23-Kepindahan dan Sambutan

44 6 0
                                        

Setelah memastikan tak lagi ada barang yang tertinggal, kulangkahkan kakiku menuju nakas yang terletak di samping tempat tidurku.

Meski pelan, namun aku bisa merasakan energi listrik yang mulai menjalar cepat saat tanganku bergerak menarik laci nomer urut dua. Sampai di dalamnya menampilkan sebuah benda bersampul cokelat, guncangan hebat seakan kembali menyerang tubuhku.

Layaknya slide dalam layar lebar. Seiiring tanganku terulur berniat meraihnya, kepingan demi kepingan peristiwa kian berputar di otakku. Namun, karena sebuah suara lebih dulu merambat, aku pun memilih menutup kembali laci tersebut.

"Kayla."

Dengan tubuh yang sudah berputar menatap Mas Davin, terlihat senyum Mas Davin mengembang di ambang pintu. Dan tak lama, derap kakinya menghentak menghampiriku.

Menyadari langkah Mas Davin yang mendekat, aku pun memundurkan tubuhku. Namun, karena di belakangku terdapat nakas, menjadikan pinggangku berakhir berbenturan.

Berusaha untuk tidak meringis, aku mengepalkan kedua tanganku. Sementara dengan jarak satu langkah dari posisiku, Mas Davin sudah menghentikan langkahnya.

"Sudah siap?"

Sembari meremas gamisku, aku tersenyum kikuk. Entah mengapa, semenjak tragedi memalukan kemarin, rasanya aku benar-benar tak sanggup menampakkan wajahku dihadapan Mas Davin.

Meski Mas Davin sendiri tak mempermasalahkan hal itu, tetap saja aku masih tak bisa melupakannya. Bahkan, guna menghindari rasa malu itu, aku lebih memilih menghindari Mas Davin.

"Ayah dan Ibu sudah menunggu, ayo!" jelas Mas Davin dengan tangan kanan yang terulur di depan wajahku.

Mengingat begitu banyak kebaikan yang diberikan Mas Davin kepadaku, sebenarnya aku sendiri pun tak tega untuk menolak permintaan itu. Namun, karena benda itu jauh lebih penting dari segalanya, aku terpaksa menyuarakan kalimatku.

"Sepertinya... Kay telah melupakan sesuatu."

"Mmm.... Mas Davin duluan saja. Setelah selesai, Kay akan menyusul," tambahku diiringi senyum kikuk.

Sementara Mas Davin, dengan senyum yang tak kalah menghiasi bibirnya, tangannya justru bergerak mengusap puncak kepalaku.

"Aku tunggu di bawah ya."

Meski Mas Davin sudah beranjak, aku tak lepas mengamati pergerakannya. Sampai langkah Mas Davin terlihat menghampiri koperku, aku pun sontak menegakkan tubuhku.

"Biarkan Kay saja yang membawanya, Mas." ucapku, membuat Mas Davin memutar tubuhnya menatapaku. Tersenyum kecil.

"Aku saja."

Dan tak membutuhkan waktu lama, Mas Davin sudah menghilang dari pandanganku. Sementara aku yang tak ingin menyiakan kesempatan emas ini bergegas menghampiri nakas dan meraih benda yang menjadi alasan utamaku.

Sebelum memasukkannya ke dalam tas selempang, aku sempat menatapnya lamat. Meski aku sendiri tak mengetahui siapa yang menjadi ketetapan takdirku, rasanya aku begitu yakin, jika esok hari aku akan kembali dipertemukan oleh sosoknya.

💔💔💔

Karena tak mampu membendung kesedihan yang ada, aku menghambur dalam pelukan Ibu. Meski pernikahanku sudah berjalan beberapa hari, rasanya ini masih seperti mimpi bagiku. Terlebih saat takdir membawa pada kenyataan pahit, bahwa bukan Izhar lah yang menjadi imam dalam hidupku.

"Bagaimana, Nak Davin, sudah tidak ada yang tertinggal?"

"Tidak ada, Ayah."

Menyadari kedatangan Mas Davin, aku pun dengan cepat menyeka air mataku, kemudian menjauhkan tubuhku dari pelukan Ibu. Sementara disisi lain, terlihat Ayah mulai menghampiri Mas Davin dan menepuk bahunya pelan.

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang