Seketika suasana berubah semakin menegang. Bahkan, keringat dingin tak segan membanjiri tubuhku. Pasalnya, kini bukan hanya aku yang dimintai Mas Davin untuk menemuinya, tapi Ayah, Ibu, Bang Rafka dan kedua orangtuanya pun sudah turut memutari brangkarnya.
Sembari menggigit bibir bawah, sebisa mungkin aku merapalkan do'a kepada Sang Rabb. Mengingat pembicaraan dengan Bang Rafka sebelumnya akan ada sesuatu penting yang Mas Davin bahas, tak dipungkiri membuat gusar itu menyelimutiku.
Tentang perjodohan kah? Entahlah, aku pun tak mengetahuinya.
"Kayla."
Meski terdengar lirih, namun suara itu cukup membuat detak jantungku yang semula abnormal seketika berhenti berdetak.
Dengan ragu, aku mengangkat wajahku. Namun, belum sampai netra cokelat kami bertemu, seulas senyum di bibir Mas Davin membuat tubuhku lebih dulu menegang.
Tak ingin semakin dibuat tak karuan, aku memilih merundukkan wajahku. Begitu pula dengan Mas Davin, yang terlihat tatapannya sudah beralih menatap langit-langit ruangan.
"Sebelumnya aku tak menyangka, jika kita akan di pertemukan kembali dengan cara seperti ini."
Diam.
Sembari meremas kuat gamisku, aku berusaha menahan sesak yang kian menghantam dada. Bahkan, Allah, apakah Mas Davin juga akan menyalahkanku atas musibah ini?
"Aku tahu mungkin ini akan terdengar egois olehmu, Kay."
"Karena pada kenyataannya aku memang bukanlah Ali, yang pandai menjaga rasa disaat cinta itu bergejolak semakin nyata."
Deggg
Bersamaan aku mengangkat wajah, aku bisa melihat ujung tatapan itu meloloskan air mata.
Sedari awal aku memang sudah menduga jika Mas Davin akan menerima perjodohan ini. Tapi mendengar kalimatnya yang secara tak langsung merujuk pada isi hatinya, entah mengapa rasanya membuat hatiku perih, Allah.
"Dan... dengan dua keluarga yang menjadi saksi, aku ingin kau mengutarakan janjimu yang sempat tertunda."
"Tentang perjodohan kita."
Meski terdengar pelan, namun kalimat tersebut berhasil membuat tubuhku seketika menegang. Bahkan tak segan membuat benteng pertahananku runtuh.
Bukan. Bukan suatu kebahagiaan yang saat ini aku rasakan, seperti saat wanita lain yang mendapatkan ungkapan cinta dari seorang lelaki, tapi rasa sesak itu, rasanya teramat sesak, Allah.
Aku yang sempat berharap setelah peristiwa ini Mas Davin akan mengakhiri perjodohan tersebut, nyatanya justru berbanding terbalik dengan ekspektasiku.
"In syaa Allah apapun keputusanmu, aku ikhlas menerimanya."
Seakan membuat aliran darahku berhenti. Rasa pening tiba-tiba menyerangku.
Meski sebelumnya aku telah memantapkan jawaban atas istikharahku, tetap saja, rasanya aku tidak benar-benar siap jika masa itu tiba, Allah.
Bagaimana. Bagaimana jika aku tak mampu melakukannya?
"Karena pada kenyataannya aku memang bukanlah Ali, yang pandai menjaga rasa disaat cinta itu bergejolak semakin nyata."
Semakin kuat aku mengepalkan kedua tanganku. Bahkan, dengan bayangan Izhar yang tak kalah andil memenuhi kepalaku, membuat kebimbangan benar-benar menyelimutiku.
Apakah aku begitu tega menodai harapan mereka dengan luka? Tapi bukankah aku juga perlu memikirkan hatiku?
Perlahan kuberanikan netra cokelatku menatap Mas Davin. Kali ini aku akan memilih sejalan dengan hatiku, namun kenyataannya otakku justru menuntun pada garis terbalik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
