Unspoken: Fifty Eight ― 58

185 27 8
                                        

Dengan usahanya, Im Sojung tetap terlihat baik-baik saja di depan putrinya. Dia masih tersenyum, masih ceria, juga masih berbicara seperti sebelumnya. Bahkan, hari ini Sojung masih memeluk Seolhee sambil menemaninya membaca sambil menyantap buah yang tadi dia potong.

"Eomma, apa Appa masih punya begitu banyak hal yang harus diurus? Aku sudah merindukannya." Seolhee menoleh ke atas, menatap wajah Ibunya. Kepalanya mendapatkan elusan begitu hangat, matanya juga kembali menerima tatapan yang begitu teduh.

"Iya, Appa masih punya begitu banyak hal yang harus dia selesaikan. Nanti, Eomma akan coba sampaikan padanya kalau Seolhee merindukan Appa." Usai memberikan pengertiannya, Sojung mengubah cara komunikasinya dengan sebuah pertanyaan. "Kalau boleh tahu, apa yang Seolhee rindukan dari Appa? Mengapa Seolhee ingin bertemu dengan Appa?"

"Semua hal tentangnya," jawab Seolhee. "Seolhee merasa lebih bahagia sejak Appa menjadi bagian dari keluarga kita. Seolhee benar-benar merasa cukup."

"Benarkah begitu?" Sojung menjeda kalimatnya karena memasukkan satu potongan buah ke mulutnya sejenak. "Jika Eomma yang berada di situasi seperti Appa saat ini, apa Seolhee juga akan merindukan Eomma? Siapa yang lebih Seolhee inginkan untuk terus berada di sisi Seolhee?"

Seolhee tertawa, dia memeluk Ibunya lebih erat, setelah melepaskan buku di genggamannya. "Eii, apa Eomma sedang cemburu? Jangan merasa cemburu seperti itu. Eomma, Appa, Bibi Ji, dan Seolhee, adalah satu kesatuan. Kalian bertiga tidak akan jauh dari sisi Seolhee. Kalian bertiga selalu menjadi orang yang Seolhee inginkan untuk terus berada di sisi Seolhee."

Sojung tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum, juga memeluk putrinya lebih erat. "Aigoo ... Kim Seolhee semakin pintar berbicara, rupanya. Kau belajar itu dari mana, hm?"

"Itu terjadi secara alami. Aku tidak mempelajarinya," kata Seolhee. "Bukankah aku adalah anak yang jenius? Aku bisa tanpa belajar."

Senyumannya berubah menjadi tawa. Im Sojung merasa sedikit terhibur dengan tingkah Seolhee yang menurutnya menggemaskan. "Tentu saja, karena kau adalah putri Im Sojung!"

"... dan putri Kim Seokjin!" koreksi Seolhee.

Kesenangan di wajah Sojung hilang, digantikan dengan decihan kecilnya. Walau dia tidak serius, dia berusaha mengatakan pada Seolhee kalau dia kembali merasa cemburu saat ini.

Unspoken

Im Sohee menggila di dalam ruang tahanannya, karena kabar beruntut yang hari ini dia dapatkan. Cho Seowoo, putra tunggalnya, satu-satunya harta yang berharga baginya, ditemukan meninggal di dalam penjara pagi ini. Cho Seowoo memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tanpa berbagi sejenak―tekanan apa yang laki-laki itu terima―padanya.

Dia menangis dan terus berteriak. Hati Im Sohee sudah hancur sejak menerima kabar kepergian anaknya itu. Namun, beberapa saat setelahnya, dia tahu kalau yang membuat anaknya memutuskan untuk mengakhiri hidup adalah ayahnya sendiri. Sejak itu, emosi Im Sohee makin tak terkendali. Dia begitu membenci ayahnya. Dia merasakan sakit hati yang lebih luar biasa daripada sebelumnya.

"Bukan aku yang kejam. Ini semua salahmu sendiri. Kenapa perlu menyerang Seokjin dan Sojung dengan fakta yang sudah mati dan sudah dikubur dalam-dalam?" Senyuman Ayahnya yang seperti antagonis sejati saat mengatakan kalimat itu, terus saja terbayang dalam ingatan Sohee. Bahkan suaranya bagai terus mengganggu indra pendengarannya. Im Sohee semakin tertekan karena dua hal yang menghantuinya itu.

Sementara, di sisi lain, Seokjin bersama Sekretaris Kang dan orang-orang yang berada di pihaknya, sibuk mencaritahu alasan Cho Seowoo melakukan bunuh diri. Pasalnya, sebelum Cho Seowoo ditemukan menggantung dirinya hingga meninggal, orang yang bekerja di pihak dan di bawah Seokjin, melaporkan bahwa Im Saegyeong sempat mengunjungi Seowoo dan berbicara dengan laki-laki yang sudah hanya tinggal nama sekarang.

UnspokenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang