Unspoken: Forty Seven ― 47

227 37 15
                                        

Karena takut Sojung akan marah padanya untuk waktu yang lama, besok paginya Seokjin langsung memberikan wanita itu hadiah. Seokjin pergi pagi-pagi sekali ke toko bunga, dia juga pergi untuk membelikan teh hijau kesukaan Sojung. Dia segera kembali saat selesai berbelanja.

Seokjin langsung membuat sarapan, sepiring pancake untuk masing-masing anggota keluarga, serta yogurt dan buah strawberry sebagai pendamping di atas piring. Selain itu, Seokjin menyeduh americano untuknya, teh hijau untuk Sojung, dan jus tomat yang dicampur strawberry dan wortel untuk Seolhee.

Begitu apa yang dia siapkan selesai, Sojung datang dan memberikannya tatapan tajam. Wanita itu seperti masih marah pada Seokjin karena semalam. Dia hanya berdiri, memperhatikan Seokjin sambil bersedekap dada.

Sementara Kim Seokjin, kini menghampirinya bersama satu buket bunga dan beberapa kotak teh hijau―yang masih belum dibuka―yang sudah dilapisi kertas pembungkus. Kim Seokjin meraih tangan istrinya, namun Sojung justru menepisnya. Tak kehilangan akal, Seokjin merengkuh tubuh istrinya dan memeluknya dengan penuh kasih.

"Yeobo, mianhae ...," lirih Seokjin di telinga istrinya.

"Kenapa minta maaf padaku? Bukannya di anggapanmu masih aku yang bersalah? Kau bilang, kau yang harusnya marah," kata Sojung.

Seokjin merenggangkan pelukannya, lalu menatap Sojung dari jarak dekat dengan wajahnya yang membawa senyuman penuh. "Tidak. Aku yang bersalah. Aku harusnya lebih pengertian lagi. Kau sedang mengandung anakku, jadi seharusnya aku menjagamu. Tapi semalam, aku malah membuatmu emosi. Maafkan aku."

Sojung mengembuskan napasnya sejenak, seolah membuang rasa kesalnya pada Seokjin. "Baiklah. Aku memaafkanmu," kata Sojung sesudahnya.

Seokjin tersenyum lagi, lalu mendekat pada Sojung untuk melakukan ciuman pagi. Setelahnya, setelah wajah Sojung kembali tersipu, Seokjin memberikan bunga dan hadiah sederhana untuk Sojung. Sojung tentu saja menerimanya. Dia memeluk bunga pemberian Seokjin dan menunggu pria itu selesai menata meja makan. Harusnya, dia yang melakukan apa yang sedang Seokjin lakukan. Namun, kata pria itu sendiri, Im Sojung akan menjadi ratunya mulai hari ini. Pelayanan sekecil apapun di keluarga mereka, akan Seokjin lakukan sendiri. Im Sojung tidak diperbolehkan memberikan pelayanan karena ada dua malaikat di dalam kandungannya.

―Unspoken―

Perjalanan liburan mereka di Jeju selesai dengan menyenangkan. Seolhee membawa banyak buah tangan untuk teman-temannya, Bibi Ji mendapatkan beberapa macam buah tangan khusus dari Seokjin dan Sojung, serta pengalaman menyenangkan yang tak terlupakan bagi Im Sojung sendiri.

Mereka langsung mengunjungi Bibi Ji begitu tiba di Seoul. Sojung mendapatkan pelukan erat karena Bibi Ji merasa sudah lama sekali tidak bertemu dengannya, padahal sebelum mereka berangkat, Sojung sempat berpamitan dengan Bibi Ji.

"Omo-omo, perutmu sudah semakin besar, Im Sojung. Berapa usia kandunganmu saat ini?" Bibi Ji beralih heboh pada kandungan Im Sojung. Wah, dia seperti orang yang paling antusias atas kehamilan pertama Cucu Presiden Korea itu.

"Masuk usia tiga belas minggu, Bibi Ji. Mereka belum terlalu bertambah besar," jawab Sojung sambil tertawa. Wanita itu merasa lucu melihat Bibi Ji yang begitu antusias akan kandungannya.

Seokjin datang bersama Seolhee untuk bergabung. Bibi Ji menyambut kedatangan pria itu dengan senyum meriah juga. "Aigoo, Kim Seokjin. Usiaku yang semakin tua membuatku melupakan beberapa peristiwa dalam hidupku. Kau sudah tumbuh sebesar ini sekarang, rupanya."

"Ne?" Seokjin mendadak menjadi penasaran karena kalimat Bibi Ji. Apa yang Bibi Ji katakan seperti wanita paruh baya itu sudah mengenalnya sejak lama.

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang