Setelah perdebatan panjang karena aku yang tak ingin memenuhi isi perutku, alhasil aku pun terpaksa menuruti keinginan Mas Davin. Sementara Mas Davin, tak perlu ditanya. Meski wajahku merunduk, aku bisa memastikan ia sudah tersenyum puas.
"Kay."
"Kayla."
Memilih tak mengubrisnya, aku tetap bertahan dengan posisiku. Biarkan saja rasa bersalah itu menyelimutinya. Toh, ini memang tak sesuai kesepakatan yang ada.
Saat di perjalanan, Mas Davin hanya memintaku untuk menemaninya mengisi rasa lapar. Namun, hal itu justru berbanding terbalik setelah kami sampai di tempat.
Meski beribu penolakan telah aku lontarkan dengan alibi perutku yang masih kenyang, rupanya Mas Davin lebih dulu menyadari kebohonganku. Dengan berdalih tak ingin aku jatuh sakit, mau tak mau aku pun menerima ajakannya.
"Sayang."
Seakan mampu melunakkan hatiku yang semula diselimuti amarah, aku bisa merasakan desiran hebat itu menjalar di tubuhku. Bahkan, hawa panas tak kalah membaur menjadi satu, saat sesuatu hangat menyentuh bagian daguku.
Perlakuan Mas Davin yang menuntun wajahku agar lebih sejajar dengannya, menjadikan seluruh akses tubuhku seolah terkunci saat netra kami beradu.
"Marah sama aku?"
Seiiring hembusan nafasnya menerpa karena jarak wajah kami tak sampai sepuluh centi, aku terus mengepalkan kedua tanganku. Sampai tangannya beralih menyentuh pipiku, kinerja otakku seakan ikut terhenti.
"Kayla?"
Seolah panggilan tersebut bukan lagi menyadarkanku, melihat semua pasang mata sudah tertuju kepada kami dengan beberapanya saling berbisik semakin kuat aku mengepalkan kedua tanganku. Kemudian dengan tangan yang gemetar, kuberanikan menyentuh tangan Mas Davin yang masih bersandar di pipiku.
"Malu, mas."
Sembari menggigit bibir, aku mulai menurunkan tangan Mas Davin. Namun Mas Davin, sepertinya ia masih tak mengerti perkataanku. Tangan kekarnya justru beralih menggenggam erat kedua tanganku.
"Sudah sah. Tidak masalah, bukan?"
Aku menghela nafas pelan, kemudian merundukkan wajahku. Entah, harus bagaimana lagi aku menjelaskannya kepada Mas Davin. Selain mengumbar kemesraan di tempat umum bukan tipeku, rasanya aku tidak ingin jika list dosaku semakin bertambah, karena salah satu dari mereka yang masih melajang menyimpan rasa iri kepadaku.
"Marah sama aku?"
Sembari memejamkan mata, aku berusaha meredam kekesalanku. Apakah kalimat itu patut dipertanyakan kembali?
Namun Mas Davin, dengan sikap keras kepalanya, ia justru menuntun kembali daguku. Membuat netra cokelat kami pun alhasil beradu.
Mendapati sorot matanya yang mendalam diiringi lengkungan tipis di bibirnya, entah mengapa membuat lidahku seketika berubah kelu. Aku sempat ingin berkata jujur, namun kepalaku lebih dulu menggeleng pelan.
"Kay tidak marah, Mas," jelasku, yang tak lama tatapan Mas Davin berubah menelisik.
"Tapi wajahmu tidak bisa berbohong, Kayla."
Dibalik perkataannya yang berhasil membuatku bungkam, otakku masih terus mencerna kalimatnya.
Mengingat sudah berapa kali ini Mas Davin mengetahui isi pikiranku, entah mengapa aku semakin berpikir, jika dibalik profesinya sebagai dokter, sepertinya Mas Davin memiliki keahlian dalam bidang psikolog.
Menyadari sesuatu hangat menggenggam erat kedua tanganku, aku pun memilih merundukkan wajahku.
"Dengar, Kay. Kamu adalah istriku. Semua yang ada pada dirimu itu sudah menjadi tanggungjawabku sepenuhnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
