"Jadi apa rencanamu setelah ini untuk yayasan eunsang? Kau akan resmi menjadi kepala pimpinan KBC sebentar lagi." Ayah Seokjin―Perdana Menteri Kim, bertanya mengenai apa yang ingin dilakukan putranya untuk yayasan keluarga setelah berhasil memenangkan suara para petinggi KBC pada rapat pemegang saham siang ini.
"Akan kuserahkan pada ahli yang professional. Aku sudah sempat berbicara dengannya, tapi kami belum membuat kesepakatan," jawab Seokjin. Dia melirik ke arah kiri―dimana arah kakaknya berdiri. "Tadinya ingin kuserahkan saja pada Soojin noona, tapi dia terus saja berbicara bahwa Jepang sempurna, Jepang sempurna, aku akan kembali ke Jepang sesegera mungkin. Wah ... dia sudah cinta mati dengan Jepang dan terbiasa meninggalkan keluarganya di Korea."
PM Kim melirik ke arah putri sulungnya, dia memberikan tawa untuk kalimat Seokjin tapi wajah dan matanya mengarah pada Soojin. Dipikir-pikir, Seokjin benar juga, Soojin sudah lama meninggalkannya dan Seokjin. Padahal, sepuluh tahun sudah berlalu, tapi sepertinya luka pada hati putrinya terlanjur tak bisa disembuhkan. "Apa yang Seokjin katakan ada benarnya. Soojinie, apa kau tidak ingin kembali menetap di Korea?"
Soojin mendecak, dia menggelengkan kepalanya. "Ayah, jika kau bertanya seperti itu untuk posisi ketua yayasan yang baru, aku menolaknya. Kita sudah pernah berbicara bahwa aku tidak menyukai hal semacam itu, itu terlalu rumit untukku."
"Jika itu terlalu rumit, setidaknya kau bisa belajar dengan Seokjin perlahan. Jangan bilang kau tidak menyukainya kalau kau belum pernah merasakannya, setidaknya kau harus mencoba lebih dulu, Kim Soojin," kata PM Kim berusaha membujuk putri sulungnya.
"Ah ... shireo!" Soojin menolak dengan rengekannya. Gadis itu berharap bahwa kali ini ayahnya akan berhenti membujuknya, karena dia memang tidak cocok dengan posisi ketua yayasan yang mengemban tanggung jawab besar meski kekuasaan dan apa yang didapatkan posisi itu hampir setimbang dengan besar tanggung jawabnya.
Ekspresi wajahnya yang tadi merengek seperti bayi, mendadak kembali pada ekspresi awal. Matanya langsung berubah tajam dan Soojin menunjukkan ketegasan wajahnya. "Seseorang menarik Sojung pergi padahal dia sedang berjalan kemari. Kim Seokjin, bukankah kau harus memeriksanya?"
"Benarkah? Siapa yang berani menariknya?" PM Kim bertanya dengan penasaran.
Seokjin langsung berbalik dan meninggalkan kakak serta ayahnya tanpa sepatah katapun. Dia sampai lupa bertanya kemana arah orang yang dimaksud Soojin itu menarik Sojung, tapi untungnya Kim Soojin sempat sedikit berteriak untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang Seokjin lupakan itu. "Ke arah ruang tunggu siar para staff, Kim Seokjin."
―Unspoken―
"Apa lagi ini?" Sojung bertanya usai tangannya dilepaskan dan dirinya disudutkan. "Kau tahu kalau kau sudah berlaku tidak sopan padaku, Cho Seowoo? Kau semakin kurang ajar padaku."
Seowoo tertawa, tawanya terdengar begitu meremehkan, dia bahkan sengaja menatap Sojung begitu. "Apa peduliku? Kau bilang hak setiap manusia sama. Jadi kenapa aku tidak boleh bertindak tidak sopan padamu? Memangnya kau bersikap sopan padaku?"
Sojung ikut mendecih, lalu tertawa membalas Seowoo. "Benar juga. Pikiranmu terlalu sempit untuk tahu akan itu. Kau hanya menangkap bahwa hak setiap manusia sama, tanpa mengindahkan bahwa itu artinya sesama manusia harus saling menghargai."
"Kau benar-benar perempuan ular," tuduh Seowoo. Matanya menatap tajam ke arah Sojung, menyampaikan sirat kebenciannya pada wanita itu. "Kau bekerjasama dengan Petinggi Jo untuk mengalahkan aku, 'kan? Kau memintanya mencari bukti bahwa aku tidak ikut serta menyelesaikan kasus ITBC, lalu membuatku tersudutkan saat sidang berlangsung."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken
Fanfiction#1 ― bangchin #1 ― politik Im Sojung, adalah putri tunggal dari pasangan Im Sohyeong dan Jeong Namra. Im Sohyeong sendiri adalah pimpinan perusahaan penyiaran nomor satu di Korea Selatan. Im Sohyeong juga merupakan putra pertama orang nomor satu di...
