24-Kisah Lalu

46 7 1
                                        

Dengan wajah merunduk, kulangkahkan kakiku mengikuti Mas Davin. Sampai satu per satu anak tangga berhasil terlewati, langkahku refleks terhenti saat Mas Davin menghentikan langkahnya begitu saja.

"Ckkk mengapa aku bisa melupakannya."

Tak lama tubuh Mas Davin berputar menghadapku. Meski aku tak tahu sesuatu apa yang menggandrunginya, namun aku bisa mendapati jelas kekesalan di dalamnya.

"Sepertinya aku melupakan ponselku di mobil."

Langkah Mas Davin yang perlahan menghampiriku membuat jantungku tak kalah berubah abnormal. Sampai pergerakannya hanya menyisakan jarak sepuluh centi dariku, tanganku kian mengepal kuat.

"Aku tinggal sendiri tidak apa, bukan?"

"I... iya, Mas."

Untuk sesaat hanya ada keheningan yang melanda. Meski wajahku dibiarkan merunduk, entah mengapa rasanya tatapan intens itu seperti tak lepas memandangku. Hingga tak lama, aku bisa merasakan sentuhan tangannya mengusap puncak kepalaku.

"Setelah mendapatkannya aku akan kembali."

***

Sembari mengucap basmalah, kuraih knop pintu dihadapanku. Hingga setelah daun pintu berhasil terbuka, perlahan aku melangkah masuk.

Merasa adanya hawa dingin yang teramat menusuk, sesaat aku menghentikan langkahku. Dan benar saja, di sisi tembok kiri terlihat dua AC begitu asyik bekerja.

Apakah sang pemilik lupa mematikannya? atau memang ini disengaja?

Aku menggeleng pelan. Sampai tatapanku tak sengaja jatuh pada rak mini juga satu sofa disampingnya, perlahan aku melangkah menghampirinya.

Dengan tangan kiri yang menyentuh ragu sisi rak, pandanganku menyapu deret buku yang nampak renggang karena sekatan dibagian masingnya. Aku menghela nafas kasar. Dalam tiga susun rak buku tidak lebih di dominasi tentang ilmu kedokteran juga kesehatan. Sementara untuk sisanya, tidak lain mengenai ensiklopedia islam. Itu pun masih dapat kuhitung dengan jari.

Aku memilih mengalihkan pandanganku mengamati sekeliling. Tidak ada hiasan apapun yang terpajang di dinding. Hanya terdapat jam kayu yang menempel di sisi tembok menuju kamar mandi dan juga—

Dengan mata yang berubah menyipit, aku berusaha memperjelas pandanganku saat mendapati sebuah benda persegi yang terpampang di bagian belakang sofa. Tunggu, mengapa aku baru menyadarinya?

Berusaha menahan gemuruh kencang yang ada, perlahan kulangkahkan kakiku menghampirinya. Setelah menatap lamat, perlahan tanganku mengusap pelan.

Dengan gaun putih juga jilbab senada, terlihat wajah itu nampak begitu anggun dilengkapi mahkota di kepalanya. Tak hanya itu, beberapa pernak-pernik pun ikut menghiasi bagian bawah dada. Menjadikannya lebih terlihat seperti putri dalam negeri dongeng.

Aku tersenyum samar. Meski seharusnya pernikahan menjadi simbol suatu kebahagiaan, tak sedikit pun aku menemukan di dalam diri wanita itu. Berbeda dengan lelaki disampingnya. Pembawaannya yang penuh wibawa diiringi senyum khas, terlihat lebih pas dengan beskap yang dikenakannya.

Tanpa aku sadari air mataku luruh begitu saja. Aku begitu ingat bagaimana hasil jepretan itu dapat menjelma menjadi figura. Ya, setelah dimana acara akad selesai, kami memang diminta melakukan sesi foto dengan berbagai pose. Salah satu contohnya sudah dijadikan sebagai hiasan dinding kamar Mas Davin.

"Kayla."

Menyadari panggilan itu, aku pun dengan cepat menyeka air mataku, kemudian memutar tubuhku.

Deggg

Seperti membuat deru nafasku terhenti. Mendapati posisi Mas Davin yang berada di depanku dan hanya menyisakan jeda tak sampai sepuluh centi, perlahan aku mengepalkan kedua tanganku.

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang