Davin Pov
Dengan pandangan menyapu kanan kiri, aku terus membuka lembar demi lembarnya. Hingga tiba pada dua lembar menuju akhir, sebuah ketukan berhasil membuyarkan tingkat fokusku.
Tok Tokk Tokkk
"Masuk."
Meski aku berusaha menjaga fokusku, namun kehadiran pemilik kain hitam yang menjuntai dihadapanku lebih dulu menggantikan objek utama.
"Kayla?"
Seketika dahiku berubah berkerut seiiring pertanyaan mulai memenuhi kepalaku. Pasalnya, selain aku tak pernah meminta Kayla untuk kemari, aku pun tak juga memberitahukan Kayla perihal dimana jelasnya tempatku menggeluti profesiku.
Mungkin ini terdengar aneh bagi kebanyakan, tapi faktanya Kayla sendiri pun tak ingin mengetahui seputar hidupku. Jangankan berharap hal itu, aku mencoba mendekatinya saja, Kayla langsung menghindar.
"Kay kemari... hanya ingin mengantarkan makan siang untuk Mas Davin."
Meski aku memilih diam tak menggubrisnya, namun melihat paper bag dalam genggaman tangan kanannya membuatku tanpa sadar tersenyum simpul. Sepertinya ide Mama patut kuacungi jempol.
"Ma... maaf, jika kedatangan Kay telah mengganggu."
Aku menggeleng pelan. Jika sebelumnya bibirku tersenyum, kali ini aku hanya mampu menahan tawa saat melihat kegugupan Kayla berefek pada paper bag yang digenggamnya bergoyang. Ah, mengapa begitu menggemaskan sekali?
Terlintas bagaimana ide jahil itu singgah di kepalaku, sebisa mungkin aku menampilkan raut datar.
"Hmm. Lalu apakah masih ingin membiarkan makanan itu berubah semakin dingin, hingga berakhir membuatku urung menikmatinya?"
"Kemari, Kay. Duduk lah."
Melihat bagaimana wajah terkejutmya terangkat, aku pun berusaha untuk tidak mengeluarkan tawa. Sebenarnya sendiri tak begitu melakukan hal ini pada Kayla. Namun, mengingat kesempatan tak akan datang untuk kedua kali, rasanya aku tak ingin menyiakan begitu saja.
Seiiring kakinya mulai melangkah, aku masih tak lepas mengamati pergerakannya. Sampai kudapati getaran di tubuhnya, aku pun menggeleng pelan. Apakah wajahku begitu menyeramkan seperti monster?
"I... ini, Mas."
Menyadari posisi Kayla sudah berada dihadapanku dengan tangan kanan yang menyodorkan paper bag, aku pun tak kalah sigap meraihnya.
"Duduk, Kay!"
"Tapi—"
"Aku mohon."
Melihat Kayla yang lagi-lagi menuruti keinginanku, bibirku tersenyum puas. Kemudian dengan sigap aku meraih isi dalam paper bag tersebut.
Karena terdapat dua kotak makan yang berbeda, aku pun memutuskan untuk membuka salah satunya.
Di mulai dari kotak yang warna hijau, aku sudah bersiap membukanya. Namun, karena sebuah suara lebih dulu menyambar, aku pun berakhir mengurungkan niatku.
"Jika begitu Kay izin pamit, Mas."
Sesaat aku dibuat terdiam. Lalu setelah menyadari maksud tangan kanannya terulur di depan wajahku, aku pun menghela nafas kasar.
"Aku belum menikmatinya, Kay. Temani aku sebentar ya?"
"Tapi, Mas, jika ada yang melihat ba—"
Melihat rona pipi Kayla yang berubah memerah, setelah aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya, tanpa sadar membuat bibirku tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
