Ketiganya memulai hari baru bersama. Sojung yang biasanya tidak pernah sibuk saat pagi, mendadak lebih sibuk daripada biasanya. Dia harus memanggang roti, karena Seolhee masih tinggal bersamanya hari ini. Dia juga harus memotong kulit roti, karena suaminya itu tidak suka bagian roti yang satu itu.
Dulu, Seokjin pernah bilang kalau dia alergi kulit roti. Hahaha. Alergi apanya? Itu hanya cara suaminya berbasa-basi―yang sebenarnya, sudah kelewat basi. Seokjin tidak benar-benar alergi. Itu hanya kata yang suaminya pilih untuk menggantikan kata tidak menyukai kulit roti.
Memang terdengar sedikit menyebalkan, kalau diingat saat ini.
"Wah, pagi ini ada sarapan di atas meja?" Seokjin bertanya begitu keluar dari kamar.
Sojung langsung menghampiri suaminya dan membantunya merapikan dasi yang akan melilit kerahnya. Mereka memberikan salam pagi dengan saling berbagi ciuman sejenak. Setelahnya, mereka berpisah dan kembali pada kegiatannya masing-masing. "Waktu kita tinggal lima belas menit, Kim Seokjin. Kita harus berangkat lebih pagi karena harus mengantar Seolhee ke sekolah, hari ini."
"Baiklah. Aku akan menghabiskan sarapanku secepat mungkin," sahut Seokjin setelah menyampirkan jasnya di kepala kursi.
Sojung pergi ke kamar untuk menata rambut Seolhee. Dia juga membawakan roti dan susu untuk Seolhee sarapan selagi menunggu Ibunya selesai menata rambutnya.
Seolah semuanya benar-benar diatur oleh Sojung, Seolhee menyelesaikan sarapannya tepat setelah Sojung selesai menata rambutnya. Rambut Seolhee dikepang setelah dibagi menjadi dua. Sojung juga menambahkan aksesoris manis seperti pin dengan warna merah muda, sementara yang satunya adalah pin dengan bentuk buah strawberry yang lucu.
"Uri Seolhee yeppeunde," celetuk Sojung memuji putrinya yang wajahnya terpantul di cermin. Sementara yang dipuji, tersenyum malu-malu usai mengucapkan terima kasih.
Sojung membantu Seolhee membawa tasnya. Saat dia keluar, Seokjin juga sudah selesai sarapan. Suaminya menghampirinya dan memberikan tumblr berisi kopi dengan segera. "Ini sarapanmu." Itu adalah hal yang disampaikan suaminya ketika memberikan kopi buatannya.
Sojung menarik satu sudut bibirnya dan tertawa. "Apa kau membuatnya dengan benar? Aku tidak suka kopi yang terlalu manis di pagi hari."
"Tentu saja. Aku bahkan menambahkan cintaku saat membuatnya, itu pasti akan menambahkan cita rasa yang nyaman untuk kau nikmati." Seokjin mencuri ciuman pada pipi Sojung selesai mengatakannya.
Setelahnya, dia pergi begitu saja bersama Seolhee yang dituntunnya. "Seolhee-ya, kajja!"
Im Sojung dibuat tersipu malu di pagi buta ini. Namun, mengingat waktu mereka yang sangat sempit, Sojung mengalahkan egonya yang ingin terbang karena perlakuan manis suaminya. Dia memilih segera menyambar tasnya dan segera menyusul putri sekaligus suaminya yang sudah keluar lebih dulu. "Pelankan langkahnya, tunggu aku sebentar. Aku akan datang!"
―Unspoken―
Usai berbicara dengan Bibi Ji di sambungan, Sojung akhirnya tahu kalau Seolhee sampai di rumah Bibi Ji dengan aman. Walau Seolhee sudah bukan lagi rahasia, Sojung tidak mau begitu buru-buru mengambil Seolhee dari Bibi Ji. Dia juga tidak ingin memutus tali hubungan antara Bibi Ji dan Seolhee begitu saja. Jadi, untuk sementara ini Sojung dan suaminya masih hanya akan tinggal berdua, pun akan sesekali pergi mengunjungi Seolhee untuk menjenguk anak itu.
"Seolhee sampai di rumah dengan aman?" Seokjin bertanya karena dia juga menaruh perhatian pada gadis kecil itu.
"Iya. Bibi Ji yang datang menjemputnya di sekolah tadi," jawab Sojung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken
Fanfiction#1 ― bangchin #1 ― politik Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
