Brukkk
Seperti dibuat tersungkur jatuh oleh kenyataan pahit. Bibirku terus meringis mendapati goresan luka pada telapak tanganku. Benar. Rasanya kini bukan hanya perihal hati yang tersakiti, melainkan juga ragaku.
Seakan ingatanku ditarik mundur pada peristiwa beberapa detik lalu, lagi-lagi aku merutuki kebodohanku. Menjadikan luka sebagai teman disaat diri berduka, bukankah itu jauh lebih baik? Daripada mempercayai janji manisnya yang justru berakhir duka?
Dengan butiran bening yang luruh, perlahan aku mengepalkan tangan kananku. Melihat warna merah berpadu goresan itu—sungguh Allah, rasanya aku begitu membenci takdir ini.
"Kayla?"
Semakin kuat aku mengepalkan tangan kananku. Berusaha menahan guncangan hebat yang kembali menghantam.
Meski suara itu beradu dengan rintik hujan, namun aku bisa menangkap jelas bagaimana kalimat itu merambat di telingaku. Hingga tanpa aku sadari tangan kiriku ikut mengepal kuat.
Karena butiran bening yang juga menghalangi pandanganku, aku terus mengerjapkan kedua mataku. Meski sedikit terlihat samar, namun aku bisa mendapati jelas wajahnya yang berlindung di bawah payung hitam yang digenggamnya.
Seakan menjadi tirai yang memperlihatkan slide demi slide peristiwa bersejarah itu, aku bisa merasakan hembusan angin syahdu yang menerpa berubah kencang. Menghantam dada. Menyisakan rasa perih pada hati yang pernah dibuatnya patah.
Demi Allah, aku merasa tercurangi akan hal ini, Allah. Bahkan, disaat cinta tidak lebih dari kata dusta, lantas untuk apa jika aku mempercayai cinta itu ada?
Dengan butiran bening yang kembali luruh, semakin kuat aku mengepalkan kedua tanganku. Kemudian dengan sisa tenaga yang aku miliki, tubuhku terus dibiarkan memberontak, lalu kembali melangkah. Melangkah dengan sejuta hati yang patah.
Namun, berbeda dengan lelaki tersebut. Yang hanya menatap hampa kepergian wanita itu disela pertanyaan-pertanyaan menggelayuti pikirannya.
Sesaat ia menghela nafas kasar. Melihat warna langit yang semakin kelabu diiringi petir yang menggelegar, terbesit di hatinya ingin mengejar wanita yang dicintainya. Namun lagi-lagi otaknya justru berada tak sejalan.
Ia sempat terdiam, membiarkan hati dan otaknya bergulat. Hingga akhirnya, ia pun memilih untuk meluruskan niat awalnya.
Baru saja ia bersiap melangkah, netranya yang tak sengaja menangkap sebuah benda yang tergeletak di depan sepatu hitamnya membuat niatnya urung.
Meski sempat terdapat keraguan yang ada, ia tetap mengulurkan tangan kekarnya meraih benda tersebut.
Sebuah tasbih?
Seketika kedua alisnya berubah menaut, namun beberapa detik setelahnya bibir tipisnya terangkat membentuk senyum yang sulit diartikan.
💔💔💔
Sembari menyeka air mata, kakiku terus dibiarkan melangkah. Bahkan, disaat semua orang lebih memilih pergi untuk mencari tempat perlindungan karena derasnya hujan atau sekedar menikmati teh hangat di sebuah Kedai, langkahku justru menuntun tubuhku pada sebuah taman. Hingga tiba pada kursi panjang kayu, tak segan aku hempaskan tubuhku terduduk.
Sepertinya langit pun ikut berkabung atas musibah cinta yang aku alami. Terlihat bentangannya berubah pekat diiringi petir yang menggelegar. Menambah kesan buruk bagi siapa saja yang melihatnya.
Dengan nafas memburu, aku membuka tas ranselku. Hingga dengan gemetar, kuulurkan tanganku meraih benda bersampul cokelat di dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernah Patah
RomanceCerita dalam proses revisi. •••••• Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku nanti saat melihatmu mengucapkan akad dihadapanku, namun bukan diperuntukkan untukku. Wanita yang "Pernah Patah" dalam mencintaimu. 16/02/2019
