42-Bukan Sebuah Akhir

31 1 0
                                        

"Aku telah jatuh hati padamu."

Seakan menjadikan dersik angin tiada lagi berhembus. Bahkan, dengan netra yang memanas. Butiran bening kian sudah mengganjal di kelopak mataku.

Entah. Haruskah dalam hal ini aku bahagia Allah, ataukah terluka? Sementara disisi lain, rasanya terlalu naif jika ketakutan itu tak benar adanya, Allah.

Mungkin benar jika keraguan ini telah berakhir sirna, berganti dengan kemantapan hati. Namun, mengingat kembali terdapat sosoknya yang juga teramat mencintainya. Tak bisa membohongi, untuk perih itu bak mengiris hatiku, Allah.

"Ta... tapi bagaimana dengan Dokter Nadia, Mas?" ucapku, tak lama dahinya nampak berkerut.

"Dokter Nadia?"

Menggigit bibir. Perlahan, aku pun merundukkan wajahku. Tidak! Bukannya aku berniat ingin menggores kebahagiaan malam ini. Hanya saja, bukankah sikap antisipasi itu perlu adanya? Terlebih, saat mengingat pertemanan keduanya terjalin cukup lama.

Namun, Davin—bukannya membalas akan perkataanku. Kini, tangan kanannya justru kembali menuntun daguku. Sementara tangan kirinya masih dibiarkan menggenggam kedua tanganku.

"Cemburu padanya, hmm?"

Berusaha menahan deru nafas. Entah mengapa, lidahku bak begitu kelu untuk sekedar menyangkalnya. Terlebih, saat pergerakannya berganti mengusap puncak kepalaku yang terbalut hijab. Sungguh, menjadikan desiran halus itu seakan merambat cepat di tubuhku.

"Dia hanya ku anggap sebagai sahabat. Tak lebih," ucapnya, namun meski begitu tak memungkiri untukku yang sedikit tak puas mendapati jawabannya, berusaha menggerakkan bibir.

"Ta... tapi, Mas—"

"Hmm? Kenapa, sayang?"

Memilih menarik nafas sejenak. Aku berusaha menetralisir detak jantungku. Hingga dengan ragu, aku pun kembali menggerakkan bibirku

"Ba... bagaimana jika dokter Nadia beranggapan hal lain?" ucapku, membuat sudut bibirnya kian terangkat. Tak lama, tangannya yang semula bersandar pada kepalaku. Tak segan, kembali menggenggam tanganku, sembari menggeleng pelan.

"Tidak akan. Karena aku hanya mencintaimu."

"Dan hanya akan menjadi milikmu."

Seakan mampu menjadikan kupu-kupu itu tiada henti berterbangan. Bahkan, karena bahagianya, membuatku kini tak menyadari sudut bibirku kian terangkat ke atas.

Sungguh, Allah... harus dengan cara seperti apa aku mengutarakan puji syukur pada-Mu. Bahkan, skenario yang semula aku anggap buruk, Kau justru menjadikannya berakhir begitu indah.

"Zahra."

"Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan Zahra?"

Meski sejenak dibuat tertegun. Namun, setelah menyadari panggilan tersebut tak lain panggilanku selama  duduk di bangku menengah pertama. Tak segan, membuat bibirku kembali melengkung. Hingga setelahnya, aku pun bisa merasakan deru nafas hangatnya semakin menyapu wajahku, dan—

Cupp

💔💔💔

Pusara waktu kian bergulir begitu cepat. Aku tak menyangka, jika dalam patah terbesarku justru menuntunku pada keabadian cinta sesungguhnya.

Berbagai air mata dan duka, kini telah mengikis sudah. Menjadikan bentang kebahagiaan tak terasa terukir sepuluh bulan lamanya.

Aku sangat tahu. Jika sekalipun menjalin  hubungan dengan cinta adanya. Bukan berarti pula menjadi titik akhir daripada semuanya. Namun, Allah... jika pun boleh ku pinta. Sungguh, aku tak ingin dalam bahagia ini, Kau kembali menggoreskan luka.

Pernah Patah Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang