Davin Pov
Dengan pandangan lurus mengarah jalanan, sesekali aku menggerakkan netra cokelatku menatap wanita disampingku.
Meski keinginan untuk menghabiskan waktu bersama Kayla kembali tertunda. Setidaknya melalui tragedi tersebut cukup sudah menjadi bukti, bahwa dia, wanita yang selama ini kucari.
Sebenarnya aku sendiri pun masih tak menyangka jika peristiwa itu akan terjadi. Bahkan, meski aku tahu lelaki asing itu mendekatinya, aku memilih diam tak bertindak.
Aku sama sekali tak ingin bermaksud melukai hati Kayla. Hanya saja aku ingin lebih memastikan, jika dia benar wanita yang selalu kuselipkan namanya dalam do'a.
Dengan menghela nafas kasar, aku memijit keningku yang mulai terasa pening. Tidak. Bukankah semua bukti yang aku miliki sudah cukup? Lantas, apa yang perlu aku khawatirkan?
Seharusnya aku memang tidak bersikap demikian padanya dan seharusnya aku pun bisa bertindak cepat, tapi—
Cittt
Melihat rambu lalu lintas yang tiba-tiba menampilkan warna merah, aku pun dengan cepat menghentikan laju mobilku.
Sungguh, rasanya terlalu naif jika kekhawatiran itu tak lagi ada di hatiku. Terlebih saat status kami berganti menjadi teman. Meski peluang mendekati Kayla lebih mudah, aku terlalu takut jika Kayla tak mampu menjalankan peran ini, karena hatinya sudah lebih dulu disinggahi perahu lain.
Mungkin ini terdengar berlebihan. Tapi rasanya ketakutan itu tak bisa aku hindari. Dan Davin, ayolah, dirimu harus bisa berpositive thinking. Kayla sudah menjadi milikmu seutuhnya, jangan biarkan siapapun yang mendekatinya.
Menyadari lampu merah berganti hijau, aku pun kembali melajukan mobilku. Meski suara bising jalanan kota kali ini lebih memekakkan telinga, rasanya akan lebih terdengar aneh jika aku menyiakan kesempatan emas ini. berkomunikasi dengan Kayla.
Sesaat kualihkan pandanganku menatap benda yang melingkar pada pergelangan tangan kiriku. Ternyata sudah lima belas menit lamanya aku membiarkan keheningan melanda kami. Dan rasanya itu pun sudah sangat cukup memberi jeda untuk Kayla menenangkan hatinya.
"Kay."
Tak sedikit pun mendengar sahutannya, aku kembali memberanikan diri memanggil namanya.
"Kayla."
Karena lagi-lagi hanya keheningan yang menanggapi, sesaat kualihkan pandanganku menatap Kayla.
Melihat kepalanya yang bersandar dengan mata terpejam, tanpa sadar membuat seulas senyum menghiasi bibirku. Apakah benar Kayla akan menjalankan peran ini? Menjadikanku seorang teman?
Aku menggeleng pelan. Berusaha menepis harapan yang perlahan membukit.
"Kayla."
"Say—"
Belum sempurna kalimat itu meluncur di bibirku, mulutku lebih dulu dibuat bungkam karena serangan kepalanya yang tiba-tiba mendarat di bahuku.
Meski aku senang menggoda Kayla, rasanya mendapat perlakuan yang demikian cukup menciptakan guncangan hebat dihatiku.
Sembari menetralisir irama jantungku, aku mengusap wajah pelan. Kemudian dengan ragu kuberanikan menyentuh kepalanya.
"Kayla."
Tanpa berani menatap wajahnya, aku sedikit mengusap kepalanya lembut. Namun, setelah menyadari tak ada pergerakan yang dilakukan, mau tak mau aku beralih menatapnya.
Guratan wajahnya yang terlihat damai dengan mata yang masih terpejam, membuat lengkungan tipis tanpa sadar terukir di bibirku. Apakah benar Kayla sudah memasuki alam mimpinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomantikCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
