang nyaman.

Sementara Seokjin, dia merasa penasaran. "Kenapa aku harus begitu? Memangnya Sojung biasa melakukan hal apa?"

Namra tertawa malu-malu sambil mengeratkan pelukannya pada Sojung. "Dia akan memenangkan hatimu, setiap hari. Kau harus tahu bahwa putriku memiliki 1001 pesona dalam dirinya. Kau akan merasa jatuh hati begitu dia menunjukkan salah satunya."

"Seokjin-ssi, kuharap kau tak menelan mentah-mentah apa yang Ibuku katakan." Sojung menginterupsi perbincangan Ibunya dengan calon suaminya. "Kau tahu bahwa dia adalah Ibuku. Dia hanya berusaha meyakinkanmu bahwa kau tak akan menyesal menikah denganku, menggunakan kalimatnya barusan. Sebenarnya, aku tidak begitu."

"Im Sojung, kau berusaha menunjukkan salah satu pesonamu? Kau baru saja menunjukkan kerendahan hatimu pada calon suamimu," sanggah Ibu Sojung membalas interupsi yang putrinya lakukan. Usai berbicara begitu, Namra kembali mengalihkan fokusnya pada Seokjin. "Kau lihat 'kan, barusan? Dia baru saja menyangkal kalimatku, tapi dia malah menunjukkan kerendahan hatinya. Bukankah ini yang para laki-laki harapkan dari seorang perempuan?"

"Tentu saja. Aku juga merasa begitu," balas Seokjin. "Sojung punya 1001 pesona yang bisa menjatuhkan hatiku. Namun, menurutmu, pesona apa yang harus aku miliki agar Sojung jatuh hati padaku?"

Namra bergidik, berseru-ria karena tahu calon suami putrinya berniat menjatuhkan hati putrinya meski pernikahan mereka awalnya adalah rencana dua keluarga. "Woo ... jadi kau berharap dia juga akan jatuh hati padamu, Kim Seokjin?" Namra tersenyum dengan sedikit rasa malu. "Kenapa tidak tanya langsung pada putriku? Jawaban yang akan kau dapatkan tidak akan meleset."

"Haruskah begitu?" Seokjin bertanya demikian. Setelahnya laki-laki itu maju beberapa langkah mendekati Im Sojung.

Namra langsung menjauh dari Sojung saat itu. Memberikan putrinya dan Seokjin ruang untuk berdiri dengan berdekatan sejenak. Sayangnya, Namra harus menahan napasnya sejenak karena terkejut akan apa yang Seokjin lakukan.

"Apa pesona seperti ini dapat meluluhkan hatimu, Im Sojung?" Seokjin bertanya demikian, usai mencium punggung tangan Sojung dan masih menahan punggung tangan itu tepat di depannya.

Sojung lantas menjawab, "Tidak." Namun, Im Sojung belum selesai dengan kalimatnya. Gadis itu kembali melanjutkan, "Ini justru akan meremukkan hatiku, jika kau memberikannya pada wanita lain. Lakukanlah hal ini hanya untukku, maka akan kujatuhkan hatiku padamu."

Seokjin menurunkan tangan Sojung, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku berjanji tak akan melakukannya pada wanita manapun, selain dirimu."

"Jangan lupakan bahwa aku masih di sini," seru Namra memecah kehangatan mereka berdua.

Seokjin dan Sojung lantas meregangkan pelukannya―tanpa melepas satu sama lain. Mereka sama-sama menatap ke arah Namra, tertawa sedikit, kemudian mengucapkan permintaan maaf. "Maafkan kami."

Namra hanya mengulas senyumnya sambil melipat tangannya di depan dada. "Betapa leganya aku mengetahui kalian sama sekali tak keberatan atas pernikahan yang akan dilakukan."

Begitulah yang Namra tahu. Bahwa keduanya menerima pernikahan yang akan dilangsungkan dengan senang hati. Padahal, di antara mereka berdua masih ada pembatas yang tak seharusnya mereka lewati. Mereka tidak seperti apa yang Namra kira. Mereka belum mencintai bahkan berniat menjatuhkan hati masing-masing. Mereka hanya berpikir bahwa pernikahan ini mungkin menguntungkan keduanya di lain sisi―selain mendapatkan cinta sejati.

―Unspoken―

Notes:
Geunyang shireo = Hanya tak menyukainya

A/N:
Jadi, mereka udah saling deket belum, ya?🤔
Kira-kira, kedepannya hubungan mereka bakal gimana, ya? Apa ada yang akan menjadi bucin?:D

Tidak ada yang tahu😵 Karena kita sudah tahu duluan, mereka nikah untuk kepentingan, re: perpolitikan, xixixi. Sampai ketemu di part selanjutnya!🤚🏻

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang