"I z h a r."
Bagai tertusuk pedang kala itu. Perih. Hatiku begitu perih, Allah. Tidakkah Izhar mengingat janjinya dahulu? Yang ingin menjadi lelaki pertama mengkhitbahku?
Oh Allah...
Mengapa Kau karuniakan aku wanita yang begitu bodoh dalam perihal cinta?
Jika memang tujuannya ingin mempermainkan seorang wanita, lantas mengapa harus aku yang menjadi korbannya?
Tesss
Tanpa aku sadari satu tetes butiran bening berhasil luruh membasahi wajahku. Mendapati tatapan Izhar yang menjurus mengarahku diiringi senyum merekah, membuat rasa sesak itu bak menjalar di dadaku. Bahkan, tanpa mempedulikan rasa sakitku Izhar justru dengan mantapnya mengucap akad dihadapanku.
Ya, akad yang bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang 'pernah patah' dalam mencintainya.
"Ada apa, Kay? Kau... kau menangis?"
Seakan mampu menarikku keluar dari dimensi lain. Kini, suara dan sentuhan dibahuku seolah membuat ruang sadarku kembali. Innalillah ternyata itu hanya ilusiku saja.
Setelah menyadari apa yang baru saja terjadi, dengan cepat aku menyeka butiran bening itu. Berusaha bersikap tenang seperti biasanya. Berharap tak ada kecurigaan yang menyelimuti Hasna.
"Ah tidak! A... aku hanya membayangkan bagaimana jika pernikahan ini terjadi padaku," alibiku diiringi lengkungan tipis.
"Lantas, pertanyaan yang hendak kau ajukan...?"
Kedua alis Hasna nampak terangkat. Sepertinya ia pun sudah tak mempermasalahkan peristiwa beberapa detik yang lalu. Namun, mendengar perkataannya, entah mengapa, seolah menyimpan penasaran tinggi di dalamnya.
Sesaat aku dibuat berpikir kembali. Apakah ada benarnya mempertanyakan perihal Izhar padanya, Allah?
Seperti slide dalam layar lebar. Bayangan dimana Izhar berjalan dengan melati yang mengalung di lehernya, juga senyum merekahnya saat mengucap akad dihadapanku, membuat keraguan untuk mengutarakannya seperti mengikis begitu saja.
Ya. Sebelum kenyataan pahit itu terjadi, alangkah baiknya aku mempertanyakan perihal Izhar padanya.
"A... aku..."
Sembari mencengkram erat tasbih itu, wajahku berubah merunduk. Entah mengapa, Allah, rasanya lidahku begitu kelu untuk sekedar mengatakannya. Bahkan, sekalipun ruangan ini bernuansa megah, aku seperti kehilangan pemasok oksigen.
Untuk sesaat aku menarik nafasku. Hingga dirasa oksigen yang kuhirup lebih dari kata cukup, perlahan aku pun menghembuskannya. Lalu sebagai penguat hatiku untuk melontarkan kalimat, tak lupa aku pun mengucap basmalah.
"Aku..."
"Lihat, Kay! Pengantin pria sudah tiba."
"Tak ada momen paling indah. Aku akan mengabadikannya dalam ponselku."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, suara heboh Hasna kembali berdenging di telingaku. Lagi, dengan teriakan histeris lainnya yang ikut berpadu, tak ayal membuatku pun ikut mengangkat wajahku.
Cekrekkk
Tepat bersamaan dengan munculnya kilatan kamera ponsel, aku bisa merasakan tubuhku seperti tersambar petir kala itu. Tak hanya itu, tulang-tulang yang menjadi penopang tubuhku, kini seakan meluruh satu per satu.
"I z h a r."
Deggg
Layaknya ingatanku dibuat mundur pada peristiwa beberapa menit yang lalu. Bahkan, otakku tak segan mencerna setiap inci peristiwa yang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
